Hilir
01 April 2009
Lele Asap Bogor Butuh Pasar

Kendati unggul dalam hal rasa dibandingkan lele asap Medan, pasar lele asap Bogor masih terbatas

Bagi penggemar ikan salai, tak perlu jauh-jauh ke Medan untuk mendapatkan pangan olahan berbahan baku ikan lele ini. Produk tersebut kini bisa ditemukan di Jakarta dengan sentranya Pasar Senen. Uniknya, ikan yang dibuat melalui proses pengasapan itu tidak didatangkan dari Sumatera Utara tetapi dari Bogor, Jawa Barat. Dan meski bukan diproduksi dari tempat asalnya, tapi soal rasa, lele asap made in Bogor ini tak kalah lezat dari produk serupa yang diproduksi di Medan.
Adalah Sueb yang memproduksi lele asap di Kampung Kebon Kopi, Desa Pengasinan, Kecamatan Gunung Sindur, Bogor. Setengah promosi, lelaki paruh baya itu menyebutkan bahwa lele asap buatannya memiliki rasa lebih gurih dibandingkan lele asap dari Medan karena menggunakan ikan hasil budidaya. ?Kalau lele asap yang di Medan menggunakan ikan sungai yang kandungan lemaknya sedikit sehingga rasanya kurang gurih  dan daging lebih keras,? katanya. 
Sayangnya, meski unggul dalam rasa, lele asap buatan Sueb selama ini hanya berkutat di tiga pasar yaitu Jakarta, Tangerang dan Bogor. Tak cuma itu,  kendati tren permintaan produk ini dari waktu ke waktu terus meningkat tapi produksinya baru bisa mencapai 500 kg per hari. Menurut Sueb, pihaknya sebenarnya bisa memproduksi lele asap dalam jumlah yang lebih besar. ?Asal pasarnya ada, kami siap meningkatkan produksi,? ujarnya.

Kecil, Peranan UKM
Persoalan pasar tersebut juga diakui Direktur Usaha dan Investasi - Ditjen  Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Victor PH Nikijuluw  - Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Dia mengatakan, selama ini peranan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) dalam memproduksi hasil olahan yang berorientasi pasar domestik maupun ekspor sangat kecil. Padahal, dari total jumlah unit pengolahan ikan di tanah air yang mencapai hampir 25 ribu unit, 96%-nya merupakan  usaha kecil dan menengah
?Tingkat kemampuan pelaku usaha dalam berimprovisasi pengembangan produk masih rendah,? kata Victor pada acara penandatanganan kerjasama kemitraan PT Carpio Internasional dengan Kelompok Usaha Ikan Lele Asap Citra Dumbo di Gunung Sindur, Bogor  beberapa waktu lalu. Masalah lain  yang menjadi alasan kecilnya peranan UKM olahan adalah kemampuan permodalan dan penguasaan teknologi serta informasi akses pasar maupun sumber bahan baku yang masih rendah.
Dari sinilah Victor menyerukan perlunya peran swasta dalam pengembangan usaha olahan lele asap. Harapannya, usaha tersebut akan berkembang sehingga menghasilkan produk olahan yang aman, bermutu dan ramah lingkungan. Pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan daya saing sehingga akan memperluas jangkauan pasarnya.
Senada, Direktur Utama PT Carpio Internasional, Muchlison Zaini yang juga hadir pada kesempatan tersebut berpendapat, ?Jika pasarnya ada, maka otomatis produksinya juga akan meningkat. Ini artinya serapan hasil budidaya lele juga akan meningkat.? Dalam hal ini, ?Yang harus diingat, jenis dan kualitasnya harus sesuai dengan permintaan pasar,? sambungnya. Soni, panggilan akrab Muchlison Zaini, menyatakan optimis akan adanya peningkatan pasar untuk lele asap. Karena itu pihaknya menyatakan kesanggupan untuk membantu memperluas jaringan pasar produk lele asap Sueb. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk menjajaki pasar luar negeri.
Namun,  kata Soni, harus ada peningkatan kualitas terutama dalam hal sanitasi dan higienitas. Untuk itu dia juga menyatakan kesanggupan melakukan pembinaan mutu terhadap produsen lele asap di Gunung Sindur.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi April 2009