Trobos Utama
01 January 2008
Akuakultur: Harga Pakan Meroket, Keuntungan ?Mepet?

Parahnya, kenaikan harga pakan akuakultur terjadi justru di saat harga udang dan ikan sedang merosot

Segendang setarian, kenaikan yang terjadi pada pakan ternak dialami pula pakan ikan dan udang (akuakultur). Mereka dipaksa menerima kenyataan pabrik pakan menaikkan harga pakan udang dan ikan, sebagai konsekuensi kenaikan harga bahan baku pakan dan minyak mentah dunia. Denny Indradjaja, Ketua Divisi Pakan Ikan GPMT (Asosiasi Produsen Pakan Indonesia) mengatakan, langkah menaikkan harga ini memang harus ditempuh pabrikan, mengingat biaya produksi pakan yang sudah melebihi harga jual.
?Pemicu utamanya adalah kenaikan bahan baku pakan,? ujar Denny. Meski demikian, Denny masih bersyukur, karena harga tepung ikan yang menjadi komponen utama pakan udang dan ikan tidak mengalami kenaikan terlalu tinggi. ?Masih terselamatkan dengan harga tepung ikan. Jika tepung ikan naik seperti akhir tahun kemarin, harga pakan akan naik jauh lebih tinggi,? ujarnya merasa beruntung.
Akhir 2006 lalu harga tepung ikan impor mencapai US$ 1.200/ton, sedangkan akhir tahun ini hanya berkisar US$ 900 ? US$ 1.000/ ton. Begitupun dengan harga tepung ikan lokal, yang tidak mengalami kenaikan sedramatis akhir tahun lalu. Saat ini, harga tepung ikan lokal hanya berkisar Rp 8.000 ? Rp 8.500 per kg.
Menurut Denny, akibat kenaikan harga bahan baku pakan dan minyak mentah dunia ini, harga pakan udang telah mengalami kenaikan rata-rata sebesar Rp 500/kg. Hal inipun diamini oleh Iwan Sutanto, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI), ?Sekarang harga pakan udang sudah naik Rp 400/kg. Bila sebelumnya harga pakan hanya Rp 8.100/kg, sekarang ini berkisar Rp 8.500-an/kg?. Menurutnya, ini cukup membebani para pembudidaya. Meski demikian Iwan masih menganggap wajar kenaikkan ini, karena harga bahan bakunya memang sudah naik.

Selain Pakan, Solar Pun Naik
Tidak hanya itu, para pembudidaya udang masih harus dihantam tingginya harga bahan bakar solar yang digunakan untuk menjalankan genset. Pasalnya, solar yang digunakan untuk tambak memang solar yang tidak bersubsidi. Parahnya, menurut Iwan, kenaikan berganda ini justru terjadi pada saat harga udang di pasar internasional sedang merosot. Iwan menduga, penurunan harga udang dipicu oleh over supply di pasar dunia. ?Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, tak menutup kemungkinan ada pembudidaya yang gulung tikar,? ujarnya.
Dijelaskan oleh Iwan, harga udang dengan size 60, saat ini hanya berkisar Rp 32.000/kg. Padahal biaya produksi telah mencapai Rp 30.000/kg. Dengan margin sekecil itu, pembudidaya harus ?putar otak? dalam mengelola usaha tambaknya agar tetap berjalan. ?Jika udang yang dihasilkan lebih kecil, tentu lebih sulit lagi. Belum lagi jika tingkat mortalitas tinggi, petambak pasti merugi,? katanya.

Pakan Ikan Naik Rp 300-an/kg
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada pakan udang. Pakan ikan pun idem ditto. Bahkan sejak Oktober 2007, pakan ikan telah mengalami kenaikan harga sebanyak dua kali. Denny mencatat, kenaikan harga pakan ikan pertama terjadi pada Oktober yang berkisar Rp 200 ? Rp 250 per kg. Sedangkan kenaikan harga yang kedua terjadi pada Desember dengan kisaran kenaikan Rp 50 ? Rp 100 per kg. ?Tapi tidak semua pabrikan menaikkan harga. Ada yang menunggu sampai Januari, baru akan menaikkan harga,? ujar Denny.
Menurutnya, rata-rata kenaikan harga pakan ikan sebesar Rp 300-an/kg. Kenaikan sebesar itu diakui Ilen Adler Rustam, salah seorang pembudidaya KJA di waduk Cirata, ?Sejak 3 bulan terakhir, harga pakan ikan sudah naik sebesar Rp 370/kg?. Menurutnya kenaikan harga pakan tersebut dinilai sangat memberatkan para pembudidaya. Pasalnya, dengan kenaikan harga sebesar itu, biaya produksi ikan meningkat sebesar Rp 600/kg. ?Sekarang biaya produksi sudah mencapai Rp 9.000/kg,? ujar Ilen. Padahal harga jual ikan mas di waduk Cirata hanya Rp 9.000/kg. Nasib lebih buruk terjadi pada pembudidaya KJA di waduk Jatiluhur, harga ikan mas di kawasan tersebut masih di bawah Rp 9.000/kg. Rugi, jelas sudah dirasakan oleh pembudidaya.
Ilen mengatakan, saat ini tidak ada satu kiat pun yang bisa dilakukan oleh pembudidaya KJA untuk menghindari kerugian. ?Kita tidak bisa menahan ikan untuk menunggu harga bagus, karena di musim hujan ini rawan dengan up welling dan serangan KHV,? jelasnya.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Januari 2008