Trobos Utama
01 July 2011
Kemitraan Broiler Era Peternak Plasma

Selain kian leluasa memilih bergabung dengan kemitraan manapun, peternak plasma tak dipusingkan dengan fluktuasi pasar dan modal utama

Kandang broiler (ayam pedaging) milik Suparno di di Domas, Munggur, Mojogedang, Karanganyar, Jawa Tengah itu semula dioperasikannya secara mandiri (1990). Tak mampu bertahan dengan kerasnya kompetisi pasar, di 2001 akhirnya ia memutuskan bergabung dalam kemitraan PT MTM, perusahaan asal Malang. “Hanya setahun, kemudian bermitra dengan PT PKP sampai 2011,” kata Suparno. PT PKP (Primatama Karya Persada), perusahaan kemitraan ayam berskala nasional dengan afiliasi pada sebuah perusahaan pakan ternama.

Suparno bercerita, menjadi peternak mandiri kerapkali babak belur karena harga jual sering dimainkan (baca: dijatuhkan) oleh perusahaan kemitraan. Perusahaan-perusahaan ini punya stok banyak, sehingga mudah mempermainkan harga. Banyak peternak mandiri yang gulung tikar kala itu, dan kini nyaris tak ada peternak mandiri tersisa.

 

Plasma Leluasa Memilih

Suparno menyebutkan alasan, putus hubungan kontrak dari PT XYZ (nama asli disamarkan) ketika itu karena mencari kemitraan yang penjualan ayamnya lancar. Ia memberi penjelasan panjang. Secara kualitas, diakuinya PT XYZ paling bagus dibandingkan dengan perusahaan kemitraan lainnya. Kualitas DOC,pakan,serta layanan teknisnya bagus sehingga menghasilkan broiler kualitas prima. Pembayaran pun diakuinya paling lancar.

Sayang, penjualan agak seret. Panen mencapai umur 50 hari (bobot 2 kg lebih), sementara perusahaan kemitraan lain panen umur 35 – 40 hari (bobot 1,5 – 1,7 kg). Meskipun kualitas broiler bagus, tapi hasil tak sebanding dengan masa pemeliharaan yang lama. “Peternak harus keluar biaya ekstra untuk pakan dan obat,” keluhnya. Kerugian lain yang ditanggung, peternak hanya produksi 4 kali setahun karena siklus yang terlalu panjang. Padahal normalnya, peternak bisa produksi 6 kali setahun.

Menurut Suparno, ini karena PT XYZ cabang Solo tidak diberi wewenang menentukan harga. Harga penjualan ditentukan kantor pusat (wilayah) di Semarang. Alhasil penjualan jadi molor karena menunggu koordinasi dengan Semarang, belum lagi harga  kerap tak sesuai dengan harga lokal (Solo dan sekitarnya).

Bermitra dengan PT ABC (nama asli disamarkan) masuk siklus kedua Juli ini, Suparno kembali mengaku mempertimbangkan berganti lagi induk kemitraan. Pasalnya, panen pertama bulan lalu mengecewakan. “Hasil panen jeblok karena DOC (anak ayam-red) yang saya terima jelek,” ujarnya antara kecewa dan sesal. Tetapi ia masih mencoba 1 siklus lagi.

Hasil panen periode kedua nanti akan menentukan dia untuk mengambil keputusan. Bukan tidak mungkin akan kembali bermitra dengan PT XYZ, karena jalinan hubungan yang baik dengan perusahaan tersebut dan masih ditawari untuk bekerjasama.

 

Era-nya Peternak Plasma

Hari Wibowo, pemilik perusahaan kemitraan Duta Technovet membenarkan, ke depan merupakan era-nya peternak plasma. Berbagai cara ditempuh perusahaan inti untuk menarik hati peternak bergabung sebagai plasma. Dan yang paling umum dilakukan adalah bersaing menawarkan kontrak yang menarik. Alhasil, peternak kini semakin leluasa memilih bergabung dengan kemitraan manapun.

Termasuk di Jogjakarta. Hari yang area bisnisnya terutama di Jogja dan berkantor pusat di Kota Gudeg ini mengatakan, meski banyak kandang kosong, kapasitas kandang broiler di Jogjakarta tumbuh 5% dalam setahun.“Yang bertambah kapasitasnya, bukan jumlahnya. Yang tumbuh bukan kandang internal inti, tapi justru kandang plasma,” ungkapnya.

Kemitraan di Jogja, menurut Ketua Apayo (Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta) ini, ada yang mati tapi banyak yang tumbuh atau datang dari daerah lain. Salah satu daya tarik Jogja bagi tumbuhnya kemitraan baru ataupun masuknya cabang kemitraan dari daerah lain adalah keterbukaan dan mudahnya berkomunikasi antar para pelaku di wilayah ini.

 

Pasar, Tanggung Jawab Inti

Hari membenarkan.  Peternak plasmasaat ini dan selanjutnya tak terpengaruh oleh dinamika pasar broiler yang semakin keras karena pasar menjadi pekerjaan inti. Bermodal Rp 1.200/ekor, konsentrasi pada pengelolaan yang standar, mencapai performa maksimal, peternak plasma bisa meraup penghasilan Rp 5 juta/bulan untuk populasi 5.000 ekor broiler. “Modal yang sangat besar untuk pakan, DOC,dan obat sudah dipenuhi inti, risiko minimal. Pasar jadi tanggung jawab inti,” katanya.

 

Cerdas Pilih Inti

Banyaknya kemitraan tak pelak menyebabkan terjadinya saling ‘rebutan’ plasmadengan iming-iming harga kontrak panen yang tinggi dan banyak bonus prestasi.Sayangnya peternak plasma biasanya hanya menghitung dari penawaran yang tertera dalam kontrak.

Padahal menurut Hari, peternak harus lebih cerdas dengan membuktikan Sapronak (sarana produksi peternakan) yang diberikan oleh inti. “Mungkinkah Sapronak yang diberikan itu nanti menghasilkan performa sebagaimana tertera dikontrak. Peternak juga sebaiknya melihat performa dan rata-rata revenue peternak lain yang lebih dulu menjadi plasma perusahaan tersebut,”  terangnya. Banyak peternak plasma tergiur kontrak di atas kertas yang akhirnya kecewa karena  sulit mengejar performa, ujung-ujungnya penjualan panenan minim.

Modus lain, kontrak di atas kertas ‘menggiurkan’ namun dibuat dengan rumus variabel bonus yang banyak dan cenderung rumit. Sehingga plasma yang mencapai indeks performa (IP) tinggi pun akhirnya tak bisa mendapatkan pendapatan optimal karena beberapa variabel bonus tak terpenuhi.  “Kasihan plasma, jika memelihara 3 ribuan ekor dengan IPdi atas 300 tapi hanya mendapat Rp 4 jutaan. Itu baru menutup biaya operasional yang Rp 1.200/ekor, plasma tidak dapat apa-apa,” kata Hari.

 

Inti juga Rawan Kebobolan

Jika plasma rawan tertipu oleh kontrak yang rigid dan Sapronak yang jelek, inti bisa kebobolan karena salah menentukan variabel performa dalam kontrak, penambahan pakan, sulapan performa panenan, dan ‘penipuan’ klasik seperti pencurian pakan, ayam kos, dan lainnya. “Tetapi pencurian pakan dan ayam kos sudah tidak njamani, sedangkan sulapan panenan dan penambahan pakan terjadi pada peternak inti yang tidak menguasai teknis,” ungkap Hari.

Peternak inti yang tidak rajin mengikuti perkembangan performa ayam sering salah menentukan asumsi performa pada kontrak, terlalu rendah sehingga prestasi peternak plasma melambung melebihi asumsi yang menurut perkiraan inti sudah ‘pas’.

Hari menyarankan, peternak inti harus meng-update data performa broiler terbaru dan selalu meneliti berapa potensi panen optimal dari Sapronak – terutama pakan – yang sedang digunakan. “Kalau misalnya potensi panen maksimal per karung (50 kg) pakan premium menghasilkan  32,5 kg ayam hidup, jangan sampai performa ayam plasma berada di atasnya. Pasti ada yang tidak beres, entah menipu timbangan panen atau memasukkan pakan sendiri,” terang Hari.

Secara umum, menurut Hari,inti dituntut untuk lebih jeli namun tetap adil dan terbuka dalam membuat kontrak. Mengetahui perkembangan teknis pemeliharaan, mengikuti perkembangan performa/kemampuan genetik broiler terkini, menggunakan sapronak yang kualitasnya tak menyulitkan plasma untuk mendapatkan performa bagus, beritikad baik untuk memberi pendapatan layak kepada plasma dan waspada terhadap berbagai modus pembobolan.

Sementara plasma harus pandai mencermati kontrak dan mencocokkannya dengan sapronak yang dipakai oleh inti. “Kalau semua itu beres, kebobolan dan pembobolan akan bisa ditekan,” pungkas penerima Young Agripreneur Award 2007 dari Menko Perekonomian dan IPB ini.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS edisi Juli 2011