Trobos Utama
01 April 2011
Optimalkan Margin Bisnis Sapi Potong

Mulai dari efisiensi pakan sampai menggarap sektor hilir merupakan cara untuk mengoptimalkan keuntungan beternak sapi potong
    
Turunnya harga sapi potong, sementara harga daging tetap tinggi membuat peternak mengeluh. Sebenarnya peternak bisa bertahan dengan menggarap segmen hulu-hilir secara simultan, untuk optimasi margin. Agaknya peternak sapi mesti kembali mengingat prinsip dasar berbisnis, yaitu mendapatkan margin.
Pemikiran tersebut dikemukakan Ilham Akhmadi, peternak muda yang tinggal di desa sentra sapi yaitu Desa Wonokromo Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul Jogjakarta. “Peternak seharusnya berhenti mengeluh. Ingat, meskipun harga jual sapi kita murah, kita juga kulakan bakalan dengan  harga yang murah juga. Masih ada margin-nya,” ungkapnya blak-blakan.
Menurut Ilham apa artinya harga sapi tinggi kalau peternak juga kulakan bakalan dengan harga mahal. “Jatuhnya margin hampir sama,” katanya. Harga sapi murah inipun dianggap Ilham menjadi peluang untuk memperbanyak populasi. “Ibaratnya kalau dulu uang Rp 80 juta cuma dapat sapi bakalan 8 ekor, sekarang bisa dapat 10 ekor. Bahkan bisa jadi uangnya sisa,” terang kandidat master dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada ini.

Optimasi Margin
Dari beberapa kali perbincangan dengan Ilham, disimpulkan masih banyak jalan untuk mengoptimasi margin usaha sapi. Namun ia memberi catatan, kiat-kiat yang dikemukakannya itu hanya berlaku kalau peternak menerapkan sistem jual beli sapi hidup dengan timbangan. “Semua terukur, jelas, dan adil,” katanya. Artinya, sistem taksiran jogrogan alias gelondongan memang sudah saatnya ditinggalkan.
Secara teoritis, peternak bisa mengoptimalkan margin dengan menekan biaya, mencari sumber pemasukan lain dari siklus produksi untuk menyubsidi biaya, dan meningkatkan nilai tambah produk akhir (menggarap hilir/pasca produksi). Menaikkan harga jual jelas tidak masuk akal karena harga jual sapi bersifat market driven.
Biaya yang paling masuk akal ditekan adalah biaya pakan sebagai komponen terbesar. Caranya dengan mencari bahan pakan alternatif berkualitas yang pasokannya kontinu, dan menaikkan efisiensi pakan (dengan olah komposisi maupun teknologi).

Optimasi Pakan
Optimasi pakan melalui aplikasi teknologi pakan disesuaikan dengan jenis bahan pakan yang bisa disediakan secara kontinu oleh peternak. “Jangan anggap teknologi itu mesti rumit, yang sederhana pun hasilnya bagus,” tandas pemilik bendera Restu Bumi Farm ini.
Sebagai contoh, Ilham melakukan perebusan pada pakan penguat berupa kulit ari kedelai (kleci). Ia pun menambahkan suplementasi bahan pakan yang murah namun nilai energinya tinggi, yaitu ketela pohon (TROBOS edisi Juli 2008).
Hasilnya, Ilham mengaku sangat mudah mendapatkan ADG (Average Daily Gain) 1,8 - 2 kg hanya dengan pakan seharga Rp 25.000, atau setara margin Rp 5.500 – 7.500/kg. Tanpa teknologi racikannya yang kini justru sedang dia teliti untuk menyusun tesis itu, butuh biaya Rp 34.000 untuk mendapatkan ADG yang sama.
“Artinya untuk memperoleh pertambahan bobot 1 kg/hari diperlukan pakan seharga Rp 17.000 sampai dengan 20.000. Dengan harga sapi hidup Rp 20.000 -  22.000/kg, maka peternak hanya punya margin Rp 2.000 - 3.000/kg bobot hidup,” paparnya panjang lebar.
Berbeda dengan Ilham, drh Suparto – manajer kelompok peternak sapi Gunungrejo Makmur (GM) II juga melakukan terobosan dengan mengusahakan sumber pendapatan untuk subsidi biaya pakan. Kelompok ini bersinergi dengan koperasi peternak ayam petelur (layer) Gunungrejo Makmur I untuk pengadaan slamper atau tumpi biji jagung dari pabrik pakan.
 

Baca artikel selengkapnya di majalah Trobos Edisi edisi April 2011