Village Breeding Center : Maunya Pembibitan, Tapi kok Cuma Pembesaran?
Swasembada daging sapi 2014. Begitulah tekad yang lagi-lagi dicanangkan pemerintah sebagai satu komitmen dalam kemandirian pangan. Mengingat sebelumnya target serupa pernah ditetapkan pada 2005 dan 2010 dengan hasil nihil, maka target 2014 mau tak mau harus terwujud. Sebab taruhannya, jika target ini kembali meleset, pemerintah akan kehilangan muka untuk yang ke tiga kalinya!
Karena itu maka Menteri Pertanian Suswono pun bergegas menyusun cetak biru swasembada daging sapi 2014 dalam program 100 hari kerjanya. Strateginya, selain membatasi impor sapi baik dalam jumlah dan bobot, juga dengan peningkatan penyediaan bibit sapi berkualitas. “Dalam jangka panjang, mau tak mau harus sampai pada tingkat breeding local. Untuk itu diperlukan suatu areal yang terisolasi sehingga menghasilkan galur murni,” ujar Suswono kepada TROBOS.
Maka dalam cetak biru kegiatan prioritas pencapaian swasembada 2014, pemerintah mentargetkan 30 % dari populasi bibit sapi nasional yang sebesar 3,6 juta ekor, harus diperoleh dari program Village Breeding Center (VBC). Yakni pusat pembibitan sapi yang berada di daerah-daerah. Direktur Jenderal Peternakan, Tjeppy D Soedjana secara terpisah menyatakan, penyediaan bibit sapi di tingkat pedesaan ini merupakan investasi jangka panjang.
Tak main-main dengan tekad tersebut, pada 2010 ini pemerintah mengusulkan pemberian penguatan modal kepada kelompok-kelompok VBC dengan mengarahkan pendanaan melalui Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS). Dana yang diusulkan mencapai Rp 400 miliar untuk 4000 kelompok VBC termasuk penyebaran sapi Brahman Cross. “VBC hanya mempertahankan induk atau pejantan yang baik untuk melayani di kawasan sekitarnya saja. Makanya kita dorong melalui KUPS,” kata Tjeppy.
Di tempat lain Direktur Perbibitan, Gunawan menyebutkan, saat ini kelompok VBC yang mengajukan KUPS sekitar Rp 924 miliar atau setara dengan 70 ribu ekor sapi (nilai KUPS adalah Rp 66 miliar untuk 5000 ekor dengan tiap kelompok mendapatkan sekitar 50 ekor). Sampai saat ini pemerintah mengklaim sudah ada sekitar 4000 kelompok VBC yang ada di daerah, meskipun data yang ada menunjukkan baru sekitar 400 kelompok VBC termasuk 170 kelompok VBC penerima sapi Brahman Cross yang telah direalisasikan dari tahun 2007 sampai 2009.
Kurang Fokus
Kendati demikian, pengamat peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Muladno menilai, VBC yang ada saat ini belum mengimplementasikan konsep breeding secara penuh dan komprehensif. “Baru merupakan sekelompok peternak pada suatu area khusus yang berkomitmen untuk melakukan pembibitan dan hanya memelihara induk lalu beranak pinak. Dengan kata lain, hanya sebatas mengembangbiakkan saja,” jelas Muladno.
Menurut salah satu anggota Komisi Bibit Nasional ini, yang dilakukan Direktorat Perbibitan kurang fokus karena masih menangani ternak-ternak yang bukan bibit. Selain itu, VBC yang ada saat ini belum bisa dikatakan breeding secara penuh karena catatannya hampir selalu tidak ada, seperti silsilah keturunan dan seleksi sifat yang tidak fokus. “VBC yang ada sekarang lebih baik disebut Village Farming Center (VFC) karena hanya sebatas memelihara, kemudian beranak pinak,” katanya.
Village Center di Indonesia, kata Muladno, dikelompokkan menjadi tiga, yaitu VBC, VFC dan Village Feedlot Center (VFlC). “VBC ini yang kita namakan kelompok elit. Jumlahnya minimal tertentu, kriteria yang diseleksinya ada dan pencatatannya kontinyu. VBC yang seperti itu yang harus dimulai,” tegasnya.
Dia menyarankan, VBC yang ada sekarang harus diarahkan ke pembibitan secara komprehensif dan profesional dengan penyeleksian, perankingan, pencatatan yang baik dan penentuan pejantan yang unggul untuk proses perkawinan. Sebagai contoh, pada suatu daerah minimal harus ada 500 ekor betina. Betina-betina tersebut kemudian diseleksi dan diranking berdasarkan sifatnya misalkan sifat pertambahan bobot badan.
Berdasarkan sifat tersebut, kemudian diranking mulai dari 1 sampai 500 dan peringkat 10 besar diklasifikasikan. Selajutnya sepuluh betina top rank itu dikawinkan dengan pejantan yang betul-betul unggul. “Anak dari hasil perkawinan betina top rank dan pejantan unggul inilah yang disebut bibit dan memang berbeda dengan anak dari hasil perkawinan betina rank rendah. Pengkelasan seperti ini yang tidak ada pada VBC yang sudah ada sekarang,” kata Muladno.
Dia mengakui, menjalankan VBC ini tidak mudah. Karena itu masalah manajemen dan organisasi dalam VBC sangat penting. Dan dalam hal ini perencanaan VBC seharusnya matang, misalnya direncanakan untuk kurun 30 tahun. Selama 30 tahun tersebut difokuskan pada target yang ingin dicapai.
Disamping itu persatuan dari para peternak anggota harus solid. Juga, sebaiknya harus ada pelatihan dalam hal soft skill seperti team work, cara dan kaidah berorganisasi, serta cara berkomunikasi yang baik. “Bagi saya masalah organisasi dan me-manage organisasi itu adalah nomor satu. Pada akhirnya bila pemimpin-pemimpin komunitas peternak yang dipilih tadi sudah pintar dalam manajemen dan berorganisasi, barulah selanjutnya kita fokuskan pada teknis pembibitannya seperti seleksi, ranking dan pencatatan. Jadi SDM-nya dulu baru ternaknya,” paparnya.
Muladno kembali menyarankan sebaiknya VBC didasarkan pada titik-titik wilayah dengan memanfaatkan UPTD setempat. Misalkan di Jawa Timur ditentukan ada 10 titik untuk VBC. Maka 10 tempat itu saja yang fokus diurus dan pelaksanaannya sesuai dengan konsep breeding secara penuh dan komprehensif. Penentuan kriteria ternak dari tempat-tempat tersebut ditentukan berdasarkan kualitas yang menonjol dari ternaknya. Contohnya sapi Pesisir pada kemampuan adaptasinya terhadap lingkungan.
Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Februari 2010









