Agri Ternak
01 February 2012
Liku ? liku Perijinan Produk Olahan Susu

Sebagai produk pangan yang high risk dan perishable (mudah rusak), pengolahan susu sesederhana apapun didaftarkan ke BPOM Pusat

Raut wajah kecewa tak dapat disembunyikan Danang Iskandar, Ketua Koperasi Susu Warga Mulya – Jogjakarta saat menceritakan kegagalannya mengajukan pendaftaran produk susu pasteurisasi ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). “Sudah sudah di audit 2 kali, tapi tidak tembus juga,” ungkapnya.

Menurut Danang, peralatan dan tata ruang produksi susu pasteurisasi dalam kemasan cup berlabel “Susu Mulya” itu kurang memenuhi syarat. “Padahal waktu itu sudah memakai cooling unit,  pasteurizer otomatik dan cup sealer semi otomatik,” tuturnya. Ternyata tata ruang produksi dianggap masih belum memisahkan ruang bersih-kotor, belum ada  ruang transit dan belum ada pipanisasi antara ruang pasteurisasi dengan cooling unit..


Pendaftaran di BPOM Pusat
Menurut Kepala Seksi Sertifikasi Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Jogjakarta Noviera Sarasti S Farm, sebagai produk pangan yang high risk dan perishable (mudah rusak), pengolahan susu sesederhana apapun memerlukan pendaftaran sekelas MD (kode register makanan dan minuman) yang yang diajukan kepada BPOM Pusat (Jakarta), tentu dengan prosedur melalui BBPOM provinsi terlebih dahulu. “Sertifikatnya kelak juga dikeluarkan oleh BPOM Pusat, berlaku selama 5 tahun” kata Novi.

Novi menyatakan, untuk mengajukan pendaftaran produk pangan pihaknya membuka konsultasi gratis. Bahkan setelah memasuki proses pendaftaran, tim dari BBPOM akan membimbing agar persyaratan terpenuhi. BBPOM juga akan memberikan sesi simulasi audit agar proses pendaftaran ini lancar.

Tidak Mahal
Pendaftaran produk ke BPOM/BBPOM selama ini dicitrakan ‘mahal’ oleh masyarakat. Padahal, menurut Novi sebagian biaya yang dibayarkan itu untuk uji laboratorium. Novi menerangkan, untuk pendaftaran produk susu pasteurisasi diperlukan uji kualitas/komposisi  bahan baku (wajib uji protein dan lemak), uji cemaran logam berat, uji pewarna, dan uji mikroba. Uji mikroba meliputi TPC (Total Plate Count), koliform, E. coli, Salmonella, Staphylococcus aureus, dan Listeria monocytogenus.

Keseluruhan uji mikroba itu kalau dilakukan di BBPOM biayanya mencapai Rp 2.550.000. Sedangkan uji pewarna Rp 100 ribu, uji kadar lemak Rp 100 ribu, dan uji protein Rp 200 ribu. “Untuk uji logam berat, sementara laboratorium kami belum bisa melayani karena ada masalah pada peralatan. Jadi terpaksa ke Sucofindo atau laboratorium setara,”ungkap Novi.

Biaya pendaftaran perizinan sebesar Rp 500.000 per item produk. Menurutnya, kalau produsen susu pasteurisasi memproduksi aneka rasa susu, maka setiap jenis rasa harus didaftarkan, dan dianggap sebagai satu item.

Novi menjamin sertifikat akan diterbitkan 45 hari sejak berkas dinyatakan lengkap termasuk hasil audit tempat produksi, jika hasil pemeriksaan dan audit memenuhi standar. “Ada rincian lengkap prosesnya dalam surat tanda terima berkas itu. Karena kami telah menerapkan standar pelayanan ISO,” terangnya.

Buktinya Bisa
“Buktinya kami bisa tembus, izin MD itu bukan mustahil. Hanya perlu sabar dan telaten,” kata Ahmad Afaroaitum S Pt, Ketua Koperasi Susu ‘Pesat’ Banyumas. Susu pasteurisasi kemasan cup berlabel ‘Milba’ kini telah terdaftar di BPOM RI dengan nomor MD 205111001383. Proses penyusunan persyaratan pendaftaran ‘Milba’ memakan waktu hampir satu tahun sejak Maret 2010 dan sertifikat diserahkan maret 2011. “Penyusunan berkas dan persiapan audit cukup memakan waktu. Kami juga harus membenahi sistem produksi, peralatan produksi dan tempat produksi,” tutur Ahmad.

Menurut Bambang Soetikno Manajer Koperasi Pesat,  uji laboratorium seluruhnya dipercayakan kepada PT Sucofindo – Semarang karena ia merasa lebih independen dan semua  jenis pengujian dapat dilakukan di sana.

Selengkapnya baca majalah Trobos edisi Februari 2012