Hot Issue
01 April 2008
Demi Keuntungan, Closed House Jadi Pilihan

Peningkatan kepadatan, efisiensi, kenyamanan dan kesehatan adalah sekian alasan dipilihnya closed house, karena ujungnya keuntungan
 
Penegasan peningkatan efisiensi dan produktivitas yang bisa diraih melalui penggunaan kandang tertutup ?biasa dikenal dengan closed house? dibandingkan dengan kandang terbuka antara lain dikemukakan Stefan?s Julius, Divisi Poultry Equipment  PT Charoen Pokphand Indonesia. Kepada TROBOS ia menyajikan fakta aplikasi kandang tertutup untuk breeder (ayam bibit) atau broiler, dengan luasan kandang yang sama bisa menampung ayam lebih banyak. ?Populasi bisa ditingkatkan hingga 66 %,? sebut Stefan?s.
Ditemui terpisah, Deddy Kurnia, General Manager Gemilang Poultry lebih rigid menyebut angka kapasitas tampung dengan sistem tertutup memungkinkan ditingkatkan menjadi 10 ekor/ m2. Bahkan bisa 18 ekor/m2 apabila aplikasinya full automatic closed house. Sementara kapasitas tampung yang biasa diistilahkan sebagai density (kepadatan) ini, pada kandang terbuka menurut Deddy tak lebih dari 8 ekor/m2.
Angka lebih tinggi lagi berani disodorkan Jahja Tedjasukmana, Direktur Euriatec Indonesia. Dengan satuan kilogram, Jahja menampilkan data hasil pengamatan dari sebuah kandang tertutup (full closed house) di Semarang, Jawa Tengah. Dari kandang tersebut, broiler dengan berat rata-rata 1,6 kg bisa tertampung sebanyak 20 ekor/m2. Artinya tiap m2  kandang tertutup dapat menampung sekitar 32 kg bobot badan. Tidak cukup, Jahja pun membandingkan nilai capaian tersebut dengan hasil produksi kandang tertutup farm yang sudah bisa dinikmati peternak di Thailand. ?Di sana bisa sampai 40 kg/ m2. Kita masih ketinggalan,? kata Jahja menyayangkan.
Keuntungan yang sama akan dialami peternak layer dengan modernisasi kandangnya. Dengan menghitung bobot telur yang dihasilkan, Jahja memberikan angka peningkatan produksi dari konversi kandang terbuka ke kandang tertutup bisa mencapai 10 ? 20 %.

Sesuai Kebutuhan Ayam
Mengoptimalkan produksi, mengefisiensikan biaya, Jahja menunjuk Malaysia sebagai salah satu referensi percontohan. Dalam hal ini inovasi menjadi sebuah keharusan. Dituturkan Jahja, Negeri Jiran itu telah memodernisasi hampir 90 % kandang-kandang unggas yang ada. ?Malaysia sudah mengkonversi kandang terbuka sederhana menuju teknologi dan mekanisasi kandang tertutup,? ujar Jahja.
Pada prinsipnya, kandang model ini menghadirkan sebuah sistem sedemikian rupa, sehingga suhu, kelembaban, pergerakan udara, dan pencahayaan dapat diatur sesuai kebutuhan ayam. Secara umum, ada tiga macam kandang tertutup yang banyak ditemukan di lapangan. Yang pertama adalah sistem tunnel (terowongan), menggunakan fan dan tirai tanpa cooling system. Kedua, full closed house, terdapat fan, cooling system, dan tirai/penutup dinding samping. Dan ketiga adalah full automatic closed house, kandang tertutup dengan desain dan peralatan interior serba otomatis.
Secara umum, kandang tertutup memiliki material tambahan dibanding kandang terbuka. Diantaranya, kipas/fan (exhaust fan, blower fan, ceiling/roof fan), material pendingin seperti evaporative pad, dinding kandang  (tirai, curtain system), filter cahaya, air inlet, lighting system, control panel dan electrical system.

Tunnel Paling Cocok
Dan menurut Jahja, model tunnel adalah yang paling cocok untuk daerah beriklim tropis semacam Indonesia. Sistem ini mengadopsi aliran udara di terowongan (tunnel). Udara dihisap sehingga masuk dari ujung satu (inlet), dan keluar pada ujung lainnya (outlet). Cara ini memungkinkan pertukaran udara sangat cepat. Kandang tertutup yang baik umumnya memiliki kecepatan gerak udara 1,5 ? 2,5 m/detik. Dimaksudkan, keluar masuk udara kotor dan udara bersih senantiasa berimbang. Sementara Deddy sempat menyebut, idealnya keberadaan udara dalam kandang tidak lebih dari 1 menit. Maksudnya, sebelum 1 menit, udara itu harus segera mengalir keluar, untuk digantikan udara yang ?baru?.
Dengan desain sistem tersebut, aspek kritis yang didefinisikan sebagai ventilasi kandang terpenuhi. Para ahli mensyaratkan, dalam menciptakan kandang yang nyaman dan sehat, di samping suhu, ventilasi haruslah optimal.
Menurut Jahja, ventilasi atau pergantian udara, bertujuan menyediakan udara sehat bagi ayam. Tapi Jahja pun tak bisa memungkiri, di lapangan masih banyak peternak abai soal ini, yang berakibat tingginya potensi timbulnya penyakit. Konstruksi kandang yang banyak ditemui minim akan sistem ventilasi yang memadai. Akibatnya, sirkulasi udara dalam kandang tidak berjalan dengan baik. Dan dampak negatifnya udara kotor (mengandung karbondioksida, amonia dan bibit penyakit) dalam kandang tidak berhembus keluar. Sebaliknya, udara bersih dari luar kandang tidak cukup banyak menerobos masuk.
Udara diam yang kerap diistilahkan sebagai ?angin mati? ini menurut  Jahja cukup mengusik kenyamanan ayam. Bahkan, Jahja menegaskan, ?Sangat membahayakan.? Diterangkan Jahja, angin mati yang terkontaminasi NH3 (amonia) ini bersifat meracuni. Dan memiliki efek melemahkan daya tahan tubuh sehingga berbagai penyakit mudah menjangkiti ayam. ?Bagaimana ayam bisa sehat, kalau yang dihirup adalah amonia?? tanya Jahja retorik.

Efisiensi Automatic Feeding
Untuk mengoptimalkan kemanfaatan kandang tertutup Jahja menyarankan penggunaan alat makan otomatis. Jahja memaparkan hal ini berdasarkan pertimbangan kepadatan ayam dalam kandang sehingga tidak memungkinkan orang (anak kandang) berlalu lalang mengganti pakan.
Dipaparkannya, apabila kandang sudah dibuat tertutup, tetapi tempat pakan masih menggunakan sistem manual maka efisiensi yang dihasilkan akan berbeda dengan kandang tertutup yang dilengkapi dengan tempat pakan otomatis. Kepadatan ayam pasti akan berkurang, 3 sampai 4 ekor. Deddy menunjukkan optimalisasi kandang tertutup dengan tempat pakan otomatis (automatic feeding) memungkinkan kepadatan hingga 18/m2. ?Tapi kalau dibuat kandang tertutup dengan tempat pakan masih manual, maka kepadatan paling banter 14-15/m2,? ia mencontohkan. 
Selain dari sisi kepadatan, automatic feeding juga dapat meminimalisir pakan yang tumpah atau berceceran. Satu fakta disodorkan Jahja. Pada layer, berdasarkan banyak pengalaman di lapang, pemberian pakan dengan cara manual kerap secara tidak sengaja menumpahkan pakan hingga 10 gram/hari. Dengan menggunakan automatic feeding, pakan yang tumpah ini bisa ditekan. ?Perhitungkan dalam satu tahun 10 gram dikalikan sekian rupiah harga pakan, dikalikan lagi jumlah populasi, berapa banyak rupiah terselamatkan?? Jahja setengah bertanya sembari mengajak berhitung. 
Hidayaturrahman, peternak layer kawakan di Blitar, Jawa Timur yang telah memanfaatkan kandang tertutup, saat diminta keterangannya mengakui keuntungan yang diperolehnya. Peternak dengan populasi ratusan ribu layer ini menuturkan automatic feeding mampu meningkatkan efisiensi pakan hingga 2-3 kg/ekor dalam 80 minggu pemeliharaan. ?Saya sudah membuktikan selama satu periode, kurang lebih 1,5 tahun,? pria dengan sapaan akrab Hidayat ini meyakinkan. Ia melakukan perbandingan dengan jenis dan umur ayam yang sama, dengan kandang bersebelahan yang diberi pakan secara manual.
Selain itu, Hidayat menambahkan, automatic feeding membuatnya bisa mengatur frekuensi pemberian pakan sesuai keinginan. Maksudnya ia lebih mudah memberikan pakan dengan jumlah sesuai kebutuhan, dalam frekuensi yang lebih sering. Hidayat berujar, ?Semakin sering frekuensi pemberian, pakan lebih fresh sehingga produktivitasnya juga semakin bagus tho??

Selengkapnya baca majalah TROBOS edisi April 2008