Agri Ternak
01 February 2012
Mini-Korporat, Manajemen Kelompok Peternak Sapi Potong

Memodernisasi organisasi kelompok peternak sapi dengan manajemen korporat.

Manajemen semi-profesional yang dikembangkan Rahmat di kelompok Lembu Sari yang beralamat Gandrung Mangu, Cilacap, Jawa Tengah, berbentuk selayaknya mini korporat. Pengelolaan on farm 100 % dilakukan oleh manajemen yang berbeda dengan kepengurusan kelompok. Mereka terdiri seorang manajer (dijabat oleh Rahmat) dan 4 orang penanggungjawab, terdiri dari penanggung jawab kandang, pakan jerami, pakan konsentrat, dan ekspedisi (transportasi kulakan bakalan  dan penjualan sapi).

Manajemen Lembu Sari ini sebanyak 8 orang (termasuk penanggung jawab), 4 orang masuk kerja saban hari, sedangkan 4 lainnya hanya insidental. Mereka diupah dari sebagian penjualan pakan konsentrat, rata-rata Rp 30 ribu/hari. Sedangkan manajer mendapatkan hasil dari trading dan marketing sapi yang keluar-masuk ke kelompok.

Kelompok Peternak Sapi Potong Lembu Sari sebenarnya berdiri sejak tahun 1990-an, namun waktu itu masih dikelola secara ‘apa adanya’. Hingga akhirnya pada 2008 tampil menjadi manajer kelompok, Rahmat SPt, penerima program Sarjana Membangun Desa (SMD) berbasis Sapi Potong. Rahmat kemudian mengumpulkan anggota Lembu Sari dan mengembangkan konsep baru ini untuk khusus sapi-sapi yang diperoleh dari program SMD senilai Rp 363 juta.

Selain itu sebagian anggota kelompok juga masih memelihara sapi sendiri di rumah masing-masing, karena sudah tradisi. Kepeloporannya dalam mengkonsep manajemen kelompok ini mengantarkan Rahmat meraih predikat SMD berprestasi tingkat Nasional yang diterimanya pada Penas (Pekan Raya Nasional) di Tenggarong Kalimantan Timur 2011.

Terima Bersih
Menurut Rahmat, peternak anggota kelompok Lembu Sari menerima keuntungan bersih dari pihak manajemen. Mereka sama sekali tidak terlibat dalam pengelolaan ternak sehari-hari. “Mereka hanya menengok keadaan kandang, pakan, dan sapi-sapinya. Kemudian kalau ada yang mereka rasa perlu dibenahi mereka akan mengusulkannya kepada pengurus atau manajemen,” tuturnya. Biasanya mereka menengok sapi-sapi milik kolektif itu sekalian membeli pakan konsentrat untuk sapinya yang dipelihara di rumah.

Pada ‘panen raya’ Idul Adha lalu kelompok ini berhasil membukukan keuntungan bersih yang dibagikan kepada anggota sebesar Rp 30 jutaan, dari penjualan 20 ekor sapi. “Anggotanya ada 25 orang, jadi seorang mendapatkan sekitar Rp 1,2 juta,” ungkapnya. Modal yang seharusnya untuk membeli bakalan kembali, kini terpaksa dialihkan untuk produksi pakan konsentrat.
.

Pengelolaan Konsentrat
Kini manajemen Lembu sari mengalihkan sementara modal pembelian bakalan untuk produksi konsentrat. Konsentrat ini dijual untuk melayani permintaan dari luar kelompok bahkan luar daerahPengalihan modal pembelian bakalan  untuk produksi konsentrat dilakukan karena melihat tingginya permintaan dari luar yang mencapai 20 – 30 ton per bulan (setara 80 % dari total produksi konsentrat) senilai lebih dari Rp 75 juta. Jumlah “Keuntungannya antara 10 – 15 % per kg, tergantung komposisi dan harga bahan baku yang digunakan saat itu,” kata Rahmat. Sehingga pengalihan ini juga tak berarti menghilangkan kesempatan anggota untuk menerima keuntungan. 

Bahan baku dan produk konsentrat jadi yang ada di gudangnya mencapai nilai Rp 100 juta per bulan. ”Setiap hari mencampur 1 - 2 ton, caranya masih manual,” kata Rahmat. Pakan konsentrat Lembu sari ini dipasarkan hingga Pangandaran, Ciamis, Banjar Patoman, Cilacap, Purwokerto, dan Ajibarang.

Selengkapnya baca majalah Trobos edisi Februari 2012