Agri Ternak
01 January 2010
Dinamika Daya Saing Industri Peternakan

Era globalisasi yang sangat dinamis menuntut dayasaing yang tinggi di semua sektor pembangunan termasuk bidang pertanian. Sektor pertanian yang peternakan ada di dalamnya, memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Sektor ini dapat menunjang penyerapan dan penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat bahkan perolehan devisa. Sektor ini, mampu menyumbang 12-13 % GDP nasional.
Dan dengan potensi sumber daya ternak serta industri peternakan di Indonesia yang berbasis sumber daya lokal, agribisnis  peternakan memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan. Ini yang hendak disampaikan Dr Ir Arief Daryanto, MEc, Direktur Program Manajemen & Bisnis IPB melalui bukunya yang bertitel “Dinamika Daya Saing Industri Peternakan”.
Buku setebal 238 halaman yang diterbitkan oleh IPB Press ini merupakan kumpulan gagasan dan pemikiran Arief dalam mencermati perkembangan industri peternakan yang telah diterbitkan Majalah TROBOS dalam kolom regular bertajuk “Analisis Agribisnis”. Dan sebagian lagi merupakan makalah yang telah disampaikannya dalam berbagai kegiatan.
Menurut calon bankir yang menjadi akademisi ini, tidak mudah untuk menciptakan dayasaing. Terlebih apabila peternakan masih dianaktirikan. Banyak kendala dan tantangan yang harus dihadapi seperti masalah efisiensi teknis dan ekonomis usaha peternakan sehingga dayasaing/produksi komoditas peternakan masih rendah. Ditambah kondisi politik, ekonomi dan keamanan yang tidak menentu serta infrastruktur yang buruk membuat makin tidak kondusifnya iklim usaha, sehingga investor pun enggan berinvestasi.
Permasalahan lainnya adalah tidak ada grand design industri peternakan. “Yang dilaksanakan tidak sama dengan yang disiapkan,” tutur Arief dalam acara peluncuran bukunya tersebut di Bogor, Desember lalu. Padahal guna mempromosikan dan memproteksi sektor peternakan yang terpenting adalah melakukan apa yang disiapkan. Ia mengambil contoh, kegagalan 2 kali target swasembada daging sapi, yaitu 2005 dan 2010. “Berobsesi swasembada pangan tapi belum 1 mind (satu pemikiran). Kalau masih seperti ini, swasembada akan moving target lagi. Apabila satu pemikiran, target swasembada daging 2014 tidak meleset lagi. Tetapi investasi publik harus diarahkan kesana,” paparnya.
Arief berharap, bukunya bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi pemangku kepentingan peternakan untuk meningkatkan dayasaing potensi sektor peternakan. Buku ini pun diharapkan dapat mempromosikan sektor peternakan pada masyarakat. Buku ini merupakan buku ke dua Arief, setelah buku “Daya Saing Industri Peternakan” yang diluncurkan 2 tahun lalu.

Diluncurkan
Secara simbolis peluncuran buku dilakukan oleh Wakil Menteri Pertanian RI, Bayu Krisnamurthi. Dan hadir dalam kesempatan itu mantan Menteri Pertanian RI, Prof Syarifudin Baharsyah dan Yustika Baharsyah, para akademisi dan praktisi peternakan. Juga diputar video komentar Menteri Pertanian RI, Suswono dan Rektor IPB, Prof Herry Suhardiyanto atas buku tersebut. Menurut Bayu, rentang 10-15 tahun terakhir sektor peternakan telah menjadi bisnis, meskipun ada 3 masalah utama yang dihadapi yaitu tata ruang, struktur sistem agrobisnis, serta kesehatan hewan dan kesehatan veteriner.
Peternakan yang semula mengambil lokasi di luar kota, akibat perluasan areal pemukiman harus mengalah untuk tergusur. Semisal di Jonggol, Cisarua dan Pondok Rumput. Sementara soal struktur sistem agrobisnis, Bayu menilai terjadi ketidakseimbangan antara on farm, pengolahan dan ritel. “On farm, Indonesia terbaik di dunia. Tapi keluar dari farm, alat transportasi terbuka, dan ketika masuk ke pasar, tidak ada bagian khusus di pasar,” Bayu menunjuk titik persoalan. Sedangkan masalah kesehatan hewan dan kesehatan veteriner, ia menekankan seriusnya tuntutan perhatian pada penyakit zoonosis (penyakit hewan yang dapat menular ke manusia). “Karena 60 % dari total ancaman kesehatan manusia asalnya dari hewan, seperti HIV, Anthrax, H5N1, Ebola,” sebut Bayu.

 Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Januari 2010