Agri Ternak
01 June 2010
Domba, Peluangnya Segudang

Segmen bisnis pembibitan domba diprediksi bakal jadi primadona. Perputaran modal cepat, biaya operasional kecil, permintaan terus naik.

Bermula dari 6 ekor domba Gibas di 1990, kini usaha peternakan domba milik Bunyamin di Desa Cimande Hilir Kabupaten Bogor, Jawa Barat mencapai populasi 1200 ekor. Padahal awalnya, domba pertama itu diniatkan untuk kebutuhan kurban keluarganya. Tetapi karena diminati tetangga, akhirnya domba yang dibelinya Rp 60 ribu/ekor dilepasnya 3 ekor dengan harga Rp 150 ribu/ekor.
Sejak itu, ia yang sehari-harinya disapa Pak Haji ini serius mengembangkan ternak domba. Ia mengaku, dari ribuan dombanya tak semua jenis Gibas. Sejak 2005 ia mulai membudidayakan domba Garut juga. ?Karena banyaknya permintaan,? ujar pria yang memilih menanggalkan statusnya sebagai pegawai negeri dengan alasan hendak berfokus di bisnis domba.
Peternakannya menempati lahan seluas 5.000 m2, yang dibaginya menjadi 4 kandang, dengan ukuran masing-masing 7 x 30 meter. Kandang A,B,C dan D berkapasitas 300 ekor domba dengan sistem baterai/kandang individu ukuran 40 cm x 100 cm. Dalam sebulan, dari peternakan yang dinamainya ?Tawakkal Farm? ini mampu dijual sekitar 460 ekor domba dalam bentuk hidup atau karkas, baik Gibas maupun Garut.
Soal bibit, Binyamin mendapatkannya dari pasar tradisonal  Cianjur, Garut, Bogor dan Jampang Surade. Harga bibit lepas sapih umur 4-5 bulan sekitar Rp 400 ? 525 ribu per ekor dengan variasi ukuran 18 ? 25 kg.  Setelah digemukkan selama 3 bulan satu ekor domba dijual dengan harga per kg Rp 25.000.
Selain penjualan domba, Bunyamin juga mendapatkan keuntungan dari kotoran ternak. Kotoran yang menumpuk selama tiga bulan biasanya dimanfaatkan pengusaha perkebunan sekitar sebagai pupuk. Satu karung kotoran basah dihargai Rp 7 ribu.

Merambah Pembibitan
Tantangan tak mudahnya mendapatkan bibit domba ?terlebih yang berkualitas? mendorong Bunyamin bermain di pembibitan. Usaha pembibitan yang baru dilakoninya satu tahun terakhir ini untuk menutupi kebutuhan bibit di fattening (penggemukkan). Alasan lain, segmen bisnis ini dinilainya menguntungkan.  ?Perputaran modal di pembibitan lebih cepat dan biaya operasional lebih sedikit,? ujarnya.
Sejak merambah pembibitan komposisi dombanya menjadi domba Garut jantan 50 ekor, Garut betina 50 ekor, Gibas/lokal jantan 950 ekor dan Gibas betina 150 ekor. Indukan betina ini dibelinya dengan kisaran harga Rp 750 ribu. Kemudian dikandangkan dengan sistem koloni. Butuh waktu sekitar 8 bulan untuk menghasilkan anakan. Satu ekor betina biasanya menghasilkan 1 ? 2 ekor anak. Harga jual bibit disebutnya Rp 800-900 ribu/ekor untuk jenis Garut, dan Rp 400-550 ribu untuk jenis Gibas. Permintaan bibit yang masuk, ia mengaku, dalam satu bulan mencapai 50 ? 60 ekor saban bulannya. ?Belakangan permintaan bibit makin tinggi, karena bermunculan pengusaha-pengusaha baru budidaya domba,? tuturnya.

Kunci Sukses
Menjalankan bisnis budidaya domba, Bunyamin memegang 3 kunci sukses. ?Pertama,? pesannya, ?jangan abaikan pemilihan bibit.? Menurut dia, titik ini memiliki porsi besar dalam menentukan keberhasilan budidaya. Ditambahkannya, bibit yang bagus adalah postur tinggi, panjang dan lingkar dadanya besar.

Ke dua, manajemen pemeliharaan. ?Mulai dari ternak datang hingga dipanen,? tegasnya. Pemeliharaan itu diantaranya meliputi pemberian obat cacing, pencukuran bulu agar terbebas dari kutu, memandikan domba yang dilakukan 2 minggu sekali, dan pengguntingan kuku. ?Peran serta anak kandang sangat menentukan,? imbuh Bunyamin. Pada 17 karyawannya, Bunyamin membangun ?Sense of Belonging?, atau rasa memiliki. Sehingga apapun yang terjadi pada ternak, karyawan akan terlibat. ?Khawatir di kala ternak sakit, dan ikut senang ketika ternak sehat.?

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Juni 2010