Agri Ternak
01 November 2012
Manajemen Pakan Kambing Sapera

Perlu manajemen pakan yang tepat untuk mendukung tingginya produksi susu kambing sapera

Sapera atau kambing persilangan saanen dengan Peranakan Ettawa (PE) memiliki produksi susu yang tinggi, hingga 4 liter/hari. Angka itu jauh lebih tinggi dari produksi kambing PE yang lebih dahulu tenar, yang rata-rata hanya 1,5 – 3 liter perhari.

Tingginya produksi susu itu, kata Habib Abdillah Anis, peternak Sapera dari Solo, menuntut keseriusan manajemen pakan peternak. “Jenis pakan, cara pemberian, kuantitas,dan frekuensinya harus tepat. Apalagi ini kambing perah, yang produksinya berkaitan dengan reproduksi,” terang pemilik Multi Karya Farm (MKF) -  Karanganyar ini.

Habib Anis, begitu ia akrab dipanggil, memberikan dua jenis pakan untuk Sapera-nya, yaitu hijauan fermentasi dan konsentrat. “Kombinasi keduanya harus tepat untuk mempertahankan produksi susu saanen yang masa laktasinya bisa sampai setahun kalau tidak segera dibuntingkan. Beda dengan PE yang hanya 6 bulan,” tutur ketua I DPD Aspekpin (Asosiasi Peternak Kambing Perah Indonesia) Provinsi Jawa Tengah ini.

Rasio Pakan
Menurut Isnan Ali, pengelola Multi Karya Farm, kambing sapera diberi pakan total (hijauan + konsentrat) sebesar 10% dari bobot badan. “Tapi dibedakan rasio konsentrat-hijauannya,”kata mahasiswa Akademi Peternakan Karanganyar ini. Kambing yang sedang kering diberi 25% konsentrat dan 75% rumput fermentasi. Kambing laktasi diberi 50% konsentrat dan 50% hijauan fermentasi.

Berbeda dengan Isnan Ali, Bangun Dioro - peternak kambing sapera asal Cijeruk Bogor memberikan pakan total untuk kambing-kambingnya antara 15–20% dari bobot badan. “Untuk yang sedang puncak produksi dengan produksi 4 liter ke atas bisa 20%. Untuk anakan calon induk malah 23%,”ungkap pemilik Bangun Karso Farm (BKP) – sapera rearing(pembesaran bibit)ini.

Dari porsi total itu, pakan konsentrat diberikan 2% dari bobot induk. Hasilnya, kambing sapera di BKF ada yang bobotnya 150 kg dengan produksi 6,3 liter/hari. “Pernah ada yang produksi 8 liter, tapi terus ambruk,”kata bangun.

Mengomentari manajemen pakan ala Bangun Dioro ini, Prof Ali Agus guru besar Ilmu Nutrisi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM)menyatakan,bisa saja terjadi karena pakan yang diberikan dalam bentuk segar sehingga kadar airnya tinggi. Selain itu, porsi konsentrat yang rendah harus diimbangi dengan pemberian hijauan yang lebih banyak. “Apalagi produksi susu kambing di BKF sangat tinggi hingga 6 liter/hari. Selama pencernaannya mampu, tidak masalah,” papar Ali Agus.

Hijauan
Bangun Dioro memberikan dua jenis hijauan, yaitu jenis rumput-rumputan (70%) dan hijauan berprotein tinggi (30%). “Terutama jenis indigofera yang kadar Protein Kasarnya (PK) 23%,”tegas anggota TNI Denmabes AD berpangkat Sersan Kepala ini.

Habib Anis memilih untuk menggunakan hijauan fermentasi untuk menghilangkan efek buruk yang sering menyertai pemberian hijauan segar. Contohnya, rumput yang terlalu muda sering membuat mencret. Begitu pula rumput yang basah terkena air hujan. Kambing sering  kembung jika memakan legum muda atau jenis tertentu. “Dengan fermentasi semua efek negatif itu hilang,” tegasnya.

Tak kalah penting, menurut Anis kasus cacingan menurun semenjak menggunakan pakan fermentasi. “Mungkin telur cacing mati karena asam dan aktivitas mikrobia,” duganya.

Menurut Isnan Ali, proses fermentasi cukup mudah dan murah. “Hijauan dicacah dengan mesin chopper, kemudian diberi campuran starter,” katanya. Setelah itu, hijauan dimasukkan ke dalam kantong plastik besar yang diikat rapat. Fermentasi dilakukan selama 21 hari.

Ali Agus menyarankan, peternak kambing perah yang sudah menerapkan teknologi pakan fermentasi sebaiknya sekalian menggunakan pakan komplit fermentasi, atau menurut istilah dia ‘burger pakan’. “Nilai nutrisi dan kecernaan hijauan maupun konsentratnya juga lagsung meningkat dalam satu langkah,”papar  Doktor keluaran Universite de Rennes  - Perancis ini.

Kata  Ali Agus pembuatan burger pakan cukup dengan 3 – 7 hari pemeraman dalam wadah tertutup rapat. Pakan komplit fermentasi yamg bagus  berbau harum bercampur asam, warna segar tidak jauh berubah dengan warna saat diracik, tidak berjamur, dan keasaman (pH) 3,5 – 4,0.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi November 2012