Hot Issue
01 October 2008
Resi Gudang Rumput Laut, Solusi Ditengah Kontroversi

Layaknya gudang Bulog, penerapan sistem resi gudang rumput laut diharapkan mampu menjadi penyangga harga.

Tingginya fluktuasi harga rumput laut yang terjadi pada akhir-akhir ini, membuat Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) berinisiatif untuk menerapkan sistem resi gudang pada komoditas rumput laut. Hal tersebut ditegaskan oleh Martani Huseini, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) DKP. ?Penerapan sistem resi gudang diharapkan dapat berfungsi sebagai buffer stock pada komoditas rumput laut,? ujarnya beberapa waktu lalu. Selain sebagai buffer stock bagi industri dalam negeri, penerapan sistem resi gudang rumput laut sekaligus bertujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya fluktuasi harga yang sangat tinggi pada komoditas ini. Pernyataan Martani dikuatkan oleh Widodo Farid Ma?ruf, Ketua Komisi Rumput Laut Indonesia. ?Pada prinsipnya, resi gudang berfungsi menjadi penyangga harga rumput laut agar tidak dipermainkan oleh spekulan,? ujar Farid melalui surat elektroniknya yang dikirim kepada TROBOS. Jika memang benar demikian, sistem resi gudang yang akan diterapkan oleh DKP ini mirip dengan fungsi yang dijalankan oleh gudang-gudang milik Bulog (Badan Urusan Logistik), dalam hal mengatur stok dan menyangga harga gabah ditingkat petani.

Sulit Diterapkan
Terkait fungsi tersebut, Jana T Anggadiredja, Deputi Kepala Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam, BPPT justru meragukan jika fungsi sebagai penyangga harga dapat dilakukan pada sistem resi gudang rumput laut.  ?Jika resi gudang rumput laut diharapkan dapat menjadi penyangga harga seperti peran gudang-gudang milik Bulog akan sangat berat untuk dilakukan,? ujar Jana. Menurutnya, keberhasilan gudang milik Bulog dalam menjalankan fungsi sebagai penyangga harga gabah, tak lepas dari adanya sebuah badan yang sangat besar yang menjalankan fungsi tersebut. ?Kalau pada rumput laut, apakah hal tersebut bisa dilakukan?? kata Jana penuh tanda tanya.
Dia menjelaskan, permasalahan baru akan muncul ketika gudang harus membeli rumput laut pada saat harga berada pada posisi yang lebih tinggi, dan harus menjualnya pada saat harga rumput laut sedang berada pada posisi yang lebih rendah. ?Siapa yang harus menanggung kerugiannya?? Jana kembali mengajukan tanya. Lebih lanjut dia mengusulkan, Untuk komoditas rumput laut, sebaiknya tidak perlu ada sebuah sistem yang berfungsi sebagai penyangga harga. ?Kita serahkan saja pada mekanisme pasar yang ada,? sambung Jana.
Penjelasan yang sama juga disampaikan oleh Soerianto Kusnowirjono, Direktur Pengembangan dan Ekspor Rumput Laut PT Agarindo Bogatama. Menurutnya, sistem resi gudang yang diterapkan tidak akan mampu bertahan, jika kerugian berulang terjadi pada gudang. ?Apakah pemerintah mau menangung kerugian tersebut?? kata Soerianto setengah bertanya. Kalaupun pemerintah menyediakan dana subsidi untuk itu, dia sangat menyayangkan, apabila dana yang diberikan hanya digunakan untuk menangung kerugian.
Menurut Soerianto, jika pemerintah memiliki dana berlebih, sebaiknya digunakan untuk membenahi sistem yang sudah ada. Misalnya, untuk membina pembudidaya ataupun untuk membangun kebun bibit guna meningkatkan kualitas rumput laut. Usulan serupa juga disampaikan oleh Jana, ?Dana yang ada sebaiknya dialihkan untuk memperbaiki kualitas rumput laut.? Pasalnya, kualitas rumput lautlah yang akan menentukan laku atau tidaknya komoditas tersebut di pasaran.
Hal ini dikuatkan oleh Soerianto, ?Kalau kualitasnya bagus, saya menjamin tidak akan ada pabrikan rumput laut yang tidak akan membeli, meskipun mereka sudah memiliki stok sampai 6 bulan ke depan, karena rumput laut yang berkualitas itu masih sangat langka dan sulit dicari pada saat ini.? Sebaliknya, jika rumput laut yang diproduksi oleh pembudidaya kualitasnya lebih buruk dari rumput laut yang ada di gudang, secara otomatis pabrikan tidak akan mau membeli.
Soerianto juga menilai, penerapan sistem resi gudang rumput laut juga dirasa belum tepat untuk dilaksanakan pada saat ini. ?Saya belum pernah mendengar ada rumput laut yang berkualitas bagus tidak laku terjual. Karena memang kapasitas produksi pabrik pengolah rumput laut, baik yang ada di dalam maupun luar negeri masih mampu untuk menyerapnya,? ujar Soerianto.
Hal senada juga diungkapkan oleh  Sasmoyo S Boesri, Direktur Utama PT Indonusa Algaemas Prima. Dia berpendapat, penerapan sistem resi gudang pada rumput laut dirasa belum mendesak. ?Sebaiknya pemerintah lebih mengutamakan perbaikan pada permasalahan tata niaga rumput laut. Seperti tempo hari, saat suplai rumput laut dunia berkurang. Banyak buyer dari luar negeri yang datang untuk membeli rumput laut langsung dari tangan petani. Ini membahayakan industri di tanah air, makanya perlu ada regulasi yang mengatur hal itu. Permasalahan ini yang seharusnya didahulukan oleh pemerintah,? tuntut Sasmoyo ketika dihubungi TROBOS.

Membantu Likuiditas Usaha
Selain menjadi penyanga harga, Martani juga mengatakan, penerapan sistem resi gudang juga diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan permodalan yang sering dihadapi oleh para pembudidaya rumput laut. ?Dengan adanya sistem resi gudang, para pembudidaya bisa menjaminkan rumput laut yang belum laku terjual ke gudang, dengan demikian mereka dapat memperoleh kredit usaha,? kata Martani.
Hal senada diungkapkan oleh Farid Ma?ruf, ?Salahsatu tujuan diterapkannya sistem resi gudang oleh pemerintah antara lain memang untuk membantu pembudidaya rumput laut agar tetap dapat melaksanakan proses produksi apabila didalam proses tersebut mengalami kendala untuk memperoleh dana segar,? terang Farid.
Muhamad Misbakhun, pemimpin PT Agar Sehat Makmur Lestari pun menilai positif langkah yang diambil oleh DKP, ?Menurut saya ini salahsatu terobosan pemerintah yang luar biasa, akan sangat membantu para pembudidaya dalam financing.? Langkah ini juga akan membuat para pembudidaya rumput laut menjadi semakin bergairah. Pasalnya, rumput laut akan menjadi barang yang berharga, karena dapat dijadikan jaminan. ?Para pembudidaya dapat memperoleh suntikan modal, tanpa harus menunggu rumput lautnya laku terjual,? tambah Misbakhun.
Pendapat serupa, juga disampaikan oleh ketua Asosiasi Pembudidaya rumput Laut Indonesia (ASPERLI), Arman Arfah, ?Sebenarnya rencana tersebut sangat baik untuk membantu likuiditas usaha para pembudidaya. Tetapi sampai detik ini belum ada kejelasan mengenai sistem yang akan diterapkan.?

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Oktober 2008