Trobos Utama
01 October 2010
Bebek Lokal Melejit, Pasokan Sulit

Permintaan tinggi bebek potong lokal tidak diimbangi dengan pasokan memadai. Usaha penetasan telur bebek skala rakyat justru banyak gulung tikar

Tidak kurang dari 1.000 ekor bebek pedaging setiap hari dibutuhkan Hendri Prabowo untuk memasok kelima cabang restoran bebek miliknya di Jakarta. Pemilik Restoran Bekek Kaleyo ini sudah merintis usaha kuliner bermenu bebek sejak 2007. Usahanya pun terus berkembang hingga saat ini mencipai omser ratusan juta rupiah tiap bulannya.
Hendri merupakan satu dari sekian banyak pengusaha kuliner dengan menu utama bebek yang kian menjamur di berbagai daerah. Sudah tidak bisa dipungkiri, beberapa tahun terakhir ini permintaan bebek pedaging meningkat tajam, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Para peternak dan pengusaha kuliner pun meraup untung dari komoditas unggas air ini.
Seiring dengan euforia itu, peternak mulai kewalahan memenuhi permintaan. Kondisi ini dirasakan benar oleh Engko Koswara, peternak bebek di wilayah Batujajar Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Peternak yang bersama kelompoknya memiliki populasi sekitar 20 ribu ekor ini hanya bisa memenuhi puluhan sampai ratusan ekor bebek potong jantan atau afkir per bulannya. Padahal, jika melihat harga, untuk bebek afkir dan jantan ukuran 1,7 ? 2,3 kg harga per ekornya cukup tinggi berkisar Rp 28.000 ? 31.000.
Sayangnya peluang itu belum dimanfaatkan Engko yang hanya menggantungkan pada persediaan bebek jantan dan afkir yang ada. ?Permintaan sih banyak. Ada yang minta 300 - 600 ekor bahkan dari Jakarta ada yang minta dipasok 2.000 ekor bebek potong per minggu. Tapi kami belum mampu penuhi,? ungkap Engko kepada TROBOS beberapa waktu lalu di Bandung.  
Kesulitan pasokan bebek potong ini diakui oleh Hendri. Sejak, April lalu, ia harus memutar otak untuk mengamankan pasokan bebek bebek potong lokal afkir atau jantan untuk meemenuhi kebutuhan usahanya yang terus berkembang. ?Memang setiap tahun pada musim atau bulan tertentu seperti pada saat panen padi pasokan bebek potong berkurang. Peternak tidak menjual bebek karena saat itu banyak pakan berupa sisa panen padi yang ada di sawah. Mereka pun tinggal umbar bebeknya dan tidak perlu kasih makan,? terang pria yang mempekerjakan sekitar 200 karyawan ini.
Selain itu, lanjut Hendri, akibat peternak masih menerapkan pola pemeliharaan yang tradisional dan mengandalkan pakan dari alam. Imbasnya, produktivitas rendah dan populasi tidak bertambah. ?Ini yang menjadi tambah sulit. Padahal kalau peternak mau serius ini kesempatan yang bagus untuk bisa meningkatkan skala usahanya,? tandas mantan karyawan perusahaan di bidang automotif yang memilih menjadi pengusaha ini.
Ditambahkan Hendri, euforia bisnis kuliner bebek yang menjamur di Jogjakarta saat ini membuat pasokan bebek lebih banyak terserap ke kota itu. Ditunjang pula, mereka mudah mendapat pasokan karena sentra bebek berada sangat dekat dengan Jogjakarta yaitu di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. ?Meskipun tren sesaat tapi itu membuat kami kesulitan mendapatkan bebek. Dari sisi transportasi kami kalah karena mereka lebih dekat. Ini yang membuat kelabakan,? keluhnya.
Untungnya, lanjut Hendri, banyak pemasok bebek yang loyal dan tetap rutin mengirim bebek potong kepadanya. ?Saat ini ada sekitar 22 pemasok yang rutin mengirim seperti dari Balaraja Tangerang, Karawang, Tegal, Brebes, Cirebon, Kudus, Solo, Mojokerto, Sragen, Kendal, bahkan dari Jogjakarta juga,? terangnya.

Penetasan Rontok
Berkah dari tingginya permintaan bebek potong lokal justru tidak dirasakan pelaku penetasan telur bebek sebagai penyedia DOD (Day Old Duck/bebek umur sehari). Satu per satu malah habis tergerus keterbatasan akses informasi mengenai peluang pasar yang ada. Seperti yang terjadi di Kabupaten Indramayu, dari sekitar 12 penetas telur bebek yang dulu ada, tinggal 3 pelaku saja yang bertahan. Itupun 2 di antaranya hanya melakukan penetasan secara musiman, dalam skala kecil, dan untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
Menurut  Yayan Multayang, Ketua Koperasi Cemara, yang mengelola penetasan dengan kapasitas 60 ribu telur bebek per bulan di daerah Lohbener Indramayu, permasalahan tutupnya usaha penetasan telur bebek ini karena kurangnya pemasaran. ?Mereka kurang optimal dalam memasarkan produknya. Mungkin tidak tahu pasar atau memang pelanggannya sedikit. Bisa juga karena tidak bisa memegang kepercayaan konsumen seperti ketika ada yang beli DOD bebek betina saat harga mahal malah dicampur dengan jantan. Lalu, pada saat masa produksi ketahuan jantan sehingga konsumen kecewa,? ungkapnya. 
Padahal, lanjut pria yang memiliki lemari penetasan sekitar 100 buah dengan kapasitas setiap lemari 600 ? 800 butir telur ini, pemasaran untuk hasil usaha penetasan bebek lokal ini sangat terbuka. Tidak kurang dari Rp 70 juta per bulan, omset dari usaha skala rakyat ini bisa diraih. Apalagi dengan tingginya permintaan bebek potong lokal untuk usaha kuliner membuat harga DOD terdongkrak khususnya jantan.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Oktober 2010