Hot Issue
01 June 2012
Ayam Kampung Pun Dilirik Industri

Keterlibatan swasta dalam pembibitan ayam kampung skala besar sudah menjadi tuntutan. Sandungan Perpres masih mengundang pertanyaan

Di atas lahan seluas 1,2 hektar di Kampung Bepak, Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Sukabumi itu berdiri kompleks peternakan pembibitan dengan 10 kandang battery yang dipenuhi tak kurang 17 ribu ayam kampung, dan sekitar 5 % diantaranya pejantan. Sebagai produsen DOC (anak ayam umur sehari) kompleks dilengkapi dengan hatchery (kamar penetasan) berkapasitas mesin 115.200 butir dan daya tetas 80 – 85 %.

Ayam-ayam indukan di kandang-kandang tersebut adalah hasil seleksi panjang yang dilakukan Kelompok Unggul Pusat Perbibitan Ayam Kampung (KUPPAK). Menurut penjelasan Sigit Widodo, Ketua KUPPAK, bersama Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor pihaknya melakukan riset sejak 2005. Dan produksi massal sebagai produsen DOC atau breeding untuk diperdagangkan terhitung mulai 2010.

Seleksi dilakukan dari ayam-ayam kampung unggul, antara lain ayam pelung, kedu, sentul dan terakhir gauk dari Madura. Belasan ribu ayam generasi ke-3 hasil seleksi itu kemudian ditahbiskan sebagai indukan (Parent Stock/PS) yang memproduksi telur tetas. Hasilnya, berupa DOC final stock yang dilepas ke peternak untuk dibesarkan sebagai pedaging.

Usaha pembibitan ayam kampung yang dikelola Sigit ini merupakan usaha dia dengan status kepemilikan bersama rekannya Tutum Rananta dan Kepraks (Kelompok Peternak Ayam Kampung Sukabumi). Ia mengaku, saat ini mampu menghasilkan 140 ribu DOC setiap bulannya atau 35 ribu per pekan. Angka ini masih jauh di bawah permintaan yang masuk. “Tiap bulan, permintaan yang datang mencapai 250 ribu DOC,” sebut Sigit.

Akhir tahun ini ia menargetkan peningkatan kapasitas produksi menjadi 200 ribu ekor DOC per bulan. Konsekuensinya, induk akan didongkrak menjadi 24 ribu ekor dan 1.200 ekor diantaranya adalah pejantan.

Selain itu, ia menargetkan, akhir tahun ini produksi DOC ayam sentul mencapai rasio 50 % dari total produksi, dan pertengahan 2013 produksinya 100 % DOC ayam sentul. Ia menjelaskan, saat ini produk yang dijual utamanya DOC ayam kampung biasa dan sebagian DOC ayam sentul. Terdapat 2 macam DOC ayam sentul yang dipasarkan, yaitu kombinasi warna abu – abu dan merah; serta kombinasi warna abu – abu dan putih.

Berburu Calon Induk
Jauh sebelum pembibitan yang dikelola Sigit berdiri, “Jimmy Farm” yang berlokasi di Cipanas Puncak, Bogor sudah dikenal luas peternak ayam kampung sebagai pemasok DOC. Dan diakui sebagai pionir produsen DOC ayam kampung berskala besar.

Menurut keterangan Benny Arifin, pemilik Jimmy Farm pihaknya mulai terjun di ayam kampung sejak 1998. Sebelumnya ia adalah pembibit DOC broiler yang gulung tikar karena dihantam badai krismon kala itu. Infrastruktur yang ada kemudian dikembangkan untuk memproduksi DOC ayam kampung.

Tetapi tak hanya jadi pemain di pembibitan, “Jimmy Farm” juga mengembangkan pembesaran. Disebut Yohan Kurniawan ManajerJimmy Farm, populasi indukan terkini adalah 14 ribu. “Total seluruh populasi 36 ribu termasuk pejantan, DOC dan pembesaran,” ujarnya. Dan produksi DOC di kisaran 18 ribu – 20 ribu ekor per pekan.

Menurut Benny, breeding ayam kampung tidak bisa satu jenis, mau tidak mau harus kawin silang agar tidak inbreeding. “Sumber ayam kampung bisa dari daerah Jawa, Sumatera atau Kalimantan,” sebutnya. Ia mensyaratkan pengusaha breeding harus tahu jenis dan kualitas ayam kampung calon bibitnya. Ia pun berburu ke daerah asal dan langsung ke peternak lokal. Benny tak mempersoalkan kemurnian ayam yang dicarinya. “Yang penting ayam kampung,” ucapnya. Kualitas ia mampu menilai dengan melihat fisiknya. Misalnya, bentuk dada V tidak U seperti broiler dan warna khas ayam kampung. Berbagai strain dari ayam kampung itu lah yang kemudian ia kawinkan silang.

Benny pun mengakui selain persoalan sulitnya mendapatkan bibit, usaha breeding skala besar menurut dia banyak tantangannya. Risiko tinggi, tidak bisa menyepelekan kualitas karena pertaruhannya terlalu besar, dan pasti perputaran bisnisnya (return of investment/ROI) tak secepat di segmen pembesaran.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012