Agri Ternak
01 March 2010
Menguak Potensi Kerbau

Produktivitas kerbau tidak lebih rendah daripada sapi (potong). Berbagai hasil penelitian yang ada di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia menunjukkan, tingkat reproduksi kerbau tidak berbeda dengan sapi. Dengan budidaya intensif, calving interval atau selang beranak (waktu yang dibutuhkan antara dua kelahiran yang berturutan) dapat mencapai 13 bulan. Meskipun, budidaya kerbau oleh petani dengan melepas bebas di padang penggembalaan tanpa perlakuan pakan dan pengaturan perkawinan, selang beranak dapat lebih dari 24 bulan.
Demikian pula dengan pertambahan bobot badan. Penggemukan kerbau oleh seorang peternak di Bogor, mampu mendapatkan hasil pertambahan bobot 1 kg/ekor/hari. Parameter yang relatif sama digunakan pada penggemukan sapi potong. Ini menunjukkan bahwa dengan pemeliharaan yang baik ternak kerbau tidak kalah produktif dengan ternak sapi.

Secara umum, ternak kerbau dan sapi adalah hewan yang berbeda baik jenis maupun bangsanya. Tetapi dalam soal produk, di pasar tidak ada perbedaan antara daging kerbau dengan daging sapi. Dan hampir di seluruh wilayah Indonesia daging kerbau dikenal sebagai daging sapi. Maka ketika Presiden Republik Indonesia mematok target swasembada daging, daging kerbau termasuk di dalamnya.
Dalam mencapai target swasembada daging, peranan ternak kerbau cukup signifikan. Dengan jumlah populasi kerbau pada 2007 yang mencapai 2,5 juta ekor, sementara total populasi ternak sapi potong plus sapi perah 11,2 juta ekor, maka peranan ternak kerbau sebesar 22% dan ternak sapi sebesar 78%. Meskipun untuk angka kontribusi daging, angkanya lebih kecil. Kontribusi daging kerbau adalah 41 ribu ton, sedangkan sapi sekitar 460 ribu ton, sehingga peran kerbau dalam suplai daging hanya sekitar 8%.


Perkembangan Kerbau Tanah Air
Mencermati perkembangan kerbau dan sapi di Indonesia, tampak adanya pergeseran nyata pada perimbangan komposisi kerbau terhadap sapi sepanjang kurun satu abad. Awal 1900-an populasi kerbau lebih mendominasi, dengan perimbangan 70% kerbau dan sapi hanya 30%. Sebaliknya yang terjadi sejak era 1980-an perbandingannya berubah menjadi 20% kerbau dan 80% sapi. Rasio ini masih bertahan sampai sekarang. Rasio yang ada saat ini kelihatannya menunjukkan nilai keseimbangan yang tercapai antara populasi kerbau dan sapi.

Daerah yang menjadi sentra pengembangan kerbau saat ini adalah wilayah yang cocok menjadi habitat untuk berkembang biak. Kerbau cenderung lebih menyukai kawasan dengan banyak air seperti Sumatera dan Kalimantan. Populasi kerbau di dua wilayah ini tercatat 54% dari total populasi keseluruhan yang ada di Indonesia.
Tetapi, meskipun kerbau menyukai daerah dengan karakter kaya akan air, hewan ini memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi. Sehingga penyebarannya meluas tak hanya di Kalimantan yang berawa dan Sumatera, tapi juga Jawa, Sulawesi bahkan NTT dan NTB yang beriklim kering.
Dari pandangan etnik dan agama, pengembangan kerbau juga tidak ada penghalang. Bahkan oleh suku tertentu, hewan ini mendapat tempat tersendiri. Kerbau dinilai sangat tinggi dalam adat budaya Batak,Toraja, dan beberapa suku lain. Ini menjadi faktor pendukung pengembangan usaha ternak kerbau di kawasan tersebut. Dengan demikian pengembangan usaha peternakan kerbau dan wilayah agribisnis kerbau sangat luas, hampir meliputi seluruh agroekosistem dan sosio-budaya yang ada.

Dua Bangsa
Secara umum, ada dua bangsa kerbau yang diternakkan di dunia yaitu kerbau lumpur (swamp buffalo) dan kerbau sungai (river buffalo). Kerbau lumpur memiliki 48 pasang kromosom, sementara kerbau sungai memiliki 50 pasang kromosom. Walaupun berbeda dalam jumlah kromosom tetapi perkawinan keduanya menurunkan keturunan yang juga fertil (mampu berkembang biak) baik pada ternak jantan maupun betina, hanya diduga bahwa daya reproduksinya lebih rendah dari masing-masing tetuanya.
Indonesia mempunyai berbagai bangsa kerbau yang karena lama terpisah dari tempat asalnya kemudian beradaptasi dengan lingkungan setempat dan diberi nama sesuai dengan nama tempat seperti Kerbau Pampangan (Pampangan/Sumsel), Kerbau Binanga (Tapanuli Selatan/Sumut), Kerbau rawa (di Sumatera dan Kalimantan), Kerbau Benuang (Bengkulu), Kerbau Belang Tanatoraja (Sulsel), Kerbau Sumbawa (NTB), Kerbau Sumba (NTT) dan Kerbau Moa (Maluku) antara lain yang termasuk dalam bangsa kerbau lumpur (swamp buffalo).
Kerbau lumpur juga dimanfaatkan sebagai penghasil susu, secara luas diternakkan para peternak terutama di Sumatera, dengan kemampuan produksi 1-2 liter per ekor perhari. Sedangkan kerbau sungai (riverbuffalo) hanya ada sedikit di Sumatera Utara dan dimanfaatkan sebagai penghasil susu, dengan kemampuan produksi susu sekitar 8 liter per hari. Lama laktasi dua jenis kerbau ini sama, bervariasi antara 270-300 hari.
Susu kerbau biasanya diolah sebelum dikonsumsi. Produknya dikenal dengan berbagai nama seperti dadih (Sumatera Utara), dadiah, sago puan, gulo puan (Sumatera Selatan dan Barat), danke (Sulawesi Selatan), susu goring (NTT) dan lain-lain. Berbagai produk susu kerbau ini cukup laris manis di pasar lokal, tetapi untuk dipasarkan secara lebih luas di Indonesia butuh pembenahan terutama dalam hal standardisasi kualitas dan higienitas produk serta pengemasan yang lebih menarik.


Selengkapnya baca di majalah TROBOS edisi Maret 2010