Trobos Utama
01 July 2011
Transparansi dan Akuntabilitas Sistem Kemitraan

Oleh: Imansyah Rukka
Aktivis NGO Peternakan Sulsel

 

Potret transparansi dan akuntabilitas sistem kemitraan antara perusahaan Inti dan peternak plasma di Sulawesi Selatan

Pelaku bisnis usaha perunggasan ayam pedaging (broiler) dengan pola kemitraan telah banyak bermunculan di Provinsi Sulawesi Selatan(Sulsel). Dengan demikian persaingan di  bisnis perunggasan ini semakin kompetitif antara perusahaan kemitraan inti yang satu dengan perusahaan kemitraan inti lainnya.

Perusahaan kemitraan inti ada yang berintegrasi dengan pabrikan dalam satu grup artinya menguasai mulai dari hulu sampai hilir. Beberapa perusahaan inti berstatus integrated sempat eksis di provinsi yang terbesar di Indonesia Timur ini antara lain PT Charoen Pokphand Indonesia dan PT Japfa Comfeed, Tbk,dan beberapa perusahaan kemitraan lokal lainnya.

Persaingan dalam bidang bisnis kemitraan broilersemakin terlihat dengan munculnya perusahaan-perusahaan kemitraan inti lokal di Sulsel. Contohnya perusahaan PTCharoen Pokphand Indonesia(CPI). Dengan berbagai mekanisme dan proses yang sesuai dengan aturan dan kebijakan perusahaan masing-masing,mereka menawarkan kontrak kesepakatan dengan peternak plasma. Seperti harga dan berbagai sarana produksi yang digunakan dalam usaha budidaya ayam pedaging tersebut.

Disisi lain peternak plasma bisa melihat sejauhmana perusahaan inti bisa memberikan keuntungan yang maksimal sesuai kontrak kesepakatan. Artinya setelah peternak melakukan perhitungan yang teliti baik harga kontrak, sarana produksi,dan sebagainya. Disinyalir faktanya peternak selaku plasma pada umumnya berada dalam pihak yang tidak memiliki posisi tawar kuat. Ketika peternak melakukan perhitungan biaya dan sarana produksi yang digunakan, alhasil kerapmendapatkan keuntungan yang minim bahkan mengalami kerugian yang tidak sedikit. 

Dilain pihak, faktor pendukung keberhasilan dalam budidaya broiler adalah sangat beragam, antara lain manajemen pemberian pakan, manajemen kesehatan dan manajemen pemeliharaan. Faktor teknis inilah menjadi sangat penting dalam budidaya ayam pedaging. Jika usaha ini dalam realisasinya tidak didukung kerjasama yang transparan antara kedua belah pihak, terutama membuat laporan catatan (recording) yang akurat tentunya,akan membawa dampak yang akan mempengaruhi tingkat keberhasilan usaha kedua belah pihak. Disinilah letak pentingnya manajeman pencatatan dalam usaha peternakan unggas.

 

Transparansi Kemitraan

Terkait kerjasama kemitaraan banyak contoh kasus yang terjadi lapangan yang dilakukan pihak perusahan  inti, seperti pengantaran DOC, pakan, obat, dan panen (ekor/jumlah/merk/harga). Misalnya surat perjanjian kontrak antara pihak inti dan peternak plasma banyak yang tidak sesuai dengan yang dijalankan peternak. Seperti pada saat peternak melakukan pemberian pakan, penimbangan, yang barangkali adalah selisih sekian rupiah, namun setelah peternak menghitung nilai selisih tersebut dan mendapatkan catatan dari inti, peternak mengalami kerugian.

Oleh karena itu, sangat penting supaya petugas lapangan dari pihak perusahaan inti melakukan kegiatan pengontrolan kesehatan ternak secara rutin. Hal ini karena jika terjadi kasus penyakit pada ayam maka kebutuhan obat dan vitamin dengan sendirinya akan bertambah dan juga jumlah berat badan ayam menurun. Ketika terjadi kasus ayam sakit sehingga nilai dari kontrak daging saat panen akan dihitung rendah. Hal ini akan sangat merugikan peternak.

Sementara dari pihak peternak sebagai plasma, contoh kasus yang kerap terjadi adalah selalu menambah ayam dari jumlah awal yang disepakati kontrak dan jumlah pakan saat panen. Peternak melakukan hal ini ketika harga pasar lebih rendah dari harga kontrak.

Dan begitu pula sebaliknya peternak mengurangi ayam dan pakan saat kondisi ayam jelek. Sehingga sesuai kontrak jika peternak mengalami kerugian, peternak sebagai plasma tidak menggantinya. Dalam kondisi ini pihak inti rugi 2 kali, yaitu rugi karena harga pasar dan rugi karena peternak tidak jujur.

Upaya dalam mewujudkan sistem kemitraan yang sehat dan saling menguntungkan kedua belah pihak, perusahaan inti dan peternak sebagai plasma harus menerapkan prinsip TAU (strategi trasnparansi dan akuntabilitas usaha) secara jujur dan profesional. Prinsip ini memfokuskan pada sistem, teknologi budidaya, dan manajemen yang baik sehingga diperoleh hasil yang optimal. Supaya tercipta hubungan horisontal yang harmonis antara inti atau plasma secara berkelanjutan.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS edisi Juli 2011