Agri Ternak
01 December 2007
Tanam Jagung, Peternak Untung

Ratio pendapatan per-bulannya mencapai Rp 2,1 juta

Tanaman jagung sangat mudah dibudidayakan. Tidak perlu perlakuan yang rumit. Jagung juga tidak memerlukan air dalam jumlah yang sangat banyak. Bahkan dapat ditumpangsarikan dengan tanaman lain, baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Artinya, menanam jagung di Indonesia tidak mendapat kendala berarti. Kesimpulannya, risiko investasi usaha budidaya jagung sangat kecil.
Dari sebuah analisa Usaha Bertanam Jagung Hibrida (merk dagang: BISI-16) di Blitar-Jawa Timur diperoleh ratio nilai keuntungan budidaya jagung mencapai 92,4% dibanding biaya (cost production). Dengan biaya per-hektar Rp 9.223.250,- didapat pemasukkan sebanyak Rp 17.745.000,- dengan nilai keuntungan bersih Rp 8.521.750,- (lihat tabel). Angka yang fantastis!
Penggunaan benih jagung hibrida dalam konteks investasi ini menjadi syarat mutlak untuk meraup untung. Benih jagung hibrida yang digunakan dalam analisis Usaha Tani Jagung di Blitar-Jawa Timur tersebut mampu menghasilkan sampai 9,1 ton pipil kering.  Jauh lebih tinggi bila dibandingkan benih jagung biasa.
Proses persiapan lahan hingga penjualan hasil panen jagung hibrida pipil kering berkisar antara 135 hingga 140 hari sehingga ratio pendapatan per bulannya mencapai Rp 2,1 juta. Apabila dalam satu tahun ditanam jagung hibrida sebanyak tiga kali, maka pendapatan yang bisa dikantongi dalam satu tahun mencapai 25 juta rupiah. Dengan asumsi harga jagung yang semakin meningkat, maka keuntungan diprediksi semakin besar.

Harga Terus Melejit
Selain sebagai sumber pangan kedua setelah padi, jagung juga merupakan komoditas utama bahan baku bagi industri pakan ternak. Bahkan belakangan pengembangan jagung sebagai bahan baku biofuel berkembang dengan pesat. Konsumsi jagung yang terus mengalami peningkatan utamanya untuk sektor-sektor besar tersebut akhirnya membuat harga jagung melejit. Di sisi lain, menjadikan bisnis komoditas ini menjanjikan keuntungan berlipat-lipat.
Tahun ini harga jagung dunia, versi Chicago Board of Trade (CBOT), mencapai level tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Ada dua penyebab utama melonjaknya harga jagung dunia. Pertama, tingkat produksi jagung dunia turun menjadi 690 juta metrik ton. Sebagai catatan, di 2005  produksi jagung dunia mencapai 730 juta metrik ton. Penyebab kedua, meningkatnya permintaan jagung dunia untuk bahan dasar etanol. Penurunan stok terjadi di negara-negara utama penghasil jagung seperti Amerika, China, Uni Eropa dan Brazil. Tak pelak, harga pasar jagung internasional pun membubung tinggi.
Data USDA menyebutkan, September 2007 ini harga jagung internasional ada di angka US$ 152,65 - US$ 182/ton freight on board (FOB). Sehingga untuk mengimpor jagung dari Amerika ke Indonesia, ongkos angkut (melalui laut) harus ditanggung pihak pembeli. Saat ini  ongkos angkut dari Amerika ke Indonesia US$ 105/metrik ton dan akan terus meningkat seiring peningkatan harga minyak dunia. Dengan demikian harga dasar jagung impor asal USA setelah dikenakan tarif pajak 5% dan diperhitungkan Ocean Freight Cost-nya mencapai US$ 265,28 ? US$ 296,1. Dengan kurs jual US$ yang berlaku September 2007 rata-rata sebesar Rp 9.600,-  maka harga dasar jagung dari USA ke Indonesia per kilogram sekitar Rp 2.547,- ? Rp 2.843,-.
Perhitungan harga tersebut belum termasuk biaya angkut dari pelabuhan menuju pabrik/gudang, upah tenaga angkut, biaya karantina dan lain sebagainya. Sehingga diperkirakan harga final jagung impor asal USA bisa mencapai Rp 3.000,-/kg. Harga tersebut jauh di atas harga jagung lokal yang berkisar Rp 1.800,- sampai Rp 2.100,-/kg. 

Peluang bagi Indonesia
Secara langsung atau tidak langsung, tren jagung dunia tersebut mampu menciptakan peluang investasi yang menjanjikan.
Pertama, kondisi tanah dan iklim Indonesia secara umum sangat cocok untuk budidaya jagung dan didukung masih luasnya lahan potensial yang bisa dikembangkan untuk komoditas ini.
Kedua, bergesernya konsumsi jagung dari industri pakan ternak ke industri etanol membuat negara-negara importir jagung mulai mencari alternatif negara lain sebagai sumber jagung untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Sebut saja, Malaysia membutuhkan 2,6 juta ton setiap tahun, Filipina 3 juta ton, Korea 8,9 juta ton, Taiwan 4,8 juta ton dan Jepang 16,5 juta ton. Ini merupakan peluang yang sangat menguntungkan untuk mengekspor jagung.
Ketiga, harga jagung nasional dan internasional akan terus merangkak naik seiring makin berkurangnya pasokan jagung di pasar internasional. Persaingan antara perusahaan industri pakan ternak dan naiknya harga minyak dunia yang telah menembus US$ 90 per barrel juga memicu meroketnya harga jagung dunia. Kondisi ini sekaligus memacu naiknya harga jagung di Indonesia. Dan diperkirakan, harga akan terus meningkat sampai kurun waktu beberapa tahun ke depan.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi desember 2007