Agri Unggas
01 July 2013
Sukorejo, Pusat Layer di Puncak Bukit Kendal

Pemilik layer Sukorejo mayoritas tinggal di Sukorejo sehingga dinamika bisnis layer daerah ini lebih signifikan menggerakkan ekonomi setempat

Sukorejo, kota kecamatan di puncak barisan perbukitan yang berpusat di pegunungan Dieng. Meski sinar matahari mulai terik, sejuk udara tak terangkat dari sentra peternakan layer(ayam petelur) Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah(Jateng)ini.

Letak Sukorejo yang terpencil tak menghalanginya untuk berjaya. Penelusuran data TROBOS Livestockmenunjukkan angka populasi layer yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kendal sebesar 474.980 ekor pada 2012. Kawasan ini menduduki peringkat keempat di Kendal, setelah Patean (587.441ekor) , Limbangan (830.208ekor), dan Boja (659.442ekor).

Menurut Ahmad Sofyan, Ketua Pinsar Unggas Nasional Sukorejo yang wilayah kerjanya meliputi Kabupaten Kendal, Kecamatan Limbangan dan Boja boleh jadi memiliki populasi yang terbesar di Kendal. Tetapi mayoritas pemilik peternakan tidak tinggal di wilayah itu. “Justru kebanyakan orang Semarang,” tandas pemilik peternakandan distribusi telur berbendera PD Balebat ini. Sedangkan pemilik layer Sukorejo mayoritas tinggal di Sukorejo pula. Sehingga dinamika bisnis layer daerah ini lebih signifikan menggerakkan ekonomi setempat.

Produksi dan Pasar
Sukorejo memang kota kecamatan. Tapi populasi layer-nya mencapai 500 ribu ekor, dengan jumlah peternak sekitar 130 orang. Dengan populasi itu, kata Ahmad Sofyan, Sukorejo membukukan produksi telur 25 ton perhari, atau seperlima dari produksi total telur Kendal yang mencapai 125 ton per hari. Angka produksi versi lapangan yang dikemukakan Sofyan berbeda cukup mencolok dengan rilis BPS yang hanya setara produksi 9 ton perhari.

Sofyan menyatakan, peternak Sukorejo rata-rata memasarkan telurnya melalui pedagang perantara (pengepul). Dari pengepul telur didistribusikan ke pasar lokal Kendal, Weleri, dan Parakan sebesar 25%. “Sekitar 40% dikirim ke Jawa Barat, dan sisanya disebar di kota-kota besar Jateng,” sebut kandidat doktor Universitas Diponegoro ini.

Melindungi bisnis para anggotanya, Pinsar Sukorejo menyebarkan harga referensi setiap hari berdasar pengamatan stok dan pasar setempat maupun daerah lain. “Peternak harus melek harga, dan bisa membaca pergerakan harga di berbagai kota agar tidak lagi jadi korban,” tegasnya.

Peternak Skala Kecil
Sofyan menyatakan, populasi tiap peternak di Sukorejo sangat bervariasi. “Populasi di bawah 1.000-5.000 ekor masih banyak dijumpai di sini mencapai 50-60% dari total peternak. Namun yang di atas 100 ribu juga ada,” ungkapnya.

Melengkapi gambaran tingkat kepemilikan tiap peternak itu,Aziz Jazim Hamidi, pengurus Pinsar Sukorejo yang tinggal di Desa Pucak Wangi – Sukorejo menyatakan, didesanya terdapat 12 orang peternak. “Ada 2 pemilik populasi di atas 10 ribu, 8 peternak skala 2-10 ribu, dan 2 orang memiliki 1.500,” sebut peternak yang mengaku memiliki 4.000 ekor layer ini.

Menurut Aziz, peternak yang memiliki populasi di bawah 5.000 ekor sangat jarang tersentuh oleh layanan dari pabrik obat maupun pakan melalui petugas technical service. “Mereka sangat tergantung pada PS (poultry shop), tidak kuat manajemen usaha maupun teknik beternaknya,” tuturnya.

Selain itu, menurut Sofyan ketiadaan modal membuat mereka terpaksa berutang pakan dan dibayar dengan telur. Hal ini membuat mereka rentan jadi korban ‘manipulasi’ harga sapronak dan harga telur.

Aziz menyatakan, kelemahan itu bertambah lengkap dengan absennya manajemen usaha yang benar. Mereka gagal menyisihkan modal pembelian pullet/DOC untuk periode berikutnya, sehingga biasanya setiap periode populasi mereka selalu menyusut.

Efek Informasi
Informasi harga yang tersebar secara massif dipelopori oleh Pinsar Sukorejo mulai menggugah peternak layer skala kecil untuk lebih proaktif. Aziz menyatakan, mereka mulai mengakses sendiri harga referensi kepada pihak yang mereka percayai. “Peternak Pucak Wangi biasanya mengacu harga ke Pusaka Farm – Kendal,” terangnya.

Keadaan itu, kata Aziz, tak selalu ditanggapi baik oleh para pihak yang memiliki kepentingan bisnis telur di Sukorejo. “Ada pihak yang masih sulit untuk bersatu ke Pinsar, termasuk di Kelurahan Pucak Wangi dan Pageruyung ini,” sesalnya. Menurut analisanya, ada beberapa pihak yang merasa dirugikan dengan keterbukaan informasi itu.

Padahal, menurut Aziz, di Pinsar tidak hanya melulu membahas harga dan strategi pasar. “Saya sendiri mendapat banyak pengetahuan teknik beternak. Sebab Pinsar sering mengundang untuk penyuluhan, dengan narasumber dari pabrik pakan maupun obat,”terangnya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi Juli 2013