Trobos Utama
01 July 2008
Lihat Modelnya...

Menguasai prinsip dasar desain dan peralatan sebuah RPA bisa menghindarkan pelaku dari merugi

Usaha Rumah Potong Ayam (RPA) tak bisa lepas dari sarana, alat dan konsep penataan. Dari aspek usaha, menguasai prinsip dasar desain dan peralatan sebuah RPA bisa menghindarkan pelaku dari kemungkinan merugi. Hal ini dikemukakan Sonny Handoko MBtc, perancang dan konsultan pengembangan RPA. Dengan prinsip itu, katanya, penyesalan yang akan menambah biaya di belakang bisa dihindari. Jangan sampai investasi kelak bermasalah dengan lokasi, akses transportasi, bahkan sampai mubadzir.
Selebihnya, memahami membuat desain RPA yang terstandar dengan baik juga penting sebagai upaya pemenuhan pangan yang aman dan sehat untuk dikonsumsi. ?Dalam memenuhi prinsip-prinsip kebersihan/higiene, RPA harus tertata dengan baik mulai dari lokasi sarana dan fasilitas, peralatan, orang-orang hingga proses dan manajemennya,? ujar  Denny W Lukman, pakar higienitas pangan dari FKH IPB.
Soal rincian standarnya, Dirkesmavet pun telah menyiapkan. Yakni SNI (Standar Nasional Indonesia) Rumah Potong Unggas (RPU) No 01-6160-1999 tahun 1999. Difungsikan sebagai acuan untuk memperoleh kualitas daging unggas yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). Prinsip dasar perencanaan fisik bangunan RPA adalah dibangun di tempat yang tepat, desain / lay out yang tepat, peralatan yang sesuai, lengkapdan menjadi tempat kerja yang manusiawi.

Pilih yang Jauh dari Masyarakat
Untuk pemilihan lokasi, Sonny menyarankan, sebaiknya RPA didirikan di lokasi yang jauh dari masyarakat/tempat tinggal agar kelak tak menimbulkan masalah. Untuk wilayah yang jauh dari kota, sebaiknya memilih lahan yang kurang subur. "Ada 2 keuntungan, yaitu tidak mengurangi lahan pertanian produktif dan yang jelas umumnya harga lebih murah," terang Sonny. Di kawasan yang dekat perkotaan, kawasan industri patut dijadikan pilihan karena jelas tak mengganggu warga. Selanjutnya, mutlak bebas banjir, tersedia jaringan listrik dan kemudahan akses jalan yang sesuai dengan kendaraan angkut material pembangunan, angkutan ayam serta angkutan produk.
Bukan itu saja, lokasi yang baik haruslah terbuka sehingga sinar matahari bisa masuk lokasi (full daylight) dan sirkulasi udara lancar. Hal ini akan membantu sanitasi lingkungan, karena terhindar genangan dan area yang lembab akan cepat kering.
Lokasi yang menyendiri kemungkinan besar lebih baik dari sisi kualitas air tanah, karena potensi kedekatan dengan sumber pencemaran lebih rendah. Sebab ketersediaan air bersih yang cukup adalah syarat mutlak bagi RPA. ?Kebutuhan air rata-rata 10 liter/ekor. Belum termasuk air untuk membersihkan keranjang ayam (cage), truk, dan ruangan,? kata alumni FKH UGM ini. Sehingga, debit air harus mencukupi.
Sementara itu Joko Saryanto Manajer Umum Royan Chicken Processing (RCP) menambahkan kalau perlu dibuat beberapa sumur, yang masing-masing diuji mutu dan debitnya agar kelak tidak keteteran memenuhi kebutuhan air. Membuat banyak sumur memang memperbesar modal di awal, namun selanjutnya sangat murah  karena tidak direpotkan dengan biaya rekening air PAM. Sayangnya, di perkotaan yang air tanahnya tidak memenuhi baku mutu, mau tak mau harus mengandalkan pasokan dari PAM.
Menurut Yanto?panggilan akrab Joko Saryanto?, untuk memenuhi kebutuhan air RPA-nya yang saban hari memotong sekitar 6000 ? 7000 ekor ayam, ia menggali 7 sumur. Kualitas air yang bagus, akan ikut membantu menghasilkan produk yang bermutu, higienis dan tahan lama.

Bangunan Membujur
Soal bangunan, Sonny mengaku lebih menyukai bangunan RPA membujur dari utara ke selatan. Dengan demikian bangunan akan selalu mendapat sinar (fullday light), sehingga dengan desain jendela tertentu akan menghemat penggunaan listrik untuk penerangan pada siang hari. Bangunan RPA harus kuat, sehingga tidak berpotensi retak. Retakan akan berpotensi sebagai tempat tinggal kontaminan dan hewan/serangga, karena sulit dibersihkan.
Bahan bangunan dan pelapis yang dipakai harus tidak berpotensi sebagai kontaminan, seperti mudah lepas/rontok, lapuk ataupun berkarat. ?Bisa saja dinding bagian tertentu tidak di-aci / dihaluskan, tetapi dilapisi dengan panel pelapis dinding tahan air. Dinding penyekat antar ruangan juga tidak harus selalu tembok, bisa saja dari lembaran panel kuat tahan air, bukan kayu yang mudah dibersihkan,? kata Sonny memaparkan. Keuntungan ekonomisnya, jika terpaksanya suatu saat pindah lokasi, panel ini portable sehingga bisa dipakai lagi di tempat yang baru. Sudut pertemuan dinding bagian dalam dan luar harus dibuat tumpul (diberi lereng 45o) agar mudah dalam pembersihannya.
Lantai harus terbuat dari bahan halus, keras namun tidak licin. ?Granit yang tidak dipoles pilihan terbaik secara teknis,? ujar Sonny. Lantai harus kuat dan bebas dari retakan. Retakan  potensial menyimpan kotoran bahkan di area basah bisa jadi tempat hidup cacing. ?RPA juga harus bebas dari binatang seperti tikus dan binatang-binatang kecil seperti lalat juga kutu (vermin). Sehingga semua potensi tempat masuk dan tempat nyaman bagi mereka harus dihilangkan,? katanya. Maka, lubang ventilasi dan ventilator mekanis mesti dilapisi kasa anti serangga, bukan meniadakan ventilasi. Ventilasi diperlukan agar minimal udara berganti sebanyak 4 siklus/jam,? tegas Sonny.
Pintu dan loket penghubung antar ruangan harus diberi tirai khusus untuk mencegah masuknya lalat dari area kotor. Menurut Yanto, lalat biasanya berasal dari lingkungan sekitar dan dari kandang yang terbawa truk pengangkut  ayam.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Juli 2008