Agri Ternak
01 August 2008
Saburai,Kambing Lampung yang Bawa Untung

Selain sosoknya lebih besar, juga memiliki tingkat produksi dan kualitas daging yang lebih baik

Meski bukan provinsi pertama yang mengembangkan kambing persilangan antara peranakan etawah (PE) dengan boer dari Australia, namun dalam perjalanan waktu Lampung boleh dibilang paling berhasil dalam pengembangbiakannya. Bahkan kambing hasil persilangan yang pada awalnya lebih dikenal dengan nama kambing boerawa itu merupakan salah satu ternak unggulan di Provinsi Lampung. Kini kambing boerawa dikenal dengan nama kambing saburai untuk lebih mengangkat citra Provinsi Lampung.
Kambing persilangan ini sebenarnya pernah dikembangkan di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Tetapi berbeda dengan kedua provinsi tersebut yang mengembangkannya secara alami, Lampung melakukannya dengan memanfaatkan teknologi inseminasi buatan (IB). ?Pemanfaatkan teknologi IB menjadikan kambing saburai lebih pesat perkembangannya,? ujar Kabid Keswan Disnak Lampung, drh Sunaryo Kasman saat disambangi TROBOS belum lama ini.
Dukungan masyarakat, terutama petani yang mau menerima teknologi IB juga sangat  mendukung pengembangan kambing saburai. Karenanya program IB untuk saburai terus digalakan. Targetnya, di masa  mendatang Lampung akan menjadi sentra budidaya dan pembibitan kambing saburai nasional.
Sejak 2002 Lampung memproduksi sendiri mani beku kambing boer. Laboratoriumnya di IPMB (Instalasi Produksi Mani Beku) Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD),Terbanggi Besar ? Lampung Tengah. Dengan demikian pengembangan saburai tidak terkendala, tak bergantung daerah lain.

Keunggulan Saburai
Akhir-akhir ini kambing saburai sangat diminati petani peternak Lampung lantaran memiliki beberapa kelebihan. Selain sosoknya lebih besar, juga memiliki tingkat produksi dan kualitas daging yang lebih baik. Tingkat pertumbuhannya pun lebih cepat, sementara pemeliharaan dan perawatannya tak jauh berbeda dengan kambing lokal.
?Kambing saburai memang diarahkan untuk diambil dagingnya. Ini salahsatu alasan mengapa disilangkan antara PE dengan boer. Dilihat dari sosoknya kambing PE tinggi tetapi dagingnya sedikit. Pada awalnya memang, PE lebih diarahkan untuk diambil susunya. Sedangkan boer, gemuk dan pendek. Setelah disilangkan hasilnya seperti yang diharapkan yakni kambing saburai dengan performa tinggi dan gemuk,? kata Sunaryo.
Sunaryo menjelaskan, saat lahir berat rata-rata saburai 2,5 sampai 3,5 kg. Sedangkan kambing kacang 1,6 ? 2,0 kg dan PE 2,4 ? 2,6 kg ; berat sapih saburai 14 ? 20 kg, kambing kacang hanya 7 ? 8 kg, dan PE 9 ? 11 kg. Perbedaannya kian terlihat saat berumur 6-7 bulan. Berat saburai mencapai 30 ? 35 kg, kambing kacang 10 ? 12 kg, dan PE 15 ? 20 kg. Setelah 1 tahun, saburai bisa mencapai 50 ? 60 kg, kambing kacang 24 ? 27 kg, dan kambing PE 40-60 kg.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Agustus 2008