Agri Ternak
01 July 2010
Pacu Persilangan Kuda Indonesia

Pengembangan olahraga berkuda di tanah air memicu upaya perbaikan kualitas kuda

Semua orang hampir tidak percaya jika sekor kuda bisa dihargai sampai miliaran rupiah. Tapi ini cerita benar, siapa yang tidak kenal Prabowo Subianto. Belum lama ini sejumlah media merilis berita bahwa mantan jenderal orde baru itu memiliki kuda yang harganya mencapai Rp 3 miliar. Kuda itu masuk jenis unggulan yang disebut lusiano.
Kuda lusiano termasuk kategori equestrian (kuda tangkas atau olahraga berkuda). Kuda ini memiliki kemampuan akrobatik seperti melompat,  melakukan gaya hormat, dan duduk.Tidak heran jika kuda lusiano sering dimanfaatkan untuk pertunjukan sirkus dan equestrian.
Tak ayal berita menghebohkan itu mendorong semangat para penggiat perkudaan nusantara. Menurut Sekretaris Jenderal EFI (Equestrian Federation of Indonesia), Rafiq Radinal, industri perkudaan di Indonesia punya potensi untuk menghasilkan kuda-kuda unggulan.
Lebih lanjut ia menjelaskan, seharusnya pemerintah lebih memperhatikan industri ini. ?Jika industri ini berkembang para peternak kuda kian semangat menghasilkan jenis kuda yang unggulan bernilai tinggi,? kata Rafiq awal Juni lalu di Pulomas stable Jakarta. Ia menambahkan, industri ini bisa menyerap banyak tenaga kerja.

Nilai Jual Tinggi
Persilangan kuda lokal dengan kuda impor terbukti dapat meningkatkan kualitas dan nilai jual. Rafiq mencontohkan, kuda poni yang ada di Puncak Bogor saat ini biasa dijual dengan kisaran harga Rp 3 - 5 juta per ekor. Jika koda poni itu kalau dikawin dengan jenis thoroughbred (persilangan kuda impor) harga kuda hasil persilangan itu bisa mencapai Rp 15 juta per ekor.
Upaya persilangan kuda ini berjalan selama ini khususnya di Sumatera Barat dan akhir ? akhir ini di Sulawesi Utara. ?Di Sumbar harga kuda sudah mendekati Rp 10 - 15 juta per ekor, sedangkan Sulawesi Utara pada kisaran Rp 15 - 20 juta per ekor,? jelasnya. Apalagi jika persilangan kuda terus diperbaharui hasilnya akan lebih baik dan mahal lagi, tambahnya.
Harga kuda persilangan lokal itu tergolong murah, namun punya kualitas yang hamper sama dengan kuda impor.  Sebagaimana diketahui Harga kuda arab atau kuda australia relatif tinggi antara Rp 300 - 400 juta.
Lebih jauh soal persilangan, dijelaskan oleh salah seorang pelaku equestrian drh. Budhy Jasa Widyananta. Menurutnya kuda di dunia terbagi dalam dua jenis yaitu jenis kuda dan poni, perbedaan antara keduanya terletak pada tinggi badan. Kuda mempunyai tinggi badan di atas 125 cm sedangkan poni di bawah itu. ?Untuk di Indonesia yang namanya kuda termasuk katagori poni karena ukuran badannya yang kecil-kecil,? tutur pria yang biasa dipanggil Nanta ini.
Selanjutnya ia menjelaskan, dari dua jenis tersebut terbagi lagi berdasarkan  fisiologisnya. Pertama cold blood yaitu kuda berdarah dingin atau lebih sering dijumpai sebagai kuda beban. Kuda ini  cirinya berbadan besar, jalan lambat, punya tenaga kuat, dan cocok sebagai  kuda pekerja.
Kedua hot blood yaitu kuda berdarah panas dengan ciri-ciri kaki ramping, tinggi, dan lari cepat. Contohnya seperti kuda thoroughbred (TB) dan kuda arab. Ketiga adalah percampuran antara cold blood dan hot blood disebut warm blood atau berdarah hangat. ?Untuk equestrian yang cocok adalah jenis warm blood,? imbuhnya.
Ia menambahkan, dalam perkembangannya darah kuda lokal Indonesia dikawinkan dengan poni. Misalkan jika pejantan TB dikawinkan dengan betina kuda sumba menghasilkan keturunannya yang disebut generasi satu (G1). Lalu betina generasi satu dikawinkan dengan jantan TB maka lahirlah generasi dua (G2).
Begitu selanjutnya, asalkan jantannya TB. Sedangkan kalau betinanya TB dan jantannya generasi satu disebut Kuda Pacu (KP). ?Sudah ada sertifikasi Kuda Pacu Indonesia (KPI) yang merupakan hasil perkawinan G3 dengan G3,? ucapnya.
Selain dari sisi nilai jual, perkembangan perkudaan bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang menggeluti bidang ini. Perawat kuda yang orang Indonesia terkenal mempunyai ketangkasan dan kesabaran dalam memelihara. ?Tidak heran jika salah satu juara tukang pasang tapal kuda di Asia Tenggara berasal dari Indonesia. Dia mendapat gaji yang cukup tinggi dan diperhatikan kesejahteraannya,? sebutnya.

Olahraga Berkuda
Popularitas equestrian di Indonesia cukup menentukan perkembangan usaha peternakan kuda. Menurut Nanta, equestrian di Indonesia sudah menuju tingkat profesional. Diakuinya, olahraga berkuda memang belum populer. ?Belum banyak peran pemerintah untuk olah raga ini,? kata Nanta.
Equestrian merupakan salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan pada tingkat internasional, seperti SEA Games, ASEAN Games, dan Olimpiade. Setiap tahun lomba equestrian juga diadakan di Indonesia. Pesertanya bisa dari anggota EFI maupun dari umum. Saat ini anggota EFI terdiri dari 30 ? 40 stable (tempat pemeliharaan kuda). Tidak ada batasan umur kuda dalam perlombaan ini. Biasanya umur puncak kuda antara 11 ? 15 tahun dari umur maksimal kuda rata-rata 30 tahun.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Juli 2010