Trobos Utama
01 October 2010
Merajut Pembibitan Bebek Peking

Usaha pembibitan dikembangkan baru untuk memenuhi pasokan DOD ke peternakan sendiri

Tidak kalah dengan bebek lokal, bebek peking pun berpacu untuk meraih segmen pasarnya sendiri. Permintaan dari usaha pengolahan yang menggunakan bahan dasar dari bebek tipe pedaging ini juga terus meningkat. Seperti yang dialami Libert JP Silaban peternak bebek peking di daerah Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Ia terus kebanjiran permintaan bebek peking meskipun belum mampu memenuhi semua permintaan yang ada.
Jelang lebaran kemarin saja, ia bisa menjual 10 ribu ekor bebek peking hanya untuk wilayah Bandung. Sementara, untuk permintaan bulanan Libert masih keteteran. “Untuk 1 klien di Batam saja sudah minta dikirim 4.000 ekor per bulan, belum lagi untuk klien yang lain. Namun kami belum sanggup penuhi karena produksi masih sedikit,” ungkap Libert kepada TROBOS beberapa waktu lalu.
Pria yang memiliki peternakan bebek peking dengan populasi sekitar 3.500 ekor ini menjelaskan, baru mampu memasok sekitar 6 ribu ekor per bulan untuk wilayah Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Bebek yang dikirim dalam bentuk karkas dengan berat sekitar 0,9 – 1 kg yang dijual sekitar Rp 32 ribu. “Jumlah pasokan segitu sebenarnya masih kurang karena baru bisa memenuhi sekitar 60% dari permintaan. Itupun dibantu pasokannya dari beberapa peternak mitra di daerah Bandung Barat,” ujar pria yang akan membangun kandang dengan kapasitas sekitar 8 ribu ekor ini.
Pensiunan pegawai di sektor telekomunikasi yang mulai terjun di bisnis bebek peking secara mandiri sejak setahun lalu ini berpendapat, alasan usaha di bebek peking ini karena prospeknya sangat menjanjikan. “Proses pemeliharaan tidak terlalu susah dan tidak membutuhkan waktu lama karena maksimal 45 hari sudah bisa panen. Apalagi bebek peking ini lebih tahan terhadap stres,” ujar pria yang mengaku usahanya beromset Rp 180 juta per bulan.
Hal yang sama disampaikan Communication Manager PT Wonokoyo Jaya Corporindo, Heri Setiawan. Heri mengatakan, komoditas bebek merupakan peluang yang cukup menjanjikan karena tidak terlalu berbeda dengan ayam ras. “Industri perunggasan melirik komoditas ini sebagai upaya diversifikasi dari pola yang sudah baku yakni industri ayam ras pedaging (broiler) dan petelur (layer) yang kompetisinya sudah ketat. Apalagi kebutuhan akan bebek meningkat tajam beberapa tahun terakhir seiring dengan menjamurnya usaha hilir bebek,” jelas Heri.
Sementara itu, General Manager PT Malindo Feedmill Tbk, Rewin Hanrahan mengatakan, meningkatnya konsumsi bebek mengindikasikan pola konsumsi masyarakat sudah kreatif. Masyarakat sudah mulai mencari variasi makanan selain daging ayam atau sapi terutama untuk bebek peking yang memiliki segmen ekonomi menengah ke atas. “Kondisi ini cukup menggembirakan karena kemungkinan besar ekonomi dan pendapatan masyarakat sudah meningkat,” kata Rewin.

Suplai Internal
Di tingkat peternak bebek peking, kendala yang dihadapi dalam pemeliharaan adalah sulitnya mendapatkan DOD (Day Old Duck/bebek umur sehari) karena pasokannya masih tergantung dengan pihak lain. Untuk peternakan milik Libert saja harus mendatangkan DOD dari wilayah Semarang, Siduarjo, Lumajang, dan Kediri. Dengan transportasi yang jauh membuat harga DOD bebek peking cukup mahal dikisaran Rp 10.000.
“Kesulitan mendapatkan DOD ini tantangan bagi kami. Kalau terus tergantung sama pihak lain bisa berimbas pada usaha yang sulit berkembang dan pasokan ke konsumen yang tidak terjaga. Makanya, kami mencoba melakukan pembibitan untuk memenuhi kebutuhan sendiri,” ujar Libert.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Oktober 2010