Agri Ternak
01 February 2013
Alfalfa, Pakan Ternak Protein Tinggi

Jenis leguminosa (kacang-kacangan) dengan kadar protein 32 % dan bisa dijadikan pakan ternak serta herbal. Sayang, bibitnya mahal karena masih impor

Tanaman alfalfa bagi beberapa peternak Indonesia bisa jadi masih asing di telinga, sebab asalnya dari wilayah subtropis. Namun saat ini, tumbuhan yang bisa dibudidayakan di wilayah tropis ini mulai dikembangkan di Indonesia.

Seperti diutarakan Sandy Setyadi, Forage Farming Spc Departemen Produksi Unit Dairy Farm, PT Greenfields Indonesia, alfalfa adalah tanaman jenis legum yang di dalamnya kaya dengan kandungan protein dan berbagai vitamin serta mineral. “Salah satu kandungan alfalfa yang dicari adalah zat anti depressant yang akan sangat berpengaruh terhadap produksi ternak,” ujarnya.

Dengan alasan tersebut di atas, dikatakan Sandy, maka alfalfa diuji coba ditanam di lahan tropis. Serta diamati proses pertumbuhannya, perawatan, panen dan kendala di lapangan saat budidayanya. “Alfalfa cocok untuk dijadikan pakan semua hewan ternak, mulai ikan, ayam, itik, babi, sapi pedaging, sapi perah,dan kelinci,” sebutnya.

Senada dengan Sandy, Panca Dewi Manu Hara Karti, Kepala Bagian Ilmu dan Teknologi Tumbuhan Pakan dan Pastura, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, tanaman alfalfa (Medicago sativa) merupakan tanaman asli timur tengah. Alfalfa merupakan jenis leguminosa (kacang-kacangan) yang mempunyai kualitas tinggi dengan kadar protein 32 %.

Alfalfa secara luas tumbuh di seluruh dunia dan digunakan sebagai pakan sapi, kuda, domba,dan kambing.“Tanaman alfalfa banyak juga dibudidayakan di Eropa, Australia, Amerika Selatan, Cina,dan Afrika Selatan,” terangnya.

Di Indonesia, lanjut  Panca, sudah ada yang membudidayakan alfalfa di daerahBaturaden (Jawa Tengah) dan Cisarua (Jawa Barat). Juga ada Nugroho Widiasmadi, seorang pembudidaya alfalfa  yang menanam di lereng Gunung Merapi.

Terkait benih alfalfa, disebutkan Panca, heritage  dan southedge perusahaan importir benih rumput dan legum mengeluarkan beberapa  varietas. Untuk heritage varietasnya seperti, genesis, pegasis, sardi 10, sardi 5, sardi 7, sardi 7 seri 2, sardi grazer, venus.  Sementara dari southedge varietasnya Queensland 11™ (Medicago sativa). “Ada dua jenis yang paling cocok ditanam di Indonesia yaitu sardi 5 dan venus, karena sudah melalui seleksi,” ujarnya.

Panca menerangkan, alfalfa seperti kacang-kacangan lainnya, nodul akar mengandung bakteri Sinorhizobium meliloti yang mempunyai kemampuan untuk memperbaiki nitrogen. Karena itu menghasilkan pakan tinggi protein. “Itu terlepas dari ketersediaan nitrogen dalam tanah,” cetusnya.

Meningkatkan Produksi Susu
Dijelaskan Panca, alfalfa utamanya  sebagai pakan  pada sapi  atau kambing perah untuk meningkatkan produksi susu. “Alfalfa diyakini  mengandung  galactagogue, zat yang menginduksi laktasi,” jelasnya.

Seolah mengiyakan Panca, disebutkan Sandy,hasil pemakaian alfalfa sebagai pakan ternak untuk sapi perah sanggup menaikkan produksi susu dan kadar Total Solid (TS)-nya tanpa menunggu 10 hari. “Sehari aplikasi langsung besok bereaksi,” ungkapnya dengan semangat.

Sedangkan dari sisi pertumbuhan, Sandy mendapat informasi dari peternak kelinci, anak kelinci yang diberi asupan alfalfa dalam bentuk hay (jerami) mempunyai pertumbuhan yang lebih bagus dibandingkan yang tidak diberi alfalfa. “Kalau untuk indukan kelinci yang diberi alfalfa hay selama masa kebuntingan, akan mempunyai anak kelinci yang relatif lebih tahan terhadap penyakit dan (Survival Rate/SR) daya hidupnya  tinggi,” ungkapnya.

Bentuk Penggunaan
Dipaparkan Sandy  aplikasi alfalfa di luar negeri lebih banyak  berupa pelet, karena dengan pelet alfalfa efisiensi pakan akan lebih terjamin. Sesuai dengan kandungan gizinya maka pemakaian alfalfa tidak bisa diperlakukan sama dengan komoditas hijauan yang lain. “Harga dasar alfalfa adalah Rp 15.000 per kgbasah jadi pemakaian alfalfa hijauan harus tepat sasaran agar produksi ternak makin bagus,” ujarnya.

Jikadalam bentuk pakan hijauan, Sandy menganjurkan bisa diberikan pada sapi sebesar 4 kilogram per harinya. Tetapi sebaiknya konsumsi alfalfa diberikan saat fase pertumbuhan (pedaging), menyusui(laktasi) atau  sakit. “Pemakaian alfalfa hanya dikhususkan pada sapi sakit, starter, dan periode produksi susu mencapai puncak,” sarannya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi Februari 2013