Agri Ternak
01 September 2010
Si Biang Keladi Penyakit Babi

Oleh : Drh Soni Salusianto

Penyakit PRRS (Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome) dapat memicu munculnya kasus-kasus penyakit lainnya pada babi

Penyakit pada ternak babi kini kian meningkat jumlahnya. Lihat saja penelitian terakhir yang dilakukan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Bali pada 2010 menunjukkan bahwa penyakit viral seperti PRRS (Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome) telah menyebar luas. Jika semula hanya di wilayah Sumatera Utara, kini juga ada di Bali dan Jawa. Hal serupa terjadi pada penyakit PCV2 (Porcine Circovirus) yang tingkat kejadian penyakitnya juga bertambah.
Sayangnya, kondisi tersebut belum mampu membuat peternak babi sadar akan arti penting kesehatan ternaknya. Bahkan, terjadinya  wabah PRRS pada 2008 di Sumatra Utara yang menelan kerugian ekonomi sangat besar?kematian diperkirakan mencapai 40% termasuk peternakan rakyat?tidak juga membuat kesadaran peternak meningkat. Mereka masih saja beternak dengan cara biasa yang tidak mengindahkan aspek kesehatan ternak. Manajemen perkandangan, nutrisi, sanitasi, biosekuriti, dan vaksinasi tetap dilakukan sama seperti sebelum terjadinya wabah tersebut.
Salah satu faktor penyebab hal itu adalah masih minimnya tenaga ahli di bidang ternak babi yang bisa memberikan saran perbaikan medis atau manajemen. Faktor lain karena publikasi yang kurang. Informasi tentang manajemen budidaya babi baik ilmiah/teori maupun empirikal/praktis melalui majalah peternakan maupun jurnal sangat jarang dan nyaris tak terdengar. Kondisi ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan informasi seputar peternakan unggas yang begitu mudah ditemukan.
Padahal di negara Asia lainnya, publikasi tentang kedua jenis ternak tersebut cukup berimbang. Dengan alasan ini maka berikut adalah paparan umum tentang manajemen kesehatan babi.
 
Masa Pancaroba

Kesehatan babi akan sangat sensitif ketika masa pancaroba atau masa perubahan. Sebut saja perubahan atau perpindahan kandang, perubahan pakan dan perubahan cuaca (musim panas ke hujan dan sebaliknya/masa pancaroba). Babi jadi mudah stres sehingga memicu berjangkitnya penyakit atau sebaliknya.
Penyakit yang umum terjadi di masa pancaroba pada anak babi laktasi biasanya menyerang saluran pencernaan. Antara lain diare karena bakteri ataupun parasit (koksidia). Pada anak babi sapihan sampai babi grower (pembesaran) lebih kompleks lagi. Kasus pernafasan mendominasi pada periode ini. Mulai dari Streptococcus, PRRS, PCV2, Haemophillus, Mycoplasma, Hog Kolera dan Actinobacillus.
Penyakit-penyakit ini bisa sendiri-sendiri (single) ataupun bersama-sama (multiple) menyerang saluran pernafasan. Pada babi indukan, kasus ?silent? PRRS dan MMA, lebih menonjol. Dari beragam penyakit pernafasan tersebut, PRRS harus diwaspadai karena bisa memicu timbulnya penyakit lain serta menurunkan ketahanan dan pertahanan tubuh.
Boleh dibilang PRRS adalah biang keladi pemicu munculnya kasus-kasus penyakit di kandang. Kerap terdengar peternak yang mengeluhkan ternaknya sering kena penyakit dan sulit diobati. Bila ini yang terjadi, disarankan untuk juga melakukan pemeriksaan tes diagnostik dengan pengiriman sampel darah guna memperkuat peneguhan diagnosa. Atau bisa juga dilakukan pemeriksaan awal dengan bedah bangkai (nekropsi) dan mendeteksi gejala-gejala klinis.

PRRS
PRRS adalah penyakit viral yang menyerang organ saluran reproduksi pada babi indukan dan saluran pernafasan pada anak babi. Pada induk bunting tua, bisa terjadi lahir prematur pada usia 105 - 107 hari dari yang semestinya 114 hari. Sementara kasus stillborn (keguguran), mummifikasi (janin mati dan mengeras) dan anak babi lahir dalam kondisi sangat lemah, bisa menyebabkan kematian hingga 50%.
Sering juga didapati keguguran di kebuntingan akhir. Kematian pada anak babi sapihan (weaner) umumnya terjadi akibat komplikasi dengan Mycoplasma. Pada babi pembesaran (grower) mengalami hambatan untuk pertumbuhan, sehingga pencapaian berat ideal babi potongnya menjadi lebih panjang dengan ADG (pertumbuhan harian rata-rata) berkurang sebesar 12%.
Virus PRRS termasuk dalam family Arteriviradae, genus Arterivirus. Target sel yang dirusak pada jaringan limfoid dan paru-paru adalah PAM (Porcine Alveolar Macrofag). Di PAM ini terjadi replikasi dan proliferasi virus. Di dalam darah virus bertahan lebih lama, gejala penyakitnya bersifat subklinis dan persisten bisa lebih dari 200 hari. Infeksi PRRS tidak bersifat menekan sistem kekebalan (non immuno-supressive), tetapi merusak mekanisme pertahanan tubuh di paru-paru.
Sementara penelitian lain menyebutkan, kontrol infeksi PRRS bisa berupa perbaikan manajemen (All in-All Out system), depopulasi, biosekuriti, breeding aklimatisasi dan vaksinasi. Vaksinasi adalah hal utama untuk pencegahan PRRS, karena proteksi yang dihasilkan lebih konsisten dan bertahan untuk durasi yang lebih lama (3 - 4 bulan).

Vaksinasi dan Stabilisasi PRRS
Pertimbangan penerapan vaksinasi bisa dengan melihat kondisi sekitar perkandangan. Jika kandang negatif tetapi berada di lokasi yang padat perkandangan (seperti di Solo dan Salatiga) sangat dianjurkan untuk melakukan vaksinasi. Jika kandang positif  atau terletak di daerah yang sangat berisiko (seperti di Medan), vaksin PRRS sangat tepat untuk diaplikasikan.
Sedangkan babi yang negatif, tetapi berada di kandang positif, akan mudah terinfeksi dan menjadi sumber penyebaran dan perkembangbiakkan virus selanjutnya. Dan jika berada di lokasi yang terisolasi dan tidak ada risiko untuk tercemar tidak disarankan untuk vaksinasi
Jika melakukan vaksinasi, haruslah dilakukan vaksinasi di seluruh populasi di kandang (Whole Herds Program). Tujuannya adalah tidak memberikan peluang virus untuk hidup dan berkembang biak dan diharapkan setiap individu memiliki status kekebalan yang sama. Program massal yang dianjurkan adalah di setiap induk/dara dan diulangi satu bulan kemudian sebagai booster.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi September 2010