Agri Ternak
01 September 2007
Dombos Texel: Yang Bongsor dari Wonosobo

Biasanya, pejantan dengan bobot di atas 100 kg belum rela dilepas pemiliknya meski telah ditawar Rp 5 juta.

Untuk mengembangkan ternak dombos Texel ? jenis domba khas Wonosobo berbadan bongsor? pemkab Wonosobo membuat pusat pelayanan perbibitan domba kebanggaan daerah tersebut. Fasilitas itu merupakan hasil kerjasama swakelola pemkab dengan Ditjen Peternakan. Sebelumnya, pemerintah setempat bekerjasama dengan Lab. Pemuliaan Ternak  Fapet UGM-Jogjakarta melakukan riset tentang potensi dan karakteristik dombos. Dukungan kebijakan lain, Dinas Peternakan dan Perikanan setempat melarang mengeluarkan dombos Texel galur murni dan turunan yang grade I ke luar daerah.
Sementara untuk mempercepat perkembangan dan fungsi ekonomis dombos, pemerintah pusat telah mengucurkan bantuan tunai Rp 300 juta. Dituturkan Dr Ir Ali Agus DAA DEA, dosen Fapet UGM yang juga koordinator kerjasama dan konsultan pengembangan dombos, ?Bantuan itu difasilitasi oleh Fapet UGM?. Dana ditujukan untuk pengembangan dan pendampingan peternak.
Dengan alasan belum cukup banyak informasi dan belum banyak khalayak tahu tentang komoditas satu ini, TROBOS tergelitik untuk tahu lebih jauh lagi, langsung di sentra pengembangannya.

Menggerakan Roda Ekonomi
Setelah menyusuri jalan menanjak berbatu sejauh 3 km, sampailah di kampung Gesing, desa Gemblongan, kecamatan Garung, kabupaten Wonosobo. Tampak deretan gubuk berdinding gedh?k (anyaman bambu) tertutup rapat. Di tepi jalan seberang, beberapa lelaki sibuk menurunkan berkarung-karung rumput dari bak pick up tua sembari bergurau riang. Rupanya gubuk-gubuk tadi adalah kandang dombos. Kisahnya, tahun lalu sang domba menarik perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menamainya dengan ?dombos?.
?Di kampung ini, terdapat 30 kandang dombos yang rata-rata berisi 7- 8 ekor tiap kandangnya,? terang Hadi Mansyur, Kepala Desa Gemblongan. Mereka tergabung ke dalam kelompok Sumber Langgeng. ?Penduduk di sini sudah sejak dahulu memelihara dombos di rumah. Hanya saja, semenjak diberi bantuan oleh pemerintah, mulailah dibuat kandang kelompok,? imbuhnya. Bahkan, menurut lurah yang tengah mencalonkan diri lagi ini, penduduknya banyak yang nganggur jika tak piara domba saat sedang tidak ada pekerjaan di ladang.
Selain itu, dombos membantu penyediaan pupuk kandang bagi mereka. Sekretaris kelompok peternak, Syarif Abdurrohman menyatakan, saat ini dia telah membuat pupuk organik dari urin untuk tembakau dan sayurannya. ?Ikut pelatihan di Dinas Peternakan Provinsi, langsung saya praktekkan,? tuturnya.
Pakan domba yang betina dewasanya mampu mencapai bobot 80 kg ini hanya rumput dan dedaunan. Kadang-kadang saja peternak Gesing memberi kulit ketela ataupun ampas tahu. ?Rumput saja sudah bagus,? tukas Syarif. Ia pun menerapkan ?tumpang sari? dengan melepas kelinci dan marmut di kolong kandangnya untuk memanfaatkan sisa pakan. Jika diuangkan, biaya pakan 5 ekor kambingnya setiap bulan cukup dengan Rp 180 ribu.

Bernilai Jual Tinggi
Harga dombos yang menggiurkan tak urung menjadikannya primadona baru. Betina berumur 1,5 tahun harganya di atas Rp 1,5 juta. Bahkan untuk grade I, bisa di atas 2 juta.
Sementara untuk dombos jantan, harga akan jauh lebih tinggi apabila memenuhi kriteria sebagai pemacek/pejantan. Hadi Mansyur mengaku pejantan yang dimilikinya berbobot 125 kg umur 1,5 tahun, dibandrol Rp 4,5 juta.
Biasanya, pejantan dengan bobot di atas 100 kg belum rela dilepas pemiliknya meski telah ditawar Rp 5 juta. Kabarnya, Toyo S Dipo, Bupati Kulon Progo-Jogjakarta sekali waktu pernah menawar 3 ekor dombos dengan Rp 14 juta cash, tidak diberikan oleh pemiliknya. ?Kabar baiknya, pemilik galur murni enggan melepas dombanya. Peternak sadar, bahwa yang boleh dijual adalah keturunan hasil silangan,? papar Syarif sambil memberi pakan domba-dombanya.
Menurut Syarif, 6 bulan lalu kepemilikan anggota kelompoknya baru 4-5 ekor. Sekarang, banyak yang memiliki lebih dari 8 ekor. Selain karena nilai ekonomisnya, perkembangan dombos tak lepas dari iklim Wonosobo yang dingin dan daya dukung lahan sumber pakan yang melimpah.

Asal Muasal
Menurut catatan drh Bambang Supartono, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, domba Texel didatangkan oleh pemerintah RI pada 1954, sebanyak 500 ekor. Domba-domba keturunan breed Leicester longwool dan Lincoln longwool itu disebar ke empat lokasi yang berhawa dingin yaitu : Baturaden, Tawangmangu, Cikole dan Rembangan, masing-masing 125 ekor.
Sayang, domba yang pejantan dewasanya (umur 2 tahun) mampu mencapai berat 130 kg ini tidak berkembang. Pada 1957, di Baturaden populasinya tinggal 5 ekor, terdiri 1 pejantan galur murni, 1 jantan keturunan dan 3 betina keturunan. Agar tak punah, mereka dipindahkan ke Desa Menjer, Kecamatan Garung. Dari desa ini, domba berwol keriting lembut ini berkembang ke desa lain seperti Kepil, Kwadungan, dan Klowoh. Itulah sebabnya sebelum dijuluki ?dombos?, domba ini juga dikenal dengan nama domba Klowoh.
Tetapi, sementara di lokasi penyebaran awal tidak berkembang, di Wonosobo pada 2006 populasi keturunannya mencapai 7.500 ekor, 700 ekor di antaranya galur murni.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi September 2007