Hot Issue
01 April 2010
Revitalisasi Tambak Mangkrak, Produksi Terdongkrak

Tanpa membuka lahan baru, target produksi udang 699 ribu ton di 2014 sangat mungkin dicapai dengan operasikan tambak mangkrak dan intensifikasi tambak tradisional

Sejauh mata memandang, hamparan di bibir pantai itu tampak sebagai petakan-petakan dengan tanggul yang rusak disana-sini dan dasar tanah yang kering pecah-pecah. Sunyi, tak ada aktivitas, meski beberapa petakan terisi air. Yang ada hanya pantulan terik matahari yang memedihkan mata. Tak sedikit pun menyisakan tanda kebesaran bahwa dari lahan itu, asal kejayaan Indonesia sebagai penghasil utama udang windu dunia di era 80-an.
Tambak-tambak di sepanjang pantai utara Jawa (Pantura) tersebut ditinggalkan para pemiliknya setelah usaha budidaya intensif udang windu babak belur dihajar wabah white spot secara nasional. Tambak mangkrak atau nganggur semacam ini jumlahnya luar biasa dan membentang di pantai Sumatera, Jawa, Kalimantan sampai Sulawesi.
Menurut catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), luasan tambak nasional saat ini sekitar 450 ribu hektar (ha) dari total potensi lahan yang sekitar 1,2 juta hektar. Artinya, pemanfaatan potensi baru mencapai 36%. Dan menurut keterangan Direktur Produksi Ditjen Perikanan Budidaya, Iskandar Ismanadji, diestimasikan 35 ? 45 % dari tambak-tambak tersebut dalam keadaan mangkrak atau idle.
Seruan untuk merevitalisasi berulang kali datang dari Ketua SCI, Iwan Sutanto. Termasuk yang dicecar Iwan untuk segera dioperasikan kembali adalah tambak eks-Dipasena. ?Ingin produksi udang meningkat, kuncinya ada pada program revitalisasi tambak udang,? tegas Iwan. Produksi udang yang dipatok 699 ribu ton di 2014, menurut dia sangat mungkin dicapai dengan mengoperasikan tambak-tambak yang idle atau terbengkalai dan mengintensifkan tambak tradisional, tanpa membuka lahan baru. Mengutip data Shrimp Club Indonesia (SCI), setidaknya ada 34 ribu ha lahan eks-intensif yang terbengkalai saat ini. Sementara lahan tambak tradisional angkanya 310 ribu ha. Lahan eks-intensif dan tambak tradisional ini merupakan target sasaran revitalisasi tambak dalam rangka mendongkrak produksi.

Tugas Pemerintah dan Inti
Petambak Plasma eks-Dipasena Lampung, Syukri J Bintoro, punya pengakuan. ?Kurang lebih 60% (sekitar 9.600 ha) tambak di kawasan Tulang Bawang, Lampung tidak bisa digarap karena tanggul jebol, pendangkalan saluran air, dan kendala lainnya,? urai Syukri menggambarkan beratnya kerusakan tambak sehingga petambak sulit mengoperasikannya.
Para petambak tradisional itu tidak mungkin mampu melakukan perbaikan atau revitalisasi infrastruktur tambak-tambak rusak tersebut karena butuh biaya besar. ?Ini merupakan tugas pemerintah dan perusahaan inti,? tunjuk Sukri kepada TROBOS awal Maret lalu di Jakarta. Tambak eks Dipasena yang direvitalisasi baru 5 blok dari 16 blok yang tersedia.
Tidak kurang 7 ribu petambak di sana kini nasibnya tak jelas. Syukri membandingkan, tambak yang sudah direvitalisasi dan menerapkan sistem budidaya semi-intensif mampu berproduksi 2 sampai 2,5 ton per petak (2 ribu m2) tiap siklus. ?Bayangkan peningkatan produksi yang bisa dicapai jika semua blok sudah direvitalisasi dan beroperasi,? ujarnya takjub.
Syukri menyebut bentuk revitalisasi yang dibutuhkan antara lain perbaikan saluran irigasi tambak yang mendangkal. Perbaikan dasar dan dinding tambak yang berpori atau bocor, perbaikan pintu air, jalan produksi, jaringan listrik, serta jembatan. ?Kita berharap pemerintah bisa menekan perusahaan inti untuk segera melakukan revitalisasi,? tuntut Syukri.
Iwan punya kalkulasi jika tambak bekas intensif yang kini idle dan angkanya 34 ribu ha dioperasikan kembali. Dengan asumsi menerapkan budidaya secara semi-intensif dan produktivitas 4 ton/ha/th, maka akan mampu diperoleh tambahan produksi nasional sebesar 136 ribu ton/ha/tahun.
Apabila tak memungkinkan penerapan semi-intensif, cara lainnya adalah mengoperasikan tambak secara tradisional dengan sistem polikutur. Udang windu dipelihara bersama rumput laut, produktivitas udang yang dihasilkan sekitar 0,7 ton/ha/tahun. Daerah yang cocok untuk pengembangan budidaya polikultur antara lain Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi.
Sementara, masih menurut Iwan, tambak yang selama ini beroperasi tapi masih dengan sistem tradisional diupayakan untuk ditingkatkan menjadi semi-intensif (intensifikasi). ?Tambak-tambak tradisional yang ada di Sumatera, Lampung dan Jawa perlu ditingkatkan menjadi semi-intensif dengan penebaran udang vanamei,? kata Iwan. Kembali ia menyebut data SCI, luas tambak tradisional di Indonesia sekitar 310 ribu ha. Iwan berhitung, bila 10% saja tambak tradisional tersebut sistem budidayanya ditingkatkan menjadi semi-intensif dengan produktivitas 4 ton/ha/tahun, maka sumbangan kenaikan produksi dari kelompok tambak ini 124 ribu ton/ha/tahun. Angka-angka ini signifikan berkontribusi dalam peningkatan produksi yang digadang 15% per tahunnya sampai 2014 oleh KKP.

Infrastruktur, SDM, Energi & Modal
Pentingnya program revitalisasi tambak udang juga diungkapkan Ketua SCI wilayah Banyuwangi, Hardi Pitoyo. Kata Pitoyo, revitalisasi perudangan nasional itu kuncinya ada di infrastruktur, SDM (Sumber Daya Manusia), energi, dan pembiayaan. ?Terutama SDM, karena kebanyakan petambak sekarang well experienced (berpengalaman) ketimbang well educated (berpendidikan),? ujar Piyoto. Perlunya peningkatan kulitas SDM petambak ini terkait keberhasilan transfer ilmu budidaya udang yang baik dan benar, sesuai standar BAP (Best Aquaculture Practices). ?Transfer ilmu akan lebih mudah diterima pada petambak yang well educated,? ujar Pitoyo.
Lalu soal pembiayaan, masih kata Pitoyo, sampai hari ini hampir tidak ada bank yang mau memberi kredit untuk usaha pertambakan udang. Dengan bunga komersil sekalipun. Padahal, tanpa ada subsidi bunga pun, menurut Pitoyo, petambak sanggup dan usaha budidaya udang masih menguntungkan.
?Tidak heran kalau program revitalisasi tambak, baik yang dilaksanakan swasta maupun pemerintah berjalan tersendat-sendat,? tukas Pitoyo. Ia menunjuk dirinya sendiri sebagai contoh kasus. Dari 50 ha lahan yang dimiliki hanya 30% yang beroperasi penuh. ?Masalahnya nggak punya duit itu tadi!? tukasnya getir. Ia menegaskan, jika mau revitalisasi untuk mendongkrak produksi, peran pemerintah sangat ditunggu saat ini. Petambak, menurut dia, sudah melakukan yang semestinya dilakukan. ?Petambak sudah bekerja sesuai porsinya. Tinggal pemerintah yang harus mengerjakan bagiannya. Jika sudah begitu nanti pengusaha akan tumbuh dengan sendirinya,? tegas Pitoyo.

Ditunggu Langkah Konkrit
Meski gaung dongkrak produksi udang nyaring terdengar, tapi Pitoyo masih menunggu langkah konkrit yang bisa dirasakan di level bawah. Ini pula yang disoroti  Ketua Komisi Udang Indonesia, Shiddiq Moeslim. Menurut dia, pemerintah punya keinginan besar tapi belum jelas cara mewujudkannya. ?Nyatanya, hingga saat ini program revitalisasi tambak udang belum banyak dirasakan para petambak,? kata Shiddiq. Masih banyaknya tambak di Jawa Timur (Jatim) yang belum beroperasi ditunjuknya sebagai bukti. Para petambak tradisional tidak punya modal cukup untuk merehabilitasi tambak yang rusak. Sementara bantuan dari pemerintah tidak kunjung datang.
Disampaikan Shiddiq, 2 tahun belakangan ini justru yang berkembang adalah pola paguyuban petambak udang tradisional. Anggota paguyuban dibantu pihak industri pengolahan udang dalam menyediakan modal benur dan pakan udang. Sistem ini antara lain berkembang di Madura, Tuban, Banyuwangi. ?Pola kerjasama didasarkan trust (saling percaya),? kata Shiddiq. Terkadang untuk memperbaiki kondisi tambak yang rusak, pemodal meminjami traktor. Ia mengimbuhkan, udang yang diproduksi ukuran kecil 70 ? 90 ekor per kg. ?Berkembangnya pola ini menunjukkan bahwa sebenarnya para petambak tradisional bisa mandiri,? ujar Shiddiq.
Artinya, lanjut Shiddiq, sebenarnya tugas pemerintah tidak terlalu berat. ?Para petambak tradisional tinggal dijamin benur bagus dan pakan murah, kalau ada kasus penyakit pemerintah turun tangan mencarikan solusinya. Itu saja,? tegas Shiddiq. Karena kunci permasalahan perudangan ada 3 yaitu benur, penyakit, dan pakan, ?Sisanya serahkan pada rakyat,? tambah Shiddiq.
Soal infrastruktur tambak, Shiddiq menilai, perbaikan kondisi tambak mengambil peran 40%. ?Perbaikan infrastruktur tambak di satu sisi perlu biaya besar, tapi di sisi lain signifikan mendorong produksi udang, artinya mendatangkan keuntungan,? ujar Shiddiq. Tata kelola air yang baik berkorelasi dengan hasil udang yang baik. Ia menyodorkan angka, di wilayah Jatim tambak tradisional dengan infrastruktur bagus tak lebih dari 15%. Sementara tambak semi-intensif dengan infrastruktur baik sekitar 30%.


Selengkapnya baca di Majalah TROBOS edisi April 2010