Agri Ternak
01 April 2013
Tantangan Penggemukan Sapi Lokal

Tak hanya masalah ketersediaan dan kualitas, tapi proses penggemukannya pun lebih sulit

Terbatasnya kuota impor sapi bakalan membuat para pelaku bisnis feedlot (penggemukan) tanah air beralih mencari sapi bakalan lokal. Pergeseran in ternyata tak mudah, hal ini ketersediaan sapi bakalan lokal terbatas, terkendala transportasi, dan harganya semakin melambung tinggi. Apalagi berbicara kualitas, keseragaman, dan standar bobot badan yang diinginkan para feedloter, sapi bakalan lokal kalah jauh dibanding sapi bakalan impor dari Australia.

Informasi itu diperoleh Trobos Livestock dari Farm Manager PT Kariyana Gita Utama, Suratno, saat dijumpai di kandang penggemukan perusahaannya di wilayah Sukabumi Jawa Barat. Perusahaan tempat Suratno bekerja terbilang bagus dalam mendapatkan sapi bakalan lokal. Dari 2 kandang penggemukan yang berkapasitas total 8.500 ekor, bisa terisi sebanyak 3.100 ekor sapi bakalan lokal. Sementara feedloter lain yang kapasitas kandangnya jauh lebih besar, mendapatkan sapi bakalan lokal setara dan bahkan lebih rendah dari yang diperoleh PT Kariyana Gita Utama.

”Itu karena kami menjaga hubungan dengan pemasok sapi bakalan lokal. Kami menyesuaikan dengan harga mereka. Meski terkadang berspekulasi, kami tetap butuh sapi bakalan lokal untuk memenuhi segmen pasar yang telah terbentuk,” terang Suratno.

Suratno mengatakan, sapi bakalan lokal yang seluruhnya berjenis kelamin jantan itu diperoleh dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan wilayah Indonesia timur. Jenisnya adalah limousin dan simmental lokal, SO (Sumba Ongole), dan PO (Peranakan Ongole). Dari jenis-jenis sapi ini, jumlah yang lebih dominan adalah limousin dan simmental lokal. ”Sebab meski pemeliharaannya lebih ribet, tapi pertambahan bobot badan hariannya lebih tinggi,” katanya.

Selain mengandalkan pasokan dari pemasoknya di daerah, kandang penggemukan PT Kariyana Gita Utama juga mendapat pasokan dari pembiakannya sendiri. ”Jumlahnya tidak banyak, paling hanya 200 ekor saja,” tuturnya. 

Sulitnya mendapatkan sapi bakalan lokal dialami oleh pemilik perusahaan feedlot PT Citra Agro Buana Semesta, Yudi Guntara Noor. Kata pria yang juga menjabat Ketua Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) ini, pebisnis feedlot membutuhkan kepastian ketersediaan sapi bakalan lokal. Yudi mengaku, saat ini per bulan ia hanya mampu mendapatkan sapi bakalan lokal sebanyak 500 – 600 ekor dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur. Sementara kapasitas kandang penggemukan yang dimilikinya sebesar 15.000 ekor. Karena itu ia berharap agar pemerintah memperhatikan jaminan ketersedian sapi bakalan lokal. ”Pelaku industri seperti kami butuh kepastian,”

Kesulitan di Penggemukan
Menurut Suratno, penggemukan sapi bakalan lokal sedikit lebih sulit. Sistem penggemukan dalam koloni sulit diaplikasikan. Sebab antar sapi akan saling berkelahi dan karena tidak dikastrasi, akan saling menaiki. Untuk itu, strategi antisipasi yang diterapkan Suratno adalah sapi-sapi tersebut dipelihara dengan cara diikat satu per satu.

Namun konsekuensinya, ungkap Suratno, kebutuhan ruang jadi bertambah. Ia memberi gambaran, dengan cara diikat, kandang penggemukan model koloni berkapasitas 6.000 ekor paling hanya bisa diisi setengah kapasitas saja. Begitu pula dengan tenaga kerja. Terang Suratno, pada sistem koloni, 1 orang tenaga kerja mampu mengawasi 100 ekor. Tapi dengan sistem diikat, 1 orang maksimum dibatasi mengawasi 30 ekor saja. Tujuannya agar kebutuhan pakan dapat diawasi dengan baik, kebersihan kandang terjaga, dan terhindar dari kecelakaan sapi di kandang seperti patah kaki karena terjerat tali ikatan dan sebagainya.

Dengan pengawasan ekstra itu, pertambahan bobot badan rata-rata harian (ADG/Average Daily Gain) dari sapi bakalan lokal di PT Kariyana Gita Utama mampu mencapai 1,1 – 1,2 kg per hari. Sedikit lebih rendah dari ADG sapi bakalan impor yang sebesar 1,3 kg per hari.  

Selengkapnya baca di Majalah Trobos Livestock Edisi April 2013