Trobos Utama
01 September 2011
Jagung Sulsel Ditekan Cuaca dan Impor

Sulsel optimis tembus target 1,6 juta ton jagung di 2011, tak ingin mengulang kegagalan tahun lalu

Sempat mengalami kemerosotan produksi di 2010, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel)  menargetkan peningkatan produksi jagung di 2011. Targetnya, tahun ini dipatok di angka 1,6 juta ton. Sementara angka produksi pada 2010 adalah 1.395.742juta ton, turun 10 % dari angka produksi 2009 yakni 1,5juta ton.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel, Lutfi Halide memberikan keterangan, produksi 2010 yang hampir 1,4 juta ton itu meleset dari target yang diproyeksikan di awal tahun 1,5 juta ton. Penyebabnya, kata Lutfi, sedikitnya28.000 hektar (ha)lahan jagung gagal panen (puso) diterjang banjir.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Sulsel, Muhammad Arismenambahkan, selama musim hujan, setidaknya tercatat kurang lebih 5.200 hatanamanjagungyang terendam banjir 3.700 hadiantaranya gagal panen. Di daerah yang dilanda puso, petani bahkan sampai sampai 4kali melakukan tanam, tetapi selalu gagal panen.“Daerah yang mengalami puso adalah Soppeng 315 ha, Sidrap dua ha, Pinrang 835 ha, Luwu 16 ha serta Luwu Utara 1.788 ha, Jeneponto 794 ha,”jelas Aris.

Kondisi ini dipicu curah hujan yang tiada henti sepanjang Januari hingga Mei 2010. Di tahun-tahun sebelumnya hujan mulai berkurang saat memasuki April. "Keadaanini mengacaukan pola tanam jagung di Sulsel. Wilayah selatan umumnya gagal panen karena curah hujan tinggi, sementara wilayah utara terlambat 2bulan lebih agar bisa menanam jagung," jelas Aris. Produktivitas pun menurun, dari 4,6 ton per hapada2009 menjadi 4 ton per ha pada 2010.

 

Sementara sekitar 12.000 ha lahan yang ditanami jagung hanya menghasilkan jagung 3,5 ton per ha. Kualitas yang dihasilkan juga tak sebaik biasanya karena berkadar air tinggi. "Harga jual jagung ketika itu jatuh hingga Rp 1.300 per kg," ucap Andi getir. Ia berharap pemerintah berupaya menyediakan bibit jagung varietas unggul yang berumur tanam pendek dan tahan genangan air. "Sudah saatnya mengedepankan teknologi untuk menghadapi anomali cuaca," harap Andi.

 

Upaya Dongkrak Produksi

Kendati demikian, dengan angka produksi jagung saat ini Sulsel masih menempati 4 besar sebagai produsen jagung nasional, mengikuti Jawa Timur (5,2 juta ton), Jawa Tengah (3,2 juta ton), dan Lampung (2 juta ton). Dan dengan areal tanam sekitar 599.000 ha, Aris yakin tahun ini Sulsel dapat menembus target.

MenurutKepala Seksi Jagung dan Palawija, Dinas Tanaman Pangan Sulsel A.M Taqwa, luasan lahan jagung tersebutmeningkat dari angka tahun lalu 364.000 ha. Kawasan jagung di Sulsel, kata Taqwa, terbagi 3. Kawasan sentra terdapat di wilayah selatan meliputi Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Bulukumba. Kemudian kawasan pengembangan Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai,dan Pinrang. Lalukawasan pengembangan Toraja dan Luwu Raya.

Harga Stabil, Tolak Impor

Kenaikan harga Jagung dunia berpengaruh terhadap kenaikan harga Jagung di dalam negeri. Selain itu Pasokan yang mulai berkurang di beberapa  sentra produksi seperti di Makassar dan sekitarnya menyebabkan anjloknya produksi tahun lalu berimplikasi harga jagung di tingkat petani cukup baik saat ini. Ini dikatakan Kamaruddin, petani di Kelara, Jeneponto, beberapa bulan terakhir harga jagung berkisar Rp 2.400 – 2.600 per kg. “Meningkat lumayan besar dari harga pertengahan 2010 yang hanya Rp 1.800 per kg,” terangnya.

Adalah sebuah ironi, di tengah harga yang cukup menggairahkan ini, berhembus kabar pemerintah pusat akan membuka keran impor jagung asal India, Srilangka dan Vietnam. Rencana ini dikhawatirkan akan mendistorsi harga jagung dalam negeri, termasuk jagung Sulsel. Tak kurang, reaksi penolakan dilontarkan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. “Jagung impor tidak boleh masuk Sulsel! Saya akan tahan,” tegasnya beberapa waktu lalu.

Kontrak Pabrik Pakan

Sementara itu, kabar baik buat petani jagung Sulsel menyusul adanya teken kontrak kerjasama PT Japfa Comfeed Indonesia, PT Charoen Pokphand Indonesia, dan PT Sierad Produce dengan 16 pemerintah kabupaten di 4 provinsi. Tiga perusahaan pakan papan atas tersebut sepakat menyerap jagung asal 3 kabupaten di Lampung, 1 di Jawa Tengah, 4 di Jawa Timur, dan 8 di Sulawesi Selatan.

Kesepakatan ini memberikan kepastian pasar bagi petani di satu sisi, kepastian pasokan bagi pabrikan pakan di sisi lain. Model ini mampu memangkas rantai distribusi (brooker), jagung dalam negeri pun mampu bersaing dengan jagung impor. Sekretaris Jenderal Dewan Jagung Nasional

Selengkapnya baca majalah Trobos edisi September 2011