Trobos Utama
01 November 2011
Cermati Langkah Diplomasi Perunggasan Brasil

Brasil jajaki peluang kerjasama investasi perunggasan di Indonesia

Kabar terakhir soal rencana Brasil memasukan produk perunggasannya ke Indonesia terkuak setalah TROBOS mengulas edisi Juni 2011. Sedikit mengulas berita tersebut, pada Mei 2011 TROBOS mendapat informasi perihal berlangsungnya forum Consultative Committee on Agriculture antara pemerintah Indonesia dan Brasil di Medan, Sumatera Utara.

Dari sumber turut hadir di forum itu, hal terkait perunggasan yang dibicarakan yaitu kemungkinan untuk memasukkan karkas broiler (ayam pedaging) ke Indonesia. Tambahnya, Brasil yakin mampu penuhi persyaratan teknis seperti ”halal” dan ”ayam utuh” seperti yang dituntut Indonesia.

Atas pemberitaan tersebut, baru-baru ini Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto Da Silveira Soares memberikan klarifikasi saat ditemui TROBOS di Jakarta medio Oktober lalu. Tutur Soares, berita itu tak sepenuhnya benar. ”Bila ditanya apakah Brasil ingin ekspor? Tentu saja kami ingin ekspor, karena kualitas (karkas broiler) kami bagus dan harganya sangat kompetitif. Tapi Anda jangan berpikir kami datang ke Indonesia hanya untuk ekspor lalu menginvasi bisnis unggas Anda seperti yang dilakukan negara-negara lain. No way! Apalagi negara anda punya kebijakan internal sendiri,” ia menggarisbawahi.

Sebenarnya, kata Soares, yang Brasil inginkan adalah membagi pengetahuan dan teknologi peternakan. Brasil adalah negara pengekspor ayam nomor satu di dunia. ”Kami ingin membawa para produsen ayam di Brasil ke Indonesia untuk membagi pengetahuannya kepada pelaku perunggasan anda tentang bagaimana cara memproduksi dan mengolah ayam dengan kualitas yang baik dan dalam skala besar. Dengan begini, produksi ayam anda akan meningkat, begitu pula kualitasnya,” ungkapnya.

Seolah menanggapi, Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P Utoyo mengkonfirmasi bahwa pihaknya baru bertemu dan berkenalan dengan pihak Kedutaan Besar Brasil di acara Festival Ayam dan Telur di Jakarta, Oktober lalu. ”Kita sih baru kenalan dengan duta besar-nya. Belum ada pembicaraan apa-apa. Nanti kita cari waktu lah untuk ketemuan dan ngobrol. Intinya kita berteman dengan siapa saja,” kata Don.

Perihal kemauan Brasil yang ingin berbagi pengetahuan dan teknologi perunggasan, Don merespon positif. ”Kalau sharing pengetahuan dan teknologi perunggasan ya boleh. Saya malah berterimakasih kalau mereka mau kerjasama,” tuturnya santai.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Prabowo Respatiyo Caturroso yang juga bertemu dengan Duta Besar Brasil di acara yang sama turut memberikan komentar. ”Kalau Brasil hanya ingin transfer teknologi dan pengetahuan perunggasan ya nggak apa-apa. Kita terima saja, justru malah bagus. Kita bisa saling tukar pengalaman. Apalagi dilihat dari segi iklim kita tak jauh berbeda dengan Brasil,” komentarnya.

Namun, kata Prabowo, kalau Brasil mau ekspor karkas broiler ke Indonesia ya tidak boleh. ”Untuk perunggasan, kita sudah swasembada. Dari 240 juta penduduk Indonesia, sektor perunggasan telah melibatkan sekitar 3 juta orang. Nah, kalau mereka hanya ingin transfer teknologi kita terima. Apalagi dalam hal bagaimana menghasilkan bibit unggul ayam lokal pedaging dan petelur yang selama ini kita masih impor,” terangnya.

Yang juga diinginkan Prabowo adalah Brasil berinvestasi di Indonesia. ”Kalau bisa, investasi di bidang pakan ternak,” cetusnya. Dalam wawancara, Soares juga menyinggung masalah investasi. ”Direktur Jenderal Peternakan Anda menginginkan lebih banyak investasi di bidang peternakan. Kami siap untuk berinvestasi di sini. Why not? Tapi untuk itu, kita harus duduk bersama dulu antar pemerintah dan pengusaha. Yaitu mendiskusikan apa yang Anda harapkan dari Brasil, lalu apa yang bisa ditawarkan Brasil,” tuturnya tanpa menyebut investasi seperti apa yang mungkin untuk direalisasikan.

Selengkapnya baca majalah Trobos edisi November 2011