Agri Ternak
01 December 2007
?Kesrimpet? Pedet & Bakalan

Perbandingan kebutuhan dan suplai yang mencapai 4:3 membuat harga pedet dan bakalan sering tidak terkontrol

Momen Idul Adha menjadi hari yang ditunggu-tunggu para peternak sapi untuk menangguk berkah laba besar dari hasil beternaknya. Sayangnya, upaya untuk mendapat berkah tersebut harus terhambat oleh langka dan mahalnya harga sapi bakalan lokal. Khusus di tanah Jawa ?pasar terbesar hewan kurban? kondisi itu sangat terasa untuk jenis sapi PO atau yang biasa dikenal sebagai sapi Jawa. Pasalnya masih terkait image, orang menginginkan sapi putih untuk dijadikan hewan kurban
Ketersediaan sapi bakalan lokal ini dirasakan semakin mengkhawatirkan, terutama bagi kelangsungan usaha fattening (penggemukan). Menurut Ilham Ahmadi, pemilik usaha fattening RESTU BUMI  Farm, Bantul?Yogyakarta, perbandingan antara kebutuhan dan suplai mencapai 4:3, sehingga sering membuat harga pedet dan bakalan tidak terkontrol. Padahal, konon peternak sapi lokal menyumbang 60% kebutuhan daging sapi nasional.
Harga sapi PO bakalan seberat 250 kg bisa mencapai Rp 21.000/kg BB hidup, sedangkan harga jual antara Rp 17.000 ? 18.000. Pemilik fattening berkapasitas 200 ekor ini mengungkapkan, dengan selisih harga Rp 3.000 - 4.000 itu pun ia masih harus jeli karena para pedagang bakalan tak mau mematok harga berdasar timbangan, tetapi sistem glondongan. Sementara untuk harga sapi bakalan crosbreed (persilangan) hanya selisih Rp 2.000/kg BB hidup, artinya Rp 19.000 ? Rp 20.000 per kg-nya.
Kondisi lebih berat lagi dirasakan oleh peternak sapi bakalan (memelihara dari pedet dan menjualnya sebagai sapi bakalan), karena harga pedet crosbreed seberat 100 kg (umur 6 bulan) harganya di atas Rp 5 jutaan bahkan  mencapai Rp 6 juta, atau lebih dari Rp 50.000,- / kg BB hidup. Harga pedet PO pada bobot yang sama pun bisa mencapai Rp 4 juta. ?Harga ini tentu memberatkan peternak sapi bakalan karena mereka masih butuh biaya pakan Rp 10.000 - Rp12.000 untuk mendapatkan tambahan berat badan 1 kg,? Ilham menuturkan.
Menurut hitungan Ilham, mereka baru bisa mendapat ?turahan? (margin) jika harga pedet dengan di bawah Rp 4 juta, dan memelihara setidaknya sampai umur 1 tahun dengan bobot di atas 250 kg/ekor. Syukur ? syukur, punya lahan pakan sendiri sehingga bisa menekan biaya pakan yang potensial bikin buntung itu. ?Kalau terbiasa bermain cepat seperti saya, uang Rp 5 juta /ekor mandeg 6 bulan itu sangat berat. Kalau mau pakai sistem siklus, modalnya jadi lebih besar dibanding usaha penggemukan,? ungkap lulusan sekolah tinggi ekonomi di Jogja ini.
Terkait kelangkaan dan tingginya harga ini, Ilham berharap perbibitan dan penyediaan bakalan dilakukan dan dikontrol penuh oleh pemerintah. ?Hasilnya dijual kepada peternak penggemuk sapi lokal seperti saya,? pintanya. Sebab, jika langkah itu tidak dilakukan sapi lokal akan segera habis dalam beberapa tahun ini.
Menurut hitungan Ilham, agar agroindustri sapi potong tetap lestari, setiap pemotongan 1 ekor sapi, harus sudah ada 3 sapi betina bunting. Angka itu didapat dari probabilitas jantan 50%, ditambah risiko gagal akibat malnutrisi dan penyakit sebesar 30%. ?Belum berpikir swasembada!? imbuh Ilham.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi desember 2007