Sesumbar Jadi yang Terbesar
Arah mata angin kelautan perikanan Indonesia seperti berputar 180 derajat. Jika sebelumnya pembangunan kelautan dan perikanan fokus pada penanggulangan illegal fishing (penangkapan ikan ilegal), kini berkonsentrasi pada upaya menggenjot besar-besaran produksi perikanan budidaya (akuakultur).
Menggenjot produksi perikanan budidaya dan mengendalikan perikanan tangkap, menjadi fokus Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad pun bertekad membuktikan Indonesia mampu menjadi pemain terbesar di kancah kelautan perikanan dunia. Dan Fadel menyandarkan keberhasilan lompatan produksi perikanan pada subsektor budidaya. “Kita memastikan motor penggerak peningkatan produksi perikanan adalah perikanan budaya. Karena potensi sumber daya perikanan tangkap terbatas, maka yang perlu dilakukan adalah mengendalikan keberlanjutannya. Peluang sekaligus tumpuan besar dimiliki perikanan budidaya, maka fokus kita ke sana,” tegas Fadel.
Total target produksi perikanan budidaya yang ingin dicapai tahun 2014 sekitar 16,8 juta ton, yang artinya peningkatan produksi sampai 353%. Dari sekian banyak potensi komoditas perikanan budidaya, KKP menentukan setidaknya 4 komoditas unggulan (lihat tabel). Komoditas tersebut rumput laut, lele, bandeng dan kerapu. “Kita punya potensi komoditas perikanan yang beragam, namun untuk menjadi yang terbesar cukup konsentrasi pada beberapa komoditas unggulan saja,” tegas Fadel kepada TROBOS belum lama ini di Jakarta. Bermodalkan kesukseksan membawa Gorontalo menjadi provinsi jagung, Fadel mencoba menanamkan semangat dan pola pembangunan yang serupa di KKP.
Konsekuensi Anggaran
Menggadang perikanan budidaya sebagai andalan produksi memiliki implikasi tuntutan alokasi anggaran yang memadai. Dirjen Perikanan Budidaya, KKP, Made L Nurdjana mengaku, pihaknya telah mengusulkan anggaran tambahan untuk berbagai program perikanan budidaya di 2010 sebesar Rp 184 miliar. Anggaran tersebut banyak dialokasikan untuk kegiatan bantuan permodalan wirausaha perikanan budidaya (lihat tabel).
Made juga mengatakan demi mendorong perikanan budidaya, peta anggaran KKP mengalami perombakan yang cukup signifikan. Ia mengistilahkan, KKP siap “menderita” supaya bisa maju. Maksud Made adalah melakukan penghematan di berbagai pos. Efesiensi, sebut Made, dilakukan pada anggaraan pertemuan, sosialisasi, perjalanan dinas, dan lainnya untuk mendukung anggaran produksi perikanan.
Selain itu KKP juga tengah berjuang untuk mendapat dukungan permodalan melalui perbankan dan KUR (Kredit Usaha Rakyat). “Saya yakinkan kepada Men-KP memang butuh waktu untuk bisa membangun citra usaha perikanan budidaya lebih dipercaya oleh perbankan,” kata Made. Ia juga memimpikan setiap daerah punya lembaga semacam UPP (Unit Pelayanan Pengembangan) yang bertugas melakukan pendampingan di masyarakat dalam menjalankan usaha. Unit ini dibentuk dan dikelola oleh unsur Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. Dan perbankan dalam menyalurkan kredit dapat menggandeng UPP. Unit tersebut bisa memberikan rekomendasi pengusaha perikanan atau kelompok usaha perikanan mana yang layak mendapatkan kredit usaha.
Made ingin membuktikan bahwa usaha perikanan sangat menguntungkan dan layak mendapat dukungan dari perbankan. Sambil mendorong upaya tersebut, ia juga mengajukan usul KKP membuat program-program kredit permodalan. Dan Made mengaku tengah menyusun skema paket-paket bantuan dan kredit usaha perikanan budidaya, yang fokus pada usaha perikanan budidaya skala kecil dan menengah.
Belajar dari China
Keinginan untuk mendorong akselerasi perikanan budidaya dan menggadang sub sektor ini sebagai kekuatan dan fokus utama sebenarnya bukan hal baru. Made menjelaskan, sudah lama ia mengembar-gemborkan bahwa perikanan budidaya adalah raksasa tidur. “Tetapi baru kali ini peluang membangunkan raksasa tidur itu terbuka lebar,” kata Made.
Keberhasilan China menjadi produsen utama perikanan dunia mendapat perhatian Fadel sekaligus menjadi inspirasi untuk mencapai prestasi yang sama. Ia mencermati fakta bahwa di 1949 produksi perikanan Indonesia lebih tinggi ketimbang China. Produksi perikanan Indonesia kala itu mencapai 25 ribu ton, sementara China hanya 19 ribu ton. Sayangnya, kini Indonesia jauh tertinggal dibandingkan Negeri Tirai Bambu itu.
China hanya membutuhkan waktu 5 tahun unutk sampai menjadi negara penghasil ikan terbesar di dunia. Dan itu terjadi karena pemimpin Negeri Naga itu berfokus pada perikanan budidaya. Data Badan Pangan Dunia atau FAO (Food and Agriculture Organization) menunjukkan, pada kurun 1990 sampai 1995 produksi perikanan budidaya China mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Sejak saat itu angka produksi terus meningkat seiring kebutuhan akan produk perikanan yang juga bertambah.
Saat ini produksi perikanan budidaya China sudah menembus angka 52 juta ton, sedangkan Indonesia hanya sekitar 4 juta ton (lihat grafik). Padahal, menurut Fadel, potensi perikanan Indonesia sangat berpeluang untuk bersaing dengan China. Perbandingan potensi lahan perikanan laut, pesisir dan darat antara Indonesia dan China cukup berimbang (lihat tabel). Fadel mampu menangkap strategi yang ditempuh China, dan kemudian mengambil pelajarannya, bahwa kunci kekuatan Cina adalah perikanan budidaya perikanan. “Jika tidak ingin kalah bersaing, kita juga harus fokus di situ,” tandas Fadel.
Sudah Punya Modal
Lebih lanjut Fadel menjelaskan, untuk menjadi nomor satu di dunia Indonesia sudah punya modal. Faktanya sekarang posisi Indonesia di pasar global berada pada papan atas (2,75% atau peringkat 11 dunia) dengan nilai ekspor US$ 2,69 miliar (tahun 2008). Pembagian ekspor perikanan meliputi komoditas udang 43,1%; tuna 12,8%; kepiting 7,9%; dan ikan lainnya 27,2%.
Komoditas ekspor perikanan tersebut mengisi pasar dunia dengan komposisi pasar tradisional Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang sebesar 69,5%. Sementara ada pasar prospektif yang belum banyak digarap adalah Asia Tenggara sebesar 11,8% dan Asia Timur minus Jepang 10,6%. Tidak ketinggalan pasar potensial negara-negara Timur Tengah, Afrika, dan eks Eropa Timur dengan peluang pasar sebesar 8,1%. Tantangan justru datang dari pasar dalam negeri. Saat konsumsi ikan nasional tergolong masih rendah sekitar 30 kg per kapita/tahun. “Bahkan untuk Jawa masih jauh di bawah angka nasional,” sebut Fadel. Padahal jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta merupakan pasar yang sangat besar.
Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Februari 2010









