Hot Issue
01 October 2008
Bungkil Sawit: Peluang yang Membayang

Riset terakhir menyuguhkan data, BIS dapat digunakan sampai taraf 30 % dalam formula pakan unggas

TIAP tahun tak kurang 2 juta ton bungkil inti-sawit ?dibuang percuma? sebagai ampas industri minyak-sawit (CPO = crude palm oil) di Indonesia yang diekspor dengan harga ?sampah?. Padahal ampas yang dikenal sebagai PKM (palm kernel meal) ataupun PKC (palm kernel cake) itu sangat potensial dijadikan komponen pakan ternak pengganti jagung yang terpaksa diimpor dan harganya pun kian meningkat.
 Tetapi beberapa kalangan dan pelaku agribisnis pakan ternak beranggapan, peluang potensial bungkil inti-sawit tidak sertamerta bisa dipastikan cocok sebagai pengganti jagung. Ini bukan saja berkait dengan faktor skala ekonomi, bakumutu, purnalaboratorium dan ujikandang, tetapi juga sangat erat kaitannya dengan struktur industri pakan berikut konsekuensi serta risiko-risiko sosial-ekonominya.
Memang, data Food and Agriculture Organization (FAO) bahkan menyebut, di 2007 besarannya mencapai 2,14 juta ton. Angka ini sebagaimana dikemukakan  Arnold P Sinurat - Peneliti dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor ? adalah 10% dari produksi CPO.
Sebagian kalangan meyakini dengan jumlah yang demikian melimpah, PKM potensial sebagai bahan baku pakan ternak, termasuk unggas. Sebagian kalangan terkesan gregetan atas tidak termanfaatkannya ?limbah? tersebut. Tak habis pikir, mengapa industri pakan unggas nasional terlalu tergantung pada jagung yang masih impor dalam jumlah besar, sementara membiarkan PKM ?tersia? hanya habis diekspor digunakan negara lain. 
Tjeppy D Soedjana, Direktur Jenderal Peternakan (Ditjennak) Deptan suatu kali di Jakarta menegaskan, ?Pabrik pakan mesti lebih inovatif. Harus lebih bisa memanfaatkan bahan ? bahan lokal sebagai alternatif?. Dan ia menunjuk limbah pengolahan sawit terutama bungkil inti sawit (BIS) digadang sebagai bahan lokal yang potensial memberikan fungsi seperti halnya jagung atau bungkil kedelai. Dua komoditas yang selama ini masih harus impor.
Lyons Pearse, pendiri sekaligus President Director Alltech Inc. berulangkali dalam presentasi makalah di berbagai forum dunia, termasuk di Indonesia menegaskan waktunya pemanfaatan serat sebagai sumber bahan baku pakan unggas. ?Di negara saya, bisa kita manfaatkan rumput. Nah di negara anda, gunakan PKM yang demikian melimpah itu!? semangat Pearse memberi keterangan pada TROBOS. Ia sangat yakin sekali hal itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan enzim sebagai tambahan dalam pakan agar meningkat kecernaannya.

Riset Terbaru
Keinginan menjadikan BIS sebagai bahan baku pakan unggas secara masal semakin kuat dan mendekati kenyataan apabila menyimak hasil riset yang dilakukan Arnold. Ia menyuguhkan data, BIS dapat digunakan sampai taraf 30 % dari total formula pakan. Penelitian dilakukannya pada layer dengan beragam (13) perlakuan berbeda. Dan untuk kelompok yang diberi pakan dengan kandungan BIS 30%, dengan BIS diayak terlebih dahulu dan diberi tambahan enzim, hasilnya produksi puncak mencapai 95%. Sementara kelompok kontrol (tanpa BIS) produksi puncak tak menyentuh angka 90%.
Paralel dengan Arnold, Burhanudin Sundu ? peneliti dari Universitas Tadulako, Palu?  yang melakukan penelitian bersama rekan-rekannya di Universitas Queensland, Australia. Hasilnya, broiler fase starter masih cukup ?aman? meski diberi pakan yang mengandung BIS hingga level 40 %. Menilik data tersebut, maka pemanfaatan BIS dalam skala industri sudah di depan mata, tinggal tunggu waktu. Di masa mendatang pabrikan tak perlu panik setiap kali terjadi lonjakan harga bahan baku pakan dari bijian (terutama jagung).
Arnold menambahkan, pemanfaatan BIS telah dilakukan secara industri di luar negeri. Ia menampik anggapan ekspor BIS ke luar negeri peruntukkannya semata untuk ruminansia (sapi). ?Untuk pakan unggas juga besar jumlahnya,? ujarnya, meski tak menyebut besaran volume yang digunakan untuk unggas.
Informasi ini dibantah kalangan swasta, produsen pakan unggas. Setidaknya Ferry Purnama, nutrisionis PT Japfa Comfeed Indonesia, yang jelas-jelas menegaskan sejauh ini peruntukkan BIS di negara tujuan ekspor adalah bagi ternak sapi. ?Untuk unggas, sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan. Karena teknologinya juga belum ada,? tutur Ferry yang Senior Vice President, Head of Feed Technology & Nutrition Feed Division PT Japfa Comfeed Indonesia.

Cari Pemecah Serat Efektif
Mengutip sebuah komentar seorang pelaku swasta beberapa waktu lalu, ?Nggak usah dipaksa, kalau BIS dari aspek nutrisi dan ekonomi memenuhi kebutuhan, dengan sendirinya industri akan menjadi yang pertama memanfaatkannya.?
Pabrikan pakan punya alasan belum dimanfaatkannya BIS dalam jumlah besar. Problem utama BIS adalah tingginya kandungan serat kasar. Ferry menunjuk soal ini sebagai kunci layak tidaknya BIS dipilih sebagai bahan baku pakan. ?Pertanyaan utama adalah seberapa besar BIS dapat digunakan dalam formula pakan. Teknologi apa yang digunakan agar BIS memiliki tingkat kecernaan tinggi. Soal yang lain tinggal mengikuti atau diupayakan.?
Dilihat dari komposisi nutrisi, BIS memiliki kandungan serat kasar (SK), senyawa polisakarida bukan pati (Non-Starch Polisacarida/NSP) yang tinggi. Dalam hal ini yang tinggi adalah jenis mannan. Pencernaan unggas tak cukup mampu mencerna rangkaian panjang NSP. Maka untuk pemanfaatannya, perlu mensyaratkan sebuah perlakuan yang membantu ?memotong?-nya sehingga tingkat kecernaannya meningkat. Penambahan enzim atau memfermentasi dalam BIS antara lain perlakuan yang dapat diberikan untuk perbaikan kecernaan. Perlakuan yang tentu saja akan membutuhkan biaya tambahan.
Faktor ini yang menjadi alasan pemakaian BIS umumnya tak terlalu banyak. Suharja Wanasuria, nutrisionis PT Wonokoyo Group menyebut, kandungan serat kasar dalam BIS kerap mencapai 20 %. Bahkan bisa lebih. Padahal banyak pakar nutrisi merekomendasikan jumlah serat kasar dalam campuran pakan tidak lebih dari 10 %.
Teknologi yang paling mudah dan ekonomis untuk meningkatkan kecernaan serat sampai hari ini adalah penambahan enzim. Pertanyaan Ferry berikutnya adalah, ?Seberapa besar enzim mampu memperbaiki kecernaan BIS?? Ia melanjutkan, kalau enzim terbukti signifikan mampu memperbaiki kecernaan BIS sehingga penggunaannya dalam pakan dapat melebihi 10% ia menilai itu sebuah terobosan besar. Sebuah teknologi yang menguntungkan sekali bagi industri perunggasan secara umum. Pasalnya, ongkos pakan akan menjadi jauh kecil. Tapi sampai saat ini Ferry masih sangsi apabila BIS bisa digunakan secara besar-besaran. Dimintai komentarnya soal hasil penelitian yang menunjukkan penggunaan 30% dan hasilnya memuaskan, ia kembali melontarkan tanya. ?PKM yang dipakai yang seperti apa, karena kualitas PKM yang ada di lapangan sangat bervariasi.? Ferry bisa membenarkan hasil tersebut, ?Tetapi apakah duplikasi penelitian yang sama akan memberikan hasil yang sama, masih perlu pembuktian.? Maka ia menekankan perlunya pengulangan-pengulangan perlakuan di tempat berbeda dan dengan skala ayam percobaan lebih besar.
Ditemui terpisah, Desianto Budi Utomo, Vice President Feed Technology PT Charoen Pokphand Indonesia memberikan tanggapan senada. ?Gedubrak!? ia berseloroh, ?kalau memang benar dapat dipakai sampai 30%, saya bisa kaya raya,? ujarnya sambil senyum simpul.
Secara umum, Desianto memaparkan, untuk menentukan pilihan bahan baku dalam industri pakan minimal ada tiga hal menjadi bahan pertimbangan.? Kualitas yang stabil, suplai yang kontinyu dan harga yang kompetitif,? sebut Desianto. Soal kontinyuitas suplai BIS, Desianto mengaku tidak meragukan, ?Toh kita produsen besar,? ungkapnya. Namun menurutnya, masalah muncul tatkala berbicara soal kualitas dan harga. Soal kualitas, katanya, cenderung sulit mendapatkan yang seragam dan stabil. ? Bungkil dari Lampung, kadang berbeda dengan bungkil yang berasal dari Kalimantan atau Sumatera. Malah kadang-kadang ada bungkil yang terpalsukan dengan bahan lain? ungkapnya.
Sementara, dari sejumlah penelitian diketahui, BIS memiliki rentang variasi kualitas kandungan nutrisi yang cukup lebar. Protein kasar bervariasi 16,0 ? 21,3 %; serat kasar dalam kisaran 6,7 ? 17,5 %; lemak berkisar 0,8 ? 10,33 %, nitrogen free extract 38,7 ? 63,5 % dan enerji metabolis 1481,8 sampai 2500,0 kcal/kg.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Oktober 2008