Hot Issue
01 January 2008
Harga Pakan: Naik Lagi, Naik Lagi ...

Tercatat dalam kurun enam bulan, harga pakan naik delapan kali. Sudah semestinyakah?

Desember 2007, tutup tahun  kelabu bagi komunitas perunggasan. Bukan hanya soal hujan dan angin yang merepotkan ?anak kandang? hingga harus ekstra cekatan mengatur manajemen pemeliharaan. Kali ini jauh lebih memusingkan. Peternak repot dengan harga pakan yang terus meroket. Heri Darmawan, peternak asal Ciamis yang juga ketua Persatuan Peternak Ayam Nasional (PPAN) mencatat pada pertengahan Desember lalu harga pakan broiler di wilayahnya telah mencapai kisaran Rp 3950 - 4150/kg.  Sedangkan di Jogjakarta ? berdasarkan keterangan Hari Wibowo, ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (APAYO) ? harga pakan broiler pada periode yang sama di tingkat peternak tak jauh dari Rp 4000 - 4050/kg. Angka ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga pakan pada 5 ? 6 bulan sebelumnya yang tidak lebih dari Rp 3050/kg.
Bambang Rudianto, Technical Services dan Sales Supervisor PT Japfa Comfeed Indonesia tidak menafikkan kenaikan harga pakan ini. Saat ditemui TROBOS di Malang beberapa waktu lalu, Bambang mengatakan terhitung sejak 16 Juli hingga 17 Desember 2007 terjadi paling tidak delapan kali kenaikan harga pakan. Berdasarkan catatan Bambang, total kenaikan harga pakan selama 6 bulan terakhir  mencapai Rp 1075/kg. Secara rinci, Bambang menyebutkan pada 16 Juli harga per kg pakan broiler naik Rp 50, berlanjut 1 Agustus Rp 50;17 September Rp 150; 26 September Rp 200; 1 Oktober Rp 200; 26 November Rp 150, 10 Desember Rp 100 dan terakhir 17 Desember Rp 175.  
Logikanya, berapapun harga pakan sudah dan akan naik tentu tidak bakal ?memusingkan? peternak  jika harga jual ayam serta merta dapat dinaikkan. Faktanya tidak demikian. Peningkatan biaya produksi oleh melonjaknya harga pakan tak cukup mendongkrak harga ayam ex-farm. Lagi - lagi lantaran masalah klasik, harga ayam masih di bawah kendali para tengkulak/broker ayam. Di sisi lain 60 - 65 % biaya produksi untuk pemenuhan pakan.  Hari Wibowo saat ditemui TROBOS mengatakan, untuk wilayah Jogjakarta, pada pertengahan Desember lalu, Break Event Point (BEP) pemeliharaan broiler ada pada level Rp 9200. Sementara ayam dari peternak hanya dihargai Rp 8300/kg. ?Angka ini dengan perhitungan harga DOC (Day Old Chick)  Rp 2000. Belum kalau naik lagi!? Hari sedikit gusar.

Harga Bahan Baku Naik
Fenny Firman Gunadi, sekjen Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) berkomentar, ?Kalau bicara cost driven (harga ditentukan oleh biaya produksi - red) memang seharusnya naik!?.  Fenny mengelak kenaikan ini menguntungkan feedmill (pabrik pakan). Lanjut dia, alih-alih mencari untung lebih, fenomena naiknya harga pakan tak lebih sekedar upaya agar feedmill tetap bertahan dan ?terus bernafas?.
Harga naik lantaran harga bahan baku pakan yang melejit belakangan ini. Sebut Fenny, awal Desember harga Meat Bone Meal (MBM) mencapai 620 USD/ton, Dedak Rp 1700/kg di wilayah Sumatera, Corn Gluten Meal (CGM) hingga 680 USD /ton, Soy Bean Meal (SBM) 440 USD/ton dan Crude Palm Oil (CPO) Rp 7400/kg.
Dan unsur terpenting yang juga belum lepas dari minimnya kuantitas adalah jagung. Kondisi sekarang, material yang menempati porsi tak kurang dari 50 % komponen penyusun pakan ini, sebagian masih impor. Dampaknya, situasi apapun yang yang terjadi di negara-negara produsen jagung akan berimbas ke negara importir, termasuk Indonesia.
Desianto Budi utomo, Vice President Feed Technology PT Charoen Pokphand Indonesia, dalam diskusi Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) beberapa waktu lalu di Cibubur-Jakarta, menyebut lima negara besar produsen jagung dunia. Amerika, China, Brazil, Mexico dan Argentina. Dan Amerika adalah sumber utama jagung kebutuhan feedmill Indonesia. Celakanya, saat ini negara Paman Sam tersebut sedang gencar memproduksi biofuel (bahan bakar nabati) dengan jagung sebagai bahan baku utama. Tak pelak, jumlah jagung yang selama ini diekspor mencapai 68% dari total produksi jagung Amerika menjadi berkurang dan diperebutkan. Alhasil harga pun melonjak (Tabel).
Tak hanya terkendala di bab jumlah. Pengenaan bea masuk (BM) jagung sebesar 5 % per kg dituding Fennysebagai masalah yang semestinya tidak ada. Meski ?hanya? 5 %, nilai ini signifikan pada harga pakan. Dimisalkan Fenny, jika harga jagung terhitung Rp 2000/kg, maka BM 5% bernilai Rp 100. Yang tidak bisa dilupakan, 50 % dari total komposisi pakan adalah jagung. Artinya nilai Rp 100 ini akan menambah harga pakan sebesar Rp 50. ?Ini angka yang tidak sedikit bagi peternak. Mahal!? ujar Fenny sengit.
Terpisah, Djajadi Gunawan, Direktur Non-ruminansia, Ditjennak kepada TROBOS berujar, ?Soal penghapusan BM jagung dikaji dengan banyak aspek?. Satu hal, kata Djajadi, jangan sampai petani jagung dirugikan dengan adanya penghapusan BM. ?Pemerintah sedang gencar menggalakkan menanam jagung. Khawatir nantinya produksi melimpah. Jika jagung impor masuk tanpa BM, maka harga jagung lokal bisa jeblok. Jadi kesemua itu perlu dikaji!? tegas Djajadi.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Januari 2008