Hilir
01 February 2009
Mie Rumput Laut : Menyiasati Gizi dan Gengsi Mie

Mie berbahan dasar rumput laut kaya akan serat dan kandungan gizi lainnya

Daffa mogok makan. Beragam makanan yang ditawarkan pada bocah 5 tahun itu ditolak semua. Si bocah hanya mau makan mie, dalam hal ini mie instan. Tetapi Yuyun, ibunya yang pegawai di salah satu perusahaan obat asing di ibukota, bersikukuh tak mau memberikan makanan tersebut lantaran menganggapnya tidak bergizi dan tidak bagus untuk pencernaan.
Inilah dilema yang dihadapi oleh sebagian besar ibu rumah tangga di tanah air. Bagaimana tidak, mie adalah makanan yang praktis dan lezat sehingga kerap menjadi menu pilihan utama. Namun kandungan gizi makanan yang pertama kali dibuat di daratan China pada 2000 warsa silam saat masa pemerintahan Dinasti Han ini sangat rendah. Tak heran jika makanan ini tidak termasuk dalam jajaran makanan elit.
Kendati demikian tak sedikit masyarakat Indonesia yang tetap menggandrungi mie. Tingkat konsumsinya bahkan merupakan yang terbesar ke dua di dunia setelah China. Bisa jadi kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan status gizi Indonesia nyaris selalu berada di level bawah, jauh di bawah standar. Tetapi fakta miris tersebut tak perlu lagi jadi soal. Sebab kini telah ada mie yang terbuat dari rumput laut, sayur dan ikan. Tak cuma lezat, mie rumput laut ini juga kaya serat dan gizi lainnya sehingga sangat bagus untuk dikonsumsi.

Mie Rumput Laut
Adalah Sunarmi, yang sejak 1996 mengembangkan mie rumput laut. Ketika itu, wanita paruh baya asal Trenggalek, Jatim tersebut mengikuti pelatihan yang digelar Departemen Perikanan dan Kelautan melalui Kantor Perikanan dan Kelautan Pemkot Balikpapan, Kalimantan Timur.
Berbekal keingintahuan yang cukup besar, Sunarmi yang semula hanya diajarkan membuat puding dan brownis dari rumput laut, memodifikasi rumput laut untuk campuran membuat mie bakso. ?Saya mulai mencoba membuat mie dengan campuran sedikit rumput laut, ternyata berhasil dan besoknya saya tambah lagi rumput lautnya, tambah enak,? katanya kepada TROBOS beberapa waktu lalu di Jakarta .
Pembuatan mie rumput laut ini tak jauh beda dengan pembuatan mie lainnya, hanya bahan dasar tepung sebagian diganti dengan rumput laut jenis Eucheuma cottonii.  Caranya, rumput laut kering dibersihkan dari kotoran dengan dicuci berkali-kali sampai bersih dari pasir atau kotorannya lainnya. Kemudian rumput laut direndam dengan air biasa selama tiga hari dan dilakukan penggantian air tiap pagi dan sore.
Setelah tiga hari (warna menjadi putih), rumput laut diblender dan dicampur dengan tepung terigu, kanji, ikan tengiri dan bahan pewarna. Untuk menghasilkan sekilo mie rumput laut, Sunarmi menggunakan bahan-bahan yaitu 300 gram rumput laut, ikan/udang 200 gram (biasanya Sunarmi menggunakan ikan tenggiri karena tekstur dagingnya bagus dan warnanya putih cerah), bahan pewarna alami sekitar 500 gram, tepung terigu maksimal sekitar 500 gram   dan sedikit garam.
?Tepungnya dimasukin sedikit demi sedikit dan tidak perlu dikasih air agar rasa rumput lautnya terasa.? papar Sunarmi. Semua bahan tersebut diaduk sampai kenyal lalu digiling dan ditipiskan berkali-kali (sekitar 10 kali penipisan). Setelah itu barulah adonan dicetak menjadi mie lalu dimasukkan ke air mendidih dan direbus sampai matang.  ?Enaknya sih, kalau mie sudah jadi langsung direbus. Tapi kalau mau awet bisa dimasukin kulkas dulu baru direbus.?
Pembuatan mie ini biasanya menggunakan mesin penggilingan pasta untuk menggiling dan menipiskan adonan, namun Sunarmi melalukannya secara manual. ??Kalau bikin adonan mie jangan pakai perasaan, kalau perlu sambil marah biar adonannya bagus dan cepat jadi,? ujar Sunarmi.
Sebagai bahan pewarnanya, Sunarmi menggunakan sayur-sayuran. Antara lain sawi untuk memberikan warna hijau, wortel untuk menghasilkan warna oranye, kentang untuk warna kuning dan ubi untuk memberikan warna ungu. Tak cuma itu, mie rumput laut Sunarmi juga tak menggunakan bahan pengawet sehingga tidak berbahaya bagi kesehatan. Mie ini bisa tahan disimpan sampai 3 hari.

Tergantung Pesanan
Mie rumput laut ala Sunarmi ini dijual Rp 20 ribu per kilo atau dua kali lipat harga mie biasa. Sementara bahan baku rumput laut harganya mencapai Rp 14 sampai Rp 25 per kilo. Tiap hari, Sunarmi rata-rata bisa menjual 2 sampai 3 kilo mie rumput laut, tergantung pesanan. Perempuan yang mengaku tak pernah mengenyam pendidikan ini ingin tetap mempertahankan kualitas mie rumput laut buatannya sehingga dia tidak membuat mie secara massal. ?Kalau bikin banyak, berarti harus disimpan di kulkas. Kalau disimpan di kulkas, biasanya mie akan berubah rasa,? katanya.
Pelanggan  Sunarmi adalah penjual mie bakso yang mangkal di sekitar tempat tinggalnya di Manggar Baru, Balikpapan, Kaltim. Selain itu, perempuan yang sudah bekerja sejak umur 10 tahun ini juga menjual sendiri mie bakso rumput laut dengan harga Rp 8 ribu per mangkok. ?Biasanya kami mendapat pesanan dari Samarinda,? ungkap ibu beranak empat yang sudah mengantongi berbagai penghargaan dari usaha kerja kerasnya membuat kreasi dari mie rumput laut.
Dalam sehari, Sunarmi yang telah ditinggal suaminya meninggal pada 2005 ini, menghabiskan sebanyak 2 kg rumput laut, 1 kg tepung terigu, ? kg wortel. Sunarmi mengaku hanya bermodalkan Rp 1 juta dalam memulai usaha mie rumput laut. Selain mie, Sunarmi juga mengolah aneka makanan lain berbahan baku rumput laut. Diantaranya dodol, permen, manisan dan kue semprong. ?Alhamdullilah usaha ini bisa menghidupi keluarga dan pendidikan anak-anak saya,? katanya.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Februari 2009