Agri Ternak
01 February 2011
Desa Mandiri Energi dengan Biogas Sapi

Penggunaan biogas dari kotoran sapi bisa menghemat energi, pengeluaran, dan mengurangi pencemaran lingkungan khusunya bagi masyarakat pedesaan

Diah Ismawati sore itu tampak mau memasak air untuk mencuci ambing sapi yang akan diperahnya. Ia memutar kran dari pipa paralon dan menyalakan kompor dengan menyulut sebatang korek api. Api berwarna biru pun keluar dari kompor tersebut.
Kompor yang dinyalakan ibu rumah tangga dan juga peternak di Desa Haurngombong Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang Jawa Barat itu bukanlah berbahan bakar gas elpiji atau minyak tanah melainkan dari kotoran sapi yang dipeliharanya. Dengan instalasi biogas yang dibuat sederhana di kandangnya, kotoran sapi yang mengandung gas metan (CH4) itu diubah menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan.
Menurut perempuan yang memiliki 8 ekor sapi perah itu, penggunaan bahan bakar biogas dari kotoran sapi bisa menghemat pengeluaran pembelian minyak tanah atau gas elpiji. ?Dulu harus ada pengeluaran untuk pembelian bahan bakar gas sekitar Rp 85 ribu per 2 bulan tapi sekarang sudah tidak lagi sehingga dengan adanya instalasi biogas ini sangat bermanfaat bagi ibu rumah tangga,? ungkap Diah kepada TROBOS saat ditemui di peternakannya beberapa waktu lalu. 
Perempuan yang sudah memanfaatkan kotoran sapi untuk biogas sejak 2003 inipun terkadang menggunakan biogas untuk penerangan apalagi kalau listrik dari PLN mati. ?Biogas menjadi bahan bakar yang bisa dikonversi genset untuk menyalakan alat elektronik dan beberapa lampu. Memakai listrik dari biogas ini bisa menghemat penggunaan listrik PLN sekitar Rp 40 ribu per bulan,? jelas Diah.

Sudah Memasyarakat
Penggunaan biogas dari kotoran sapi ini sudah memasyarakat di desa yang memiliki populasi sapi perah sekitar 800 ekor dengan 270 peternak itu. Tiap peternak rata-rata memiliki 3 ? 5 ekor sapi bahkan ada yang 20 ? 30 ekor sapi perah. Desa Haurngombong sudah menjadi rujukan percontohan nasional bagi daerah lain yang ingin membuat instalasi biogas yang ditandai dengan banyaknya yang berkunjung seperti Sulawesi, Lampung, Kepulauan Riau, Bangka Bitung, Banten, Semarang, Jogjakarta, dan desa sekitar.
Sampai awal 2011 di Haurngombong sudah ada 170 instalasi biogas yang terdiri atas instalasi dengan tembok 8 buah, fiber 120 buah, dan plastik 140 buah. ?Dari total 1500 KK (Kepala Keluarga), 400 KK di antaranya sudah menggunakan instalasi biogas,? jelas Kepala Desa Haurngombong, Adang.
Adang menerangkan pembuatan instalasi biogas ini merupakan inisiatif untuk memanfaatkan kotoran sapi yang awalnya dianggap hanya mencemari lingkungan karena bau dan mengundang lalat. Dan puncaknya, ketika minyak tanah sulit didapat dan harganya mahal, masyarakat ramai?ramai membuat instalasi biogas ini. 

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Februari 2011