Berita & Peristiwa
01 May 2012
Perketat Pengawasan Peredaran Benih Sidat

Sukabumi (TROBOS). Indonesia menjadi salah satu pengekspor ikan sidat (sejenis belut) selain China, Amerika, dan negara–negara Eropa. Tapi sejauh ini Indonesia maupun negara lain belum memiliki teknologi untuk pembenihan sidat, masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam. Untuk itu Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebijakto mengimbau kepada masyarakat dalam menjaga kelestarian sidat agar jangan menangkap sidat diatas 500 gram. Selain itu, pemerintah daerah setempat harus membuat peraturan bahwa orang menangkap dari alam harus dibudidayakan tidak boleh langsung dijual. “Sidat yang berukuran diatas 30 cm itu baru boleh dijual,” ungkapnya.

Selain itu, terkait ekspor benih ilegal, Slamet menegaskan tidak boleh ekspor sidat jenis elver dan glass eel karena sudah ada Peraturan Menteri yang mengatur pelarangan ekspor benih sidat. Iamerespons hal tersebut dengan menerjunkan tim untuk mengevaluasi dan mengawasi ke lapangan mengenai kebenaran ekspor benih sidat ilegal.

Ia merinciekspor yang dilarang adalah benih-benih sidat yang berukuran panjang 30 dan diameternya minimal 2,5 cm serta beratnya sekitar 100gram. Untuk itulah, pihaknya akan bersinergi dengan Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) dalam mengawasi peredaran penjualan sidat ilegal.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Mei 2012