Agri Unggas
01 February 2013
Pembibitan Ayam Super Tumbuh

Kurangnya pasokan telur tetas ayam kampung asli deso mendorong berkembangnya pembibit ayam kampung super

Julukan ‘super’ atau ‘sudah persilangan’ merupakan pengganti dari istilah ‘brekele’, yang merupakan nama ejekan dari pedagang ayam karena warna bulunya yang tak karuan. Kini seiring dengan semakin melangkanya pasokan ayam kampung asli ndeso, peternak ayam super yang merupakan persilangan antara betina layer (ayam ras petelur) dengan pejantan ayam kampung ini bertumbuh di Jogjakarta.

Kondisi ini memanfaatkan kesempatan untuk mengisi kebutuhan ayam kampung yang terus menganga. Eksistensi ayam super ini sempat menarik perhatian Wakil Menteri PertanianRusman Heryawan sehingga menyempatkan diri mengunjungi penetasan Tirto Hartono dan kelompok pembibitan yang bermitra dengannya.

Indikator
Salah satu indikator kelangkaan ayam kampung asli ndeso adalah sulitnya mendapatkan telur tetas ayam kampung. “Sudah 1,5 tahun saya tak mendapat pasokan telur tetas ayam kampung. Karena mesin tetas harus terus terisi kini digantikan telur tetas ayam super,” kata Hartono, pemilik jasa penetasan dan perakitan mesin tetas HTN dari Jogjakarta.

Sampai dengan dua tahun lalu Hartono masih bisa mendapat pasokan 12.000 butir telur ayam kampung dari Jawa Timur. Sesaat sebelum berhenti, pasokan turun hingga 8.000 butir. “Itupun kualitas telurnya buruk karena dipastikan banyak yang lebih umurnya dari 5 hari. Ditambah transportasi dan pola niaga berantai semakin memperparah daya tetasnya,” tuturnya.

Penetasan Ayam Super
Akhirnya dengan terpaksa Hartono memutuskan untuk menetaskan telur ayam super agar semua mesinnya bisa terisi penuh. “Belasan karyawan hidup dari mesin tetas full digital berkapasitas 150 ribu butir itu,” ungkap Hartono.

Untuk mengisi mesin tetasberkapasitas 150 ribu miliknya, Hartono menggunakan 2 model yaitu titip/jasa penetasan dan beli telur tetas. Jasa penetasan dibebani biaya Rp 700/butir telur. Jika telur tetas ayam super dijual, maka oleh Hartono dihargai Rp 1.800 - Rp 1.900 per butir telur fertil. Jumlah telur fertil ditentukan pada peneropongan pertama (5 hari dalam mesin setter). Telur yang tidak fertil dihargai Rp 375/butir. DOC (ayam umur sehari) dijual seharga Rp 4.000 - Rp 4.200/ekor.

Baik untuk jasa penetasan maupun pembelian telur tetas Hartono bermitra dengan peternak dan kelompok peternak pembibit ayam super. “Saya kontrak kerjasama dengan kelompok SMD (Sarjana Masuk Desa) ayam super. Ada yang jual telur, ada yang titip tetas,” terangperakit mesin tetas full digital berteknologiinverter dan pemanas air ini.

Kerjasama ini menguntungkan kedua pihak, karena membuat efisiensi penetasan kelompok lebih tinggi dibanding menetaskan sendiri dengan mesin sederhana. Bagi Hartono, ia mendapat jaminan pasokan telur untuk mengisi mesin tetasnya. “Asal telurnya fertil dan induk sehat, daya tetas pasti di atas 80 %,”tegas Hartono.                                                                                                                                              

Bermunculan Pembibit
TrobosLivestock pun menelusuri keberadaan pembibit ayam super ini, dan ketemulah dengan Kelompok  Peternak Ayam “Cerah”  di Kulon Progo dan “Arum Jaya” di Sleman. Kedua kelompok ini masing-masing didampingi oleh SMDkomoditas ayam lokal.

Agus Wasito – ketua kelompok “Cerah” menyatakan kelompok ini memiliki 300 ekor induk layer dan 40 ekor pejantan kampung. Mereka dikawinkan secara alami dalam kandang koloni berlantai litter, dengan perbandingan 1:7 – 8. “Setiap hari kami mampu memproduksi telur tetas 150 butir, 10% tidak bisa ditetaskan karena retak maupun cacat lainnya,” katanya. Produktivitas induk di kelompok ini tinggal 60% karena menjelang masa afkir. Induk-induk itu berproduksi sejak Maret 2012.

Menurut Sri Hastuti, SMD pendamping kelompok ini menyatakan produksi telur di kelompoknya sekitar 50 – 60% karena sedang awal produksi. “Induk baru berumur 22 minggu,”kata sosok yang akrab dipanggil Tutik ini. Pada periode pemeliharaan sebelumnya(sebelum afkir), produksi telur rata-rata perpekan mencapai 1.400 butir. Telur sejumlah itu hanya 800 butir yang ditetaskan, dan sisanya dijual kiloan sebagai telur konsumsi.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi Februari 2013