Agri Ternak
01 October 2012
Upgrade Manajemen Pemeliharaan Babi

Peningkatan teknik budidaya menjadi harga mati apabila ingin mendongkrakperformaproduksi ternak babi

Peternakan babi merupakan industriyang berbasis pada proses biologis. Jika babi tidak sehat, efisiensi pemeliharaan akan menurun. Membicarakan ternak babi tidak hanya membicarakan soal keamanan ternak, tetapi juga keamanan manusia. Pemeliharaan ternak yang tidak sesuai prosedur dan manajemen yang baik akan memberi dampak kepada lingkungan.

Terkait hal itu maka ASA (American Soybean Association)bekerjasama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia menggelar seminar tentang manajemen produksi  babi. Acara tersebut berlangsung di  Mercure Resort Sanur (20/9). Narasumber dalam acara tersebut  diantaranya Dr Samuel Baidoo– spesialis peternakan babi dari Universitas Minnesota dan Putu Sumantra, KepalaDinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali.

Dalam sambutannya, Sumantra menjelaskan, ternak babi di Bali tidak sekadar ternak, namun sudah menjadi bagian penting masyarakat Bali. Terutama dalam menunjang kebutuhan upacara dan kegiatan adat yang banyak memanfaatkan babi sebagai komoditas utama. “Sehingga, potensinya cukup besar. Babi digunakan sebagai salah satu bahan utama dalam upacara,” ujar Sumantra. 

Ia melanjutkan,kondisi peternakan di Bali saat ini belum sepenuhnya bagus terutama soal manajemen dan pasar. “Tiga aspek di pemerintahan yang ingin kami bangun bersama masyarakat yaitu, masyarakat bisa bikin kegiatan seperti ini (seminar, red), disamping juga penyediaan infrasutruktur, modaldan regulasi. Aspek kedua yaitu aspek produksi yang meliputi manajemen. Dan yang paling menentukan adalah aspek pasar,” katanya.

Sumantra juga mengakui bahwa kondisi peternakan babi saat ini masih banyak mengalami kendala. “Kenyataan bahwa harga pakan semakin naik, sedang harga ternak menurun,” kataSumantra. Selain itu, ternak babi yang masih dipelihara secara konvensional dalam skala rumah tangga, jarang diminati investor.

Bangun Kemitraan
Meskidemikian, Bali boleh berbangga diri karena menjadidaerah penghasil bibit babi yang mampu memasok bibitdi beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa tengah, Riau, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara,hingga Papua. Selain bibit, Bali juga telah memiliki laboratorium yang menyediakan strawguna memproduksi sperma untukkeperluanInseminasi Buatan (IB/kawin suntik).  “Untuk perbaikan mutu genetikjuga telah dilakukan pencampuran darah dengan darah baru  yang berbeda keluarga,” imbuh Sumantra bangga.

Hal yang memungkinkan dilakukan untuk membangkitkan peternakan babi di Bali, menurut Sumantra harus ada sinergi antara berbagai pihak, yaitu pemerintah, investordanpeternak.  Harus ada kemitraan. Baik kemitraan pasar maupun kemitraan produksi. “Yang terjadi sekarang kan belum belum sinkron. Kemitraan produksi dilakukan, pasar dilepas,” ungkap Sumantra.

Kemitraan yang harus dibangun adalah kemitraan yang sama-sama menguntungkan. Pemilik modalatau invenstor harus membantu pemasaran daging babi yang diproduksi bersama peternak. “Mereka harus memasarkan dengan menyerap daging yang telah diproduksi dan memasarkannya ke luar Bali. Jangan dipasarkan di lokal Bali,” imbuh Sumantra.

Manajemen yang Baik
Dr Samuel Baidoo, memaparkan langkah-langkah yang bisa ditempuh dalam pengelolaan manajemen produksi babi.  Langkah-langkah tersebut merupakan prinsip dan panduan dalam upaya peningkatan performa babi. Mulai dari perencanaan manajemen kesehatan ternak yang meliputi evaluasi kesehatan ternak secara berkala, biosekuriti, rodent andpest control, prosedur desinfektan dan kebersihan.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi Oktober 2012