Hilir
01 September 2008
Fillet Lele: Membalik Nasib Lele ?Bapukan?

Nilai jual lele ukuran gede yang sangat rendah disiasati dengan menjadikannya fillet. Hasilnya? Menggiurkan.

Siapa bilang ikan lele ukuran gede (over size) tak laku dijual. Dengan mengolahnya menjadi fillet, ikan lele yang lazim disebut ?bapukan? ini laku dipasarkan, bahkan memberikan keuntungan yang cukup menggiurkan. Setidaknya ini yang dirasakan oleh H Carmin Iswahyudi, salah  satu pembudidaya dan pedagang lele terbesar di kecamatan Losarang-Indramayu
?Ini merupakan solusi jitu bagi para pembudidaya lele di seluruh tanah air,? ujar pria yang sudah setahun ini berinisiatif mengolah lele bapukan menjadi fillet. Pasalnya, pasar ikan lele ini sangat spesifik, karena sebagian besar ikan lele yang dihasilkan para pembudidaya hanya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan warung pecel lele dan warung tegal yang menghendaki ukuran lele antara 6-12 ekor/kg. Akibatnya, ikan lele yang mencapai ukuran lebih besar dari 6 ekor/kg tak laku dijual. Kalaupun laku, harganya jauh dibawah nilai BEP para pembudidaya. ?Sempat berada pada kisaran Rp 4.000 ? Rp 4.500 per kg,? imbuh Maming, sapaan akrab Carmin Iswahyudi.
Menurutnya, jumlah lele bapukan ini juga cukup melimpah, bisa mencapai 10% dalam tiap siklus produksinya. Bisa dibayangkan, berapa total kerugian yang meski ditanggung oleh para pembudidaya akibat dari banyaknya lele bapukan yang tak laku dijual. Padahal, produksi lele di kecamatan Losarang dapat mencapai 700 ton/bulan. Dengan kata lain, setidaknya ada 70 ton potensi lele bapukan yang dapat diolah menjadi fillet. Kondisi tersebut melatarbelakangi kelompok tani ?Taman Lele? yang dipimpin oleh Maming untuk memproduksi fillet dari ikan lele bapukan. Saat ini kelompok Taman Lele mampu memproduksi 800 - 1000 kg fillet lele tiap bulannya.

Margin yang Signifikan
Untuk menghasilkan daging fillet yang cukup besar, lele bapukan yang berukuran lebih dari 6 ekor/kg harus dibesarkan lagi sampai ukuran 1-2 ekor/kg, dengan waktu budidaya tambahan sekitar 2 bulan. ?Pola budidayanya juga harus intensif, dengan pemberian pakan yang cukup,? ujar Maming. Tapi biaya dan waktu yang harus disediakan itu akan terbayarkan oleh harga jual fillet lele yang mencapai Rp 30.000/kg. Biaya produksi disebutkan Maming berkisar Rp 23.000 ? Rp 25.000 per kg, sehingga keuntungan yang cukup signifikan masih dapat diraup para pembudidaya.
Fillet lele pun memiliki kelebihan rendemen yang cukup besar, berkisar antara 35 - 40%, sedikit lebih besar dari ikan nila yang berkisar 30 ? 35%. ?Tergantung dari orang yang memprosesnya. Kalau sudah mahir rendemennya dapat mencapai 40%,? ujar Maming.
Sementara untuk prospek pasar, Maming mengaku tak pernah merasa khawatir. Menurutnya, harga jual fillet lele yang jauh lebih murah dari harga daging sapi dan kambing menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. Terlebih di saat kondisi ekonomi masyarakat yang sedang sulit seperti sekarang ini. ?Bisa menjadi makanan alternatif yang murah dan sehat,? tandasnya. Selain itu, fillet ikan lele ini juga dapat dijadikan sebagai bahan dasar berbagai macam makanan olahan, seperti sate, ikan goreng tepung dll, tanpa harus melalui proses pengolahan yang rumit dan lama.
Permintaan terhadap produk ini pun terus meningkat. Saat ini fillet produksi kelompok tani Taman Lele sudah banyak diserap oleh warung makan dengan menu khas ikan bakar, yang banyak bertebaran di sepanjang jalur Pantura. ?Kita juga sedang membuat satu outlet pemasaran di Jakarta. Ini untuk membidik pasar para pedagang sate keliling, karena sate fillet lele cukup laku dijual oleh restoran-restoran di sepanjang Pantura Indramayu,? jelas Maming.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi September 2008