Agri Ternak
01 October 2012
Dilema Kualitas Pakan Sapi

Pakan sapi sebagian besar tidak sesuai standar. Persoalannya, kualitas pakan diproduksi mengikuti harga yang diinginkan peternak

Diutarakan Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Mursyid Ma’sum dalam rapat koordinasi kualitas pakan beberapa waktu lalu, perkembangan industri pakan sapi perah dan sapi potong luar biasa. Sayangnya,banyak pakan yang beredar tersebut kualitasnyatidak sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia). “Serta tidak punya Nomor Pendaftaran Pakan (NPP),” jelasnya.

Ia menuturkan,idealnyapakan yang dipasarkan kualitasnya memenuhi standar dan keamanannya terjamin. Apabilakeamanan pakandiabaikan, bukan tidak mungkin Indonesia dijadikan tempat pembuangan pakan yang tidak aman oleh negara lain. “Apalagi isu keamanan pakan sekarang sedang banyak dibicarakan,” ujarnya.

Disebutkan Junaida Ketua BPMPT (Balai Pengujian Mutu Pakan Ternak) Bekasi, tahun ini pihaknyatelah melakukan pengujian terhadap pakan konsentrat yang beredar didaerah-daerah sentra ternak potong dan sapi perah. Hasilnya banyak dari sampelyang diuji kualitasnya tidak sesuai SNI yang ditetapkan.Uji ini, tutur dia, mengacu kepada standar mutu atau persyaratan SNI(Tabel 1 dan 2).

Ditambahkan Junaida, untuk sapi perah, daerah yang diambil sampelnya adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,dan Bangka Belitung. Sampel yang diproduksi umumnya menggunakan standar KSP-4 (periode laktasi). Hasil uji pada konsentrat sapi perah non pabrikan dan pabrikan pada umumnya mengalami penyimpangan. “Dari  25 sampel hanya 4 sampel (16%) yang memenuhi standar,” terangnya.

Sementara pada sapi potong, ia menjelaskan sampel yang diproduksi umumnya menggunakan standar KSPT-1 (Periode Penggemukan). Data diolah dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Bali,Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Banten. Hasil uji pada konsentrat sapi potong non pabrikan dan pabrikan punumumnya mengalami penyimpangan.”Hanya 3 sampel (7,5%) yang memenuhi standar,dari 40 sampel,” sebut dia.

Ditambahkan Kasubdit Pakan Hijauan Dirjennakkeswan, Tri Astuti,data dari GPMT  (Asosiasi Produsen Pakan Indonesia) menyebutpabrikan pakan untuk ruminansia dengan skala besar hanya kurang lebih 1%. Sisanya, diproduksi oleh pabrik skala kecil dan menengah seperti GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) untuk sapi perah  serta kelompok–kelompok ternak.  “Untuk pakan ruminansia memang berbeda dengan pabrikan pakan unggas seperti ayam ras yang tingkat kepatuhan untuk memberi label cukup tinggi.Kami sangat concern terhadap bukti dilapangan ini,” ungkapnya.

Sosialisasi
Halimi, produsen pakan konsentrat asal Pati, Jawa Tengah mengutarakan pandangan, dilapangan peternak cenderung abai akanstandar minimal kualitas pakan. Karenaitu yang lebih diperlukan adalah sosialisasi kualitas pakan kepada peternak, tidak hanya kepada produsen pakan. “Karena usaha kita bisa berkembang ditentukan peternak, bukan pemerintah,” sergah dia.

Subiyanto, produsen pakan konsentrat asal Garut, Jawa Barat memperjelas, umumnya pakan konsentrat diproduksimengikutipermintaan harga peternak. “Misalnya, kita sudah tawarkan harga Rp 2.400 perkg, tetapi peternak minta harga Rp 1.700 perkg. Alhasilkualitas turun,”ucapnya.Ia menggarisbawahi,pemahaman kualitas pakan yang sesuai standar tidak hanya kepada produsen pakan tetapi juga peternak.

Ketua GKSI Dedi Setiadipun menggambarkan situasi serupa. Menurut dia, pakan sapi perahbelum bisa standardisasi sesuai keinginan pemerintah karena mengikuti daya beli peternak yang dipengaruhi oleh harga dasar susu. “Harga pakan berhubungan langsung dengan harga dasar susu yang diberikan  oleh IPS (Industri Pengolahan Susu-red),” jabarnya.

Pakan ternak sudah dipatokharganya, sehingga kualitasmengikuti harga. ”Kesepakatan harga ini ditentukan dalam rapat anggota,” ujarDedi.Sebagai contoh, harga pakan konsentrat selama 1 tahun ini disepakatiRp 1.700per kg. Alhasil,kualitas pakan ternak mengikuti harga tersebut. Padahalharga bahan baku fluktuatif, imbuh Dedi,sehingga kualitas pun tidak stabil.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi Oktober 2012