Agri Ternak
29 August 2012
Konsentrat Ruminansia Murah Bernutrisi

Aromanya harum dan berdaya simpan tinggi, sebab dibuat melalui proses fermentasi

 

Belum lama ini TROBOS Livestock menyambangi pabrik pakan ternak ruminansia di Bayongbong, Garut – Jawa Barat. Ditemui di kantornya, Bambang Sutarto yang pemimpin sekaligus nutrisionis pabrik berbendera Topfeed itu lantas menyodorkan konsentrat sapi perah buatannya. ”Coba dicium aromanya,” kata Bambang seolah ingin menunjukkan kelebihan konsentratnya.

Dua bungkusan kecil disodorkan Bambang. Bungkusan pertama, aromanya sangat harum. Sedangkan bungkusan kedua, aromanya tengik. Bambang lalu angkat bicara. Katanya, kedua bungkusan itu adalah konsentrat buatannya dan keduanya dibuat secara fermentasi. Yang membedakan, lanjutnya, ”Proses fermentasi dari bungkusan pertama sudah jadi. Sudah 4 hari, sehingga aroma harumnya keluar. Sedangkan bungkusan ke dua baru 2 hari proses fermentasinya. Masih tengik, nanti di hari ke-3 tengiknya hilang.” katanya. 

Bambang menyebut, proses fermentasi lah yang membedakan konsentrat buatannya dengan buatan orang lain. Tujuan difermentasi adalah agar daya simpan konsentrat lebih lama dan ada aroma harum yang disukai ternak. ”Selain itu agar bahan baku yang sulit dicerna jadi lebih mudah dicerna. Dengan demikian kerja rumen tidak akan terlalu berat. Rentetannya, pencernaan jadi lebih baik, nutrisi terserap maksimal, dan produksi meningkat,” terangnya.

Produksi dan Penggunaan
Setiap bulan Topfeed memproduksi sekitar 200 ton konsentrat. Harga yang dipatok berkisar Rp 1.600 – Rp 2.400 per kg, tergantung kualitas dan peruntukkan jenis ternaknya. Untuk konsentrat sapi perah, pelanggan Topfeed adalah koperasi-koperasi di Jawa Barat seperti di Cisurupan, Cikajang, Lembang, dan Bogor, serta kelompok-kelompok peternak sapi perah.

Kemudian konsentrat sapi potong, banyak digunakan oleh kelompok-kelompok peternak dan Sarjana Membangun Desa (SMD) di Jawa Barat. Sementara konsentrat untuk domba dan kambing, kata Bambang, ”Pemesanannya bersifat insidental. Biasanya untuk proyek-proyek dinas terkait.”              

Dalam menjual konsentratnya, Bambang tak asal menjual layaknya kacang rebus. Sebagai contoh untuk sapi potong, ia tanyakan terlebih dahulu ke calon pembeli tentang jenis sapi, rata-rata bobot badan, dan berapa lama program penggemukannya. ”Jadi harus ada diskusi dulu, agar peternak pun jelas dan untung,” lontarnya.

Terkait jumlah pemberian konsentrat, Bambang beri keterangan. Untuk sapi potong, yang berbobot 300 kg, cukup diberikan 8 – 10 kg konsentrat per hari. Hijauan tetap ditambahkan, sebanyak 4 – 5 kg per hari. Sedangkan untuk sapi perah laktasi, jumlah pemberiannya disesuaikan dengan kurva produksi susu. Bila produksi sedang menanjak, jumlah konsentrat yang diberikan adalah setengah produksi susu per ekor per hari ditambah 1 kg.

Contoh, bila produksi susu per ekor per hari 10 liter, maka pemberian konsentrat sebanyak 6 kg. ”Rumusnya begitu, diharapkan dengan pemberian konsentrat produksi susu naik,” katanya. Tapi bila produksi susu sudah menurun, pemberian konsentrat cukup setengah dari produksi susu per ekor per hari saja.

Pakan Komplit
Ambisi yang ingin segera direalisasikan Bambang adalah meluncurkan pakan komplit untuk ternak ruminansia yang dikemas di karung 50 kg. ”Saat ini pakan komplit yang kami buat sedang dalam tahap pengujian lapang. Sedang diujikan ke sapi perah dan sapi potong,” katanya. Pakan komplit ini, aku Bambang, akan berbeda dengan pakan komplit lainnya yang hanya tahan 2 hari saja. Pakan komplit buatannya mampu bertahan hingga 3 minggu. Mengapa bisa demikian, ucap Bambang setengah berbisik, ”Prosesnya rahasia. Saya belajar langsung dari orang Amerika.” Mengenai berapa harganya, kata Bambang, ia sedang mengkalkulasinya.

Artikel selengkapnya baca majalah Trobos edisi Agustus 2012