Agri Ternak
01 September 2012
Sapera, Persilangan Saanen dengan PE

Kambing Sapera mampu mencapai lama laktasi hingga 1 tahun dan postur tubuhnya lebih besar

Berjalan-jalan di kandang Multi Karya Farm (MKF) Karanganyar, terlihat kambing Sapera betina berbulu putih bersih, tubuh bulat padat, postur semampai, telinga pendek mengarah ke atas, suka mencari perhatian kepada orang yang mendekatinya, dan yang jelas ambingnya besar. “Mereka suka naik dinding kandang, dan agak genit sehingga cukup fotogenik,” kata Isnan Ali, pengelola MKFsambil tersenyum. Kambing Sapera jantan bertanduk pipih berulir ke arah belakang, sedangkan betina sebagian bertanduk lurus sedikit bengkok ke belakang.

Ali menerangkan, kambing Saanen murni berbadan kecil, betis tipis, bulu tipis, leher jenjang, dan beberapa memiliki ‘anting-anting’ gelambir pada leher di bagian bawah rahangnya. “Ada yang bilang posturnya mirip kancil, dan kalau berdiri memanjat dinding kandang bentuk tubuhnya mirip meerkat (hewan kecil dari gurun dan padang rumput Afrika),” tutur mahasiswa Akademi Peternakan Karanganyar (APEKA) ini.

Sapera F1, kata Ali, masih menunjukkan ciri antara kambing PE dengan Saanen. Badannya masih cenderung “gepeng” dan  beberapa persen anakannya masih menyisakan ciri kepala kambing PE. Sedangkan Sapera F2 biasanya lebih dekat ke ciri Saanen karena merupakan anakan dari induk Sapera F1 yang dikawinkan dengan pejantan Saanen murni. “Tapi ukuran tubuh menjadi lebih besar karena ada darah PE-nya,”kata Ali.

Bobot badan pada laktasi pertama (umur 1,5 tahun) Sapera F2 betina antara 25  – 30 kg. Pada umur 2 tahun sama F2 pejantan bisa menembus 40 - 50 kg perekor. Betina afkir yang sudah tidak produktif bisa digemukkan, hingga bobotnya bisa mencapai 40 – 60 kg.

Ciri yang paling khas dari ambing kambing Saanen maupun Sapera yang baik adalah memiliki ambing berbentuk kantong. Puting berada di samping belakang ambing, sehingga saat kambing rebah, putingtidak menyentuh lantai. Beda dengan ambing PE yang berbentuk botol terbalik dengan puting di ujung bawah. “Sehingga saat puncak produksi putingrawan kotor karena terkulai ke lantai dan rawan terinjak,”kata Ali.

Perbedaan ini berpengaruh terhadap produksi susu yang lebih banyak karena volume ambing yang besar. Selain itu, saanen/Sapera lebih jarang terkena infeksi mastitis karena ujung puting tidak menyentuh lantai, meskipun ambingnya besar dan produksinya banyak.

Total populasi kambing di MKF mencapai 212 ekor, dari berbagai umur. Sekitar 80% berjenis Sapera, sisanya saanen keturunan murni dan PE.Saat ini ada 61 ekor induk Sapera produktif di MKF. “Yang baru puncak produksi ada 10 ekor, 15 ekor menjelang beranak, dan 36 ekor menjelang dikeringkan karena sudah memasuki periode akhir kebuntingan (jelang beranak),”ungkapnya.

Menurut pemilik MKF, Habib Abdillah Anis, total produksi susu kambing rata-rata 30 liter perhari dengan kisaran 27  – 30 liter/hari. Harganya mencapai Rp 30.000/liter. “Harga untuk pemesan Jakarta bisa mencapai Rp 35.000 sudah termasuk ongkos kirim Rp 2.000 perliter.  Pemesanan luar kota minimal 25 liter per pengiriman,”kataAnis setengah promosi.

Karakter Sapera
Anis menjelaskan, kambing Saanen maupun Sapera menunjukkan produktivitas yang jauh lebih tinggi dibanding kambing PE. “Kambing Sapera mampu mencapai lama laktasi hingga 1 tahun, asal tak dikawinkan pada periode awal laktasi,”katanya. Sangat jauh dibanding PE yang hanya mampu laktasi antara 5 – 6 bulan saja, setelah itu pasti kering. Itulah mengapa – duga Anis – di luar negeri seperti Amerika dan Australia kambing yang diternakkan untuk diperah hanyalah dari jenis Saanen dan Nubian saja.

Produktivitas rata-rata kambing Sapera di MKF mencapai 2,8 liter perekor perhari. “Kalau rentangannya dari 1,3 liter/ekor/hari hingga 4 liter/ekor/hari,”terang Anis. Kambing Sapera yang berproduksi 1,3 liter perhari itu baru laktasi pertama. Anis menambahkan, kambing yang diperah hanya jenis Sapera saja. Kambing Saanen (murni) tidak diperah kecuali jika terlihat ambingnya terlalu penuh. Hal ini karena induk Saanen murni dibiarkan menyusui anaknya yang akan menjadi F1 Sapera. “Kami memiliki Saanen F1 sebanyak 6 ekor. Sudah ‘bercicit’ hingga F3,” katanya.

Dengan populasi Sapera yang kini telah mencapai 150-an ekor, Anis leluasa untuk melakukan seleksi. “Hanya kambing Sapera yang ciri fisik dan ambingnya mendekati Saanen yang akan dijadikan induk. Supaya produksi susunya banyak dan bisa efisien biaya produksinya,”papar Sarjana teknik Industri dari Universitas Islam Indonesia – Jogjakarta ini.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi September 2012