Agri Ternak
01 October 2012
Sapi Rancah Asli Ciamis

Mampu memberikan karkas lebih dari 50 % bobot hidup, sepantasnya Ciamis menjadikannya naik kelas, saingi dominasi sapi impor

Penampilannya coklat kehitaman, menyerupai sapi bali. Dan sebagaimana sapi asli Indonesia lainnya, ukuran sapi ini relatif tidak besar. Kendati demikian, sebagai pedaging, sapi yang dinamai sesuai daerah asalnya Rancah, Ciamis – Jawa Barat ini memiliki keunggulan dalam menyediakan karkas dan daging berkualitas.

Sebagaimana dikemukakan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis, Nana Supriatna, sapi rancah memberikan daging dengan nilai lebih warna yang cerah karena kandungan pigmennya tinggi. Selain itu, imbuh Nana, dagingnya lebih kesat, tidak banyak mengandung air. “Dan harganya termasuk stabil di pasaran,” tambahnya setengah promosi.

Kepala Bidang Pengembangan dan Usaha Peternakan Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis, Otong Bustomi menambahkan keterangan, sapi rancah mampu menyediakan karkas lebih dari 50 % bobot hidupnya. Sayang, belum banyak penjelasan ilmiah yang memberikan informasi genetika atau asal muasal sapi jenis ini. “Belum diketahui secara lengkap, apakah sapi ini hasil persilangan, atau termasuk jenis yang mana,” kata Otong menjelaskan.

Perdagangan Sapi Rancah
Bersama Otong, Trobos Livestock turun ke Pasar Hewan Rancah, tempat sapi-sapi diperjualbelikan, termasuk sapi rancah. Dikatakan Otong, di pasar ini tiap hari Selasa para peternak lokal menjual sapi-sapinya secara langsung ataupun melalui asosiasi pedagang. Ukuran sapi mulai dari anakan sampai sapi siap potong.

Menurut keterangan Ketua Asosiasi Pedagang di Pasar Rancah, Karwa, setiap harinya sekitar 70 ekor sapi diperjualbelikan di pasar ini. Dan sekitar 30 % diantaranya adalah sapi rancah. Sapi rancah yang diperdagangkan ini, sebagian dipelihara lagi (bakalan) sebagian lagi untuk dipotong. Ada pula betina yang diperuntukkan pembibitan.

Masih menurut Karwa, sapi betina untuk bibit biasa dijual-beli seharga Rp 5,3 - 5,5 juta per ekor. Sementara jantan siap potong harga jualnya berkisar Rp 6 – 10 juta per ekor. Untuk ukuran sapi yang dijual, para peternak dan pedagang biasanya menggunakan taksiran bobot dalam menentukan harga. "Misal sapi betina bakalan umur setahun ditaksir memiliki bobot 200 kg, dan dihargai Rp 30 ribu per kg bobot hidup, maka diperdagangkan Rp 5 – 6 juta per ekornya," jelas Karwa.

Harga daging sapi rancah, menurut beberapa peternak dan pedagang sapi setempat, cukup tinggi. Tiap kg-nya bisa mencapai kisaran Rp 75 – 80 ribu. Tetapi, pertumbuhan sapi rancah yang lebih lambat menjadi alasan banyak peternak kini lebih memilih jenis sapi lain untuk diternakkan, karena umur potongnya lebih cepat.

Menguntungkan
Sapi rancah semakin tidak populer seiring intensifnya program IB (Inseminasi Buatan) pada sapi sejak 1992, dengan jenis bibit (semen) sapi Limousine, Brahman, atau Simental yang merupakan jenis sapi-sapi impor. Dikatakan Otong, secara penampilan sapi-sapi ini memiliki postur tubuh lebih besar. Dengan waktu pertumbuhan yang lebih cepat, diasumsikan sapi-sapi ini lebih menguntungkan.

Padahal menurut Karwa, bila dihitung dengan cermat secara keseluruhan, sapi rancah tidak kalah menguntungkan. “Sapi IB” –demikian Karwa mengistilahkan jenis sapi-sapi impor— untuk memenuhi kemampuan tumbuh cepatnya peternak harus keluar modal lebih besar, utamanya pakan. Sapi menuntut banyak konsentrat, yang harganya cukup mahal. Sedangkan sapi jenis lokal seperti sapi rancah, mampu memberikan angka pertumbuhan atau produktivitas sekalipun dengan pakan biasa, seperti rumput.

Pendapat ini dibenarkan Nanang Rusmana, peternak sapi yang sudah membudidayakan sapi sejak 1985. Nanang menyodorkan hitung-hitungan, berdasarkan pengalaman dia, pakan untuk sapi IB bisa menghabiskan biaya Rp 25-30 ribu per haria. Sedangkan sapi lokal cukup dengan Rp 10 ribu per hari.

Selain itu, kata Nanang, dengan modal Rp 10 juta ia dapat membeli sapi rancah umur 6 bulan 2 ekor. Sedangkan sapi IB umur 6 bulan dia harus merogoh kocek Rp 8,5 juta. “Kalau saya punya modal Rp 200 juta, saya bisa dapat sapi lokal 40 ekor, sedangkan sapi gede mungkin hanya dapat 20-an ekor,” sebutnya. Ia menambahkan informasi, dipelihara 5 – 7 bulan, sapi IB bisa berharga di atas Rp 10 juta, sedangkan sapi kecil berharga sekitar Rp 7-10 juta.

Beternak sapi rancah, lanjut Nanang, akan meraup untung besar saat jelang Hari Raya Idul Adha. Di momen tersebut, sapi rancah menjadi primadona. “Misalnya saya pelihara 10 ekor sapi IB, saat lebaran kurban mungkin hanya laku 3. Sebaliknya sapi rancah, kalau saya punya 10 ekor mungkin bisa laku sampai 7 ekor,” tandas pemilik 50 ekor sapi ini. Masyarakat lebih memilih sapi rancah karena persentase daging lebih banyak. Karena itu, lebaran kurban biasanya dimanfaatkan peternak untuk menjual sapi rancah.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi Oktober 2012