Trobos Utama
01 January 2009
Budidaya Ayam Kampung, Untung

Dengan hitungan sederhana, setidaknya Rp 2 juta/1000 ekor/periode bisa diraup di saat harga jual ?hanya? Rp 21.000/kg

 

Saat peternak ayam ras ?berteriak? atas naiknya harga pakan yang hampir-hampir di luar nalar usaha mereka, peternak ayam kampung masih bisa bertahan. Menurut Pardiyono, peternak ayam kampung masih bertahan karena tertolong naiknya harga jual. ?Saat pakan masih Rp 135.000,-/zak, harga ayam kampung Rp 17.500,-/kg. Sekarang harga pakan naik hampir 100%, harga jual ayam naik Rp 4.500,- menjadi Rp 21.000,-,? tutur peternak yang mampu menyuplai 200 - 500 ekor ayam tiap 3 hari ini. Sementara harga DOC saat ini antara Rp 3.300 - Rp 3.500/ekor.

Bahkan, menurut Pardiyono, bisa Rp 22.000 - Rp 24.000 menjelang natal, tahun baru dan liburan sekolah. Harga tinggi itu bisa berlangsung selama 3 - 4 minggu sampai awal Januari. Harga rendah saat ini akibat tingginya curah hujan yang menghambat transportasi.

Berdasar perhitungan sederhana, keuntungan yang diperoleh dari populasi 1000 ekor saat harga ayam kampung ?hanya? Rp 21.000,-/kg tak kurang dari Rp 2 juta / periode. (Lihat Tabel Analisa Usaha). Saat harga Rp 22.000,-/kg, keuntungannya meningkat menjadi nyaris Rp 3 juta.  ?Tapi itu di atas kertas. Bisa jadi lebih besar saat harga bagus. Tapi bisa jeblok juga saat mortalitas tinggi, DOC buruk, atau terkena penyakit,? kata Pardiyono, peternak dan penetas DOC dari Sleman ini.

Sayangnya, untuk meraup keuntungan setinggi itu terganjal kelangkaan DOC yang diakibatkan langkanya telur tetas. ?Belum ada breeder besar yang membibitkan ayam kampung asli besar-besaran,? kata Maharindra, ketua Asosiasi Peternak Ayam Buras (Asteras) DI Jogjakarta. Untuk memperoleh DOC 1000 ekor saja, mesti menunggu beberapa minggu. Bahkan, sebulan belum tentu dapat. ?Sehingga butuh manajemen yang rapi. Sebelum habis ayam di kandang, sudah harus memesan DOC,? katanya.

 

Diversifikasi Pasar

Meski fluktuasi harga ayam kampung tak setajam komoditas ayam ras, namun antisipasi terpangkasnya keuntungan harus ditekan pula. Musim hujan biasa dibarengi dengan masa rentan penyakit akibat memburuknya kondisi lingkungan. Jika tekanan harga dan wabah terjadi bersamaan, bukan hanya untung yang hilang, bisa-bisa modal juga amblas.

Selain pengiriman ayam ke pangkalan/pasar becek Jakarta, Pardiyono menjalin kerjasama kontrak suplai dengan restoran masakan ayam kampung di Jogja. Kontrak mensyaratkan ukuran min 0,7 ons/ek seharga Rp 20.000,-/ek. ?Harga ditentukan di depan, tidak mengikuti pasar,?katanya.

Porsi berapa ayam yang dijual di pasar / pangkalan dan yang dikontrakbelikan harus diperhitungkan agar saat harga pasar tinggi (bahkan hingga Rp 24.000,-/kg di akhir tahun dan sampai Rp 28.000,-/kg menjelang lebaran) juga tetap kebagian. ?Porsi ini tak bisa ditentukan secara eksak. Tergantung ketersediaan ayam di peternak, kapan waktu kontrak dan pembacaan situasi pasar juga,? tandas Pardiyono.

Saat harga tinggi ayam kampung seakan menghilang karena banyaknya demand, peternak dan pedagang harus memenuhi dulu kewajiban ke pembeli kontrak. ?Kalau tidak cermat mengelola harga dan volume kontrak, kesempatan meraup untung lebih besar bisa amblas. Seperti menonton orang lain berpesta saja,? tuturnya.

Menurut Maharindra setiap hari pedagang pasar Terban mengirim 1 truk (3000 ekor) ayam ke Jakarta. ?Belum terhitung kebutuhan rumah makan ayam goreng dan gudeg yang bertebaran di Jogja,? katanya. ?Masih mendatangkan dari Klaten dan Blitar minimal 2 truk per minggu,? tegasnya. Permintaan untuk kota Jogja saja, yang masuk kepada asosiasi 3000 ekor / bulan. Sementara Maharindra sendiri mengaku setiap bulan hanya mampu memasok 1000 ekor.

 

Selengkapnya baca majalah TROBOS edisi Januari 2009