Agri Ternak
01 December 2010
Bibit Sapi Unggul Ala Indonesia

Investor asal Australia mulai melirik bisnis pembibitan sapi di Indonesia

Peternakan sapi khususnya pembibitan di Indonesia mulai diramaikan investor asing. Baru-baru ini telah hadir investasi usaha pembibitan sapi jenis red wagyu yang berlokasi di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Investasi pembibitan senilai US $ 15 juta ini merupakan kerjasama antara PT Sijiro International dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Perusahaan ini akan memproduksi semen beku, embrio, pembibitan, dan penggemukkan sapi red wagyu untuk pasar ekspor, dalam pengelolaannya menggandeng 4 perguruan tinggi yaitu Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, dan Universitas Diponegoro.
Menurut Direktur PT Sijiro International, Robert Murdoch, Indonesia tidak bisa terus menerus jadi importir sapi dan suatu saat harus bisa produksi sendiri. “Dengan kegiatan ini, kita bantu pemerintah dengan mencoba paradigma baru agar nilai ekonomis bisa langsung dirasakan peternak. Apalagi kesempatannya terbuka dan pemerintah daerah menyambut baik untuk kerjasama,” ujar Robert kepada TROBOS beberapa waktu lalu.
Robert beralasan, pengembangan red wagyu ini karena profitabilitasnya (keuntungannya) tinggi dan dalam jangka panjang sangat menguntungkan, serta cocok dikembangkan di daerah tropis. Kegiatan yang menggunakan lahan sekitar 13 hektar ini pun untuk menghasilkan bibit unggul yang akan berkembang dan diturunkan dari jenis red wagyu.
“Diharapkan jika disilangkan dengan sapi lokal pada saatnya nanti akan muncul bangsa baru yang lebih unggul sebagai Indonesian red wagyu. Jika kegiatan ini berjalan, dalam waktu 10 tahun Indonesia bisa punya red wagyu paling banyak di dunia dan Jawa Tengah bisa menjadi sentra produksi sapi red wagyu dan silangannya di Indonesia,” jelasnya optimis.
Robert mengungkapkan, pihaknya akan mendatangkan induk sapi red wagyu murni sekitar 300 ekor dan 70 % diantaranya adalah induk betina. Sapi tersebut didatangkan dari mitranya di Australia yang telah berpengalaman sebagai pembibit sapi red wagyu. “Dalam waktu dekat ini akan didatangkan 40 ekor sapi red wagyu, masing-masing 20 ekor jantan dan 20 ekor betina,” katanya.
Ia mengkalkulasi, jika di Jawa Tengah ada sekitar 200 ribu ekor betina produktif, diperkirakan dalam waktu 5 tahun akan bertambah populasi sekitar 3,5 juta ekor. “Kita akan terbuka dengan peternak yang mau kerjasama mengembangkan red wagyu ini. Kerjasama ini sifatnya sukarela. Setelah menjadi mitra, peternak akan diberikan pendampingan teknis dari mulai produksi sampai pemasaran,” ungkapnya.
Melalui kegiatan pemberdayaan peternak ini, lanjut Robert, diharapkan bisa meningkatkan kualitas sapi potong milik peternak dari segi produksi dan reproduksi. Bahkan bisa membantu menyelamatkan betina produktif yang akan dipotong. “Kita prihatin, sapi betina produktif yang dipotong tiap tahunnya masih tinggi sekitar 200 ribu ekor. Kita bantu pemerintah untuk meminimalisirnya dan juga memperbaiki kualitas betina afkir,” terangnya.

Kembangkan Lewat ET
Dalam kegiatannya, sapi betina afkir ini akan digarap sebagai recipient (penerima) melalui penggunaan teknologi embrio transfer (ET). “Kita akan selamatkan sapi betina afkir dengan memperbaiki kualitasnya agar bisa bunting kembali lewat ET atau IB (Inseminasi Buatan). Dengan demikian, peternak pun bisa terbantu dalam meningkatkan kesejahteraannya,” harapnya.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Desember 2010