Olahan Kepiting Khas Balikpapan
Perintis produk abon yang berbahan baku daging kepiting
Nilai tambah produk di era globalisasi dan industrialisasi telah menjadi hal yang penting, apalagi untuk memasuki pasar. Hal itu disadari betul oleh Ansori, pemilik usaha abon kepiting bermerek “Bonting”. Gara-gara usahanya untuk ekspor daging kepiting ditolak, Ansori pun berinisiatif
memanfaatkan daging tersebut agar bernilai tambah dan tidak tersia-siakan yaitu menjadi abon kepiting.
Dari upayanya beserta tenaga kerja yang hanya berjumlah 3 orang, akhirnya usaha abon yang bergerak sejak September 2006 ini, kinitelah mencapai omzet Rp 150 juta per bulan. Sasaran utamanya adalah pasar produk oleh-oleh makanan di daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Produkabon kepiting ini sempat mendapatkan juara I kategori makanan kering dalam Festival Makanan Khas Balikpapan pada 2006. Sejak itu pula produk olahan ini mengantarkan Ansori sebagai pelopor makanan khas Balikpapan yang ditetapkan oleh Walikota Balikpapan.
Abon kepiting, kata Ansori,unggul dari segi inovasi dibandingkan produk-produk lainnya. “Ini merupakan satunya-satunya produk abon yang memanfaatkan bahan baku daging kepiting dan baru kita yang memulai usaha ini,” tambah pria yang sekarang mempekerjakan 20 orang tenaga kerja.
Bumbu Andalan
Sebagai salah satu produk makanan kering, Ansori juga menuturkan tidak ada resep yang ajaib untuk menaikkan pamor abon kepiting ini. Produk yang tahan sampai 6 bulan ini diakuinyahanya mengikuti resep bumbu dapur biasa. “Karena saya bukan berlatar belakang ilmu masak-memasak, bumbu yang dimanfaatkan pun bumbu dapur. Bumbu beserta proses inilah yang kita perhatikan agar mutu tetap terjaga,” ujarnya.
Pengemasan hingga saat ini disediakan dalam ukuran 50, 100, dan 200 gram. Harga yang ditetapkan pun beraneka ragam. Untuk ukuran 50 gram pengemasan dalam bentuk kotak karton dan dijual dengan harga Rp 15 ribu.
Sedangkan ukuran 100 dan 200 gram dalam bentuk kaleng yang dijual dengan harga Rp 35 ribu dan Rp 60 ribu. Hingga sekarang produk ukuran 50 gram menjadi primadona produksi. “Dari permintaan memang lebih banyak konsumen yang membeli oleh-oleh untuk ukuran 50 gram,” jelas sarjana kehutanan ini.
Omzet Rp 150 juta
Modal yang dihabiskan untuk usaha ini bisa mencapai Rp 90 juta per bulannya. Modal tersebut sudah mencakup biaya pembelian bumbu serta biaya operasional lainnya. Salah satunya dihabiskan untuk bahan baku daging kepiting seharga Rp 50 – 70 ribu per kg, yang per harinya Ansori membutuhkan sekitar 40 kg dagingkepiting. Sedangkan untuk tenaga kerja, gaji yang ditetapkan per orangnya sekitar Rp 800 ribu per bulan.
Dengan 40 kg bahan baku, produksi abon kepiting bisa menghasilkan 300 bungkus produk per hari. Maka dengan omzet penjualan Rp 150 juta, Ansori mengungkapkan keuntungan yang didapat minimal 20% per bulan.
Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Desember 2011










