Berita & Peristiwa
20 February 2013
Kematian Ikan Terparah Upwelling di Waduk Jatiluhur

Jumlah keramba jaring apung di Waduk Jatiluhurmencapai 21.000 unit, sementara daya dukung perairan untuk budidaya hanya 5.980 ton ikan per tahun atau setara dengan 2.300 unit keramba jaring apung

Awal tahun ketenangan para pembudidaya ikan di Waduk Jatiluhur Purwakarta Jawa Barat terusik ketika umbalan menyerang KJA (Keramba Jaring Apung) milik mereka. Umbalan atau upwelling adalah peristiwa alam terjadinya pengadukan atau pembalikan air dari lapisan bawah naik ke permukaan dan sebaliknya.

Yang membuat para pembudidaya terpukul tidak lain dampak kematian ikanyang berlangsung secara bertahap selama 10 hari (8 – 18 Januari2013). Dari informasi para pembudidaya setempat, kejadian berawal dari zonasi 5 dan merembet ke zonasi 4, 3, 2, dan 1, sampai mematikan semua ikan budidaya yang didominasi ikan mas dan nila milik sekitar 1.521 pembudidaya.

Pada waktu kejadian, KJA milik pembudidaya umumnya sedang diisi penuh. Sedangkan ikan yang selamat yaitu ikan patin karena bisa bertahan dalam kondisi air yang rendah oksigen.Tidak hanya ikan yang berada di dalam KJA, ikan diluar KJA pun ikut mati. Selama terjadinya peristiwa itu, ikan–ikan yang mati tampak mengambang di seluruh permukaan air waduk. Kondisi air berwarna putih seperti air cucian beras. Bu bangkai ikan pun tidak terhindarkan.

Kematian ikan dalam peristiwa itu diprediksi sekitar 1.500 ton. Bahkan sumber lain memprediksi kematian ikan mencapai 1.700 – 2.000 ton. Jika angka itu dikalikan dengan harga ikanrata-rata Rp 15.000 per kg maka kerugian ditaksir mencapai Rp 30 miliar. Sedangkan perputaran uang di waduk Jatiluhur diprediksi hanya mencapai Rp 2 – 3 miliar per hari.

Kerugian
Kerugian untuk satu kelompok saja seperti kelompok pembudidaya ikan KJA BKR di yang berada di zonasi 5 cukup besar. Dari 201 anggota dengan total KJA 1.890 petak, kematian ikan budidaya mereka yang didominasi ikan mas dan nila sekitar 500 ton dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 8,7 miliar.

Hendrik, sekretaris kelompok pembudidaya ikan KJA BKR di daerah Cibinong Jatiluhur mengaku pasrah dengan kejadian ini. “Sebenarnya, para pembudidaya sudah tahu tanda–tanda terjadinya umbalan dan setiap tahun kemungkinannya bisa terjadi. Namun, umumnya kami terlena dan terlalu ambisi karena harga ikan sedang bagus,” sesalnya kepada TrobosAqua.

Pemilik 12 petak KJA ini mengalami kerugian sekitar Rp 60 juta. KJA dalam kondisi penuh ikan mas berumur 2 bulan dari tebar benih 1 ton. “Pakan sudah habis 4 kuintal dan umur ikan masih tanggung karena kalau pakan sudah habis 1 ton, ikan baru bisa dipanen,” keluhnya.   

Pria yang baru2 tahun menjadi pembudidaya ikan ini menambahkan, ketika umbalan terjadi ia hanyabisamenyaksikan perlahan–lahan ikan peliharaannya mati. “Ikan mau dipindah juga repot sudah karena perlu biaya. Mau dijual juga ikan masih tanggung dan harus mencari yang masuk ukuran pasar dan harganya pasti murah,” katanya.

Terparah
Kejadian umbalan di awal tahunini menjadidinilai para pembudidaya merukana yang terarah sepanjang sejarah terjadinya kematian ikan di Waduk Jatiluhur. Peristiwa kematian ikan secara massal pertama terjadi pada1996 yang berlangsung hanya 3 hari dan menyebabkan kematian ikan mencapai 1.560 ton. Lalu pada 2003 dengan kematian ikan sebanyak 1.440 ton, 2006 kematian ikan sebanyak 540 ton, 2007 kematian ikan sebanyak 758 ton, dan 2008 kematian ikan sebanyak 50 ton.

Berdasarkan hasil pengkajian dari BP2KSI (Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan) Jatiluhur, peristiwa umbalan ini terjadi akibat cuaca ekstrim berupa mendung dan hujan yang terjadi secara terus menerus. Hal itu menyebabkan tidak terjadinya proses fotosintesis untuk memproduksi oksigen. Suhu permukaan air waduk (26 – 27 0C) jauh lebih rendah dari lapisan air di bawahnya (suhu kedalaman air 2 meter sekitar 29 – 30 0C) sehingga memicu timbulnya umbalan.

Dalam peristiwa itu, kandungan oksigen terlarut di lapisan air yang lebih dalam dari 3 meter berkurang. Ikan yang kekurangan oksigen akan mati lemas dimulai dari ikan berukuran besar diikuti yang kecil. Oksigen yang tersedia pun justru digunakan untuk dekomposisi bahan organik yang tinggi berupa sisa pakan dan kotoran ikan (16.000 ton per tahun) dan limbah lain yang terbuang dari Waduk Cirata dan masuk ke waduk Jatiluhur (48.000 ton per tahun).

Faktor lain yang mendorong terjadinya  umbalanadalah jumlah KJA yang mencapai 21.000 unit yang melebihi ambang batas daya dukung perairan. Padahal daya dukung perairan untuk budidaya KJA di Waduk Jatiluhur hanya 5.980 ton ikan per tahun atau setara dengan 2.300 unit KJA jika 1 unit KJA berisi ikanrata-ratasebanyak 2,6 ton per tahun.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 15 Februari -14 Maret 2013