Agri Ternak
04 January 2008
Hujan Datang, Gumboro Menghadang

Perubahan suhu dan kelembaban yang memicu stres, litter basah dan pakan lembab yang meningkatkan amonia, serta kualitas air, menjadi titik-titik pemicu gumboro di musim hujan

Musim hujan di penghujung 2007 tak hanya membawa bencana banjir dalam arti sebenarnya. Secara tidak langsung, hujan yang diperkirakan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) akan terus turun hingga Februari 2008  juga memicu ?banjir virus? di sebagian besar tempat-tempat pemeliharaan ayam. Satu dari sekian banyak virus dimaksud adalah virus Infectious Bursal Disease (IBD) atau yang umum dikenal dengan Gumboro. Contoh nyata, serangan virus ini telah memakan ?korban? di Jogjakarta pada Desember lalu. Drh Dwiharto, technical service Medion area Jogjakarta menyatakan, IBD telah menyerang broiler umur 25 hari di Piyungan. ?Kematian mencapai 10%,? ungkapnya. Kasus serupa juga terjadi di Sleman, meski lebih terkendali.
Di tempat lain di pulau Jawa, tanpa menyebut wilayah secara spesifik, serangan virus yang diindikasikan IBD, telah menyebabkan mortalitas hingga 12 % di sebuah broiler farm berpopulasi puluhan ribu ekor. Kejadian ini diungkapkan Soesilawati, Technical & Marketing Manager CEVA Animal Health Indonesia pada TROBOS beberapa waktu lalu. 
Dwiharto menyatakan bahwa di lapangan ciri ? ciri serangan penyakit ini belum ada perubahan dari tahun ke tahun. ?Biasa, diawali dengan kotoran putih, suhu ayam tinggi, bulu berdiri, gemetar dan ada bintik merah seperti garis di paha. Ciri bedah bangkainya pun masih sama,? paparnya. Jika dilakukan bedah bangkai pada ayam yang terserang IBD akan ditemukan bursa fabricius membesar dan mengalami oedema, perdarahan dan nekrosa serta limpa membesar. Bursa sering diselaputi oleh gelatin yang berwarna kuning. Selain itu, sering ditemukan adanya perdarahan berupa garis-garis (hemorrhagie) yang disebabkan adanya proses immunologis (proses aktivitas pertahanan tubuh).
Menurut Prof Charles Rangga Tabbu, pakar penyakit unggas Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, tidak adanya perubahan ciri serangan ini karena belum ada perubahan subtipe virus Gumboro di Indonesia. ?Hanya patogenisitasnya saja yang berbeda,? tandas Dekan FKH UGM ini.
Dengan ungkapan yang tidak jauh berbeda, Soesilawati yang akrab disapa Susi mengatakan IBD yang ada di Indonesia telah masuk dalam golongan vvIBDV (very virulen IBD Virus), artinya sangat patogen/ganas.
Charles menyebut, tanpa ditumpangi penyakit lain, kematian akibat Gumboro bisa mencapai 40%. ?Jika ayam pernah divaksin, paling ?hanya? 5 ? 10 % saja,? ujarnya. Sayangnya, karena sifat immunosupresif  yang menekan bahkan menghancurkan sistem kekebalan tubuh, Gumboro hampir selalu ditemukan ditumpangi penyakit lain seperti Newcastle Diseases (ND), Chronic Respiratory Diseases (CRD) , infeksi Colli, bahkan malaria unggas. ?Gumboro bisa mengikuti ataupun diikuti penyakit lain,? tandas Charles.

Penghujan, Mengapa ?
?Musim penghujan merupakan salah satu pencetus serangan Gumboro,? tutur Charles Rangga Tabbu. Ada banyak hal yang harus diwaspadai saat penghujan karena potensial mengganggu kesehatan ayam. Saat ketahanan tubuh ayam drop itulah, segala macam virus berpotensi masuk dan menginfeksi. Termasuk Gumboro, yang berpeluang menggempur kekebalan ayam hingga menimbulkan kematian.
Paling umum, saat penghujan tiba, terjadi perubahan kelembaban dan temperatur yang memicu stres sehingga menurunkan daya tahan tubuh unggas. Hujan yang mulai turun deras juga menyebabkan litter basah dan pakan lembab. Litter lembab bercampur kotoran ayam basah dapat meningkatkan kadar gas amonia sehingga mengganggu suplai oksigen bagi ayam sehingga kondisi ayam drop. Pakan yang basah dapat memicu timbulnya jamur yang mengandung mikotoksin seperti aflatoksin yang merusak organ bursa fabricius. Karena target organnya sama, maka sangat besar kemungkinan virus Gumboro pun akan masuk.
Kualitas air pun turun saat penghujan karena kebanyakan sumur di farm merupakan sumur dangkal yang dengan mudah terisi oleh air hujan yang melimpah di permukaan tanah. Padahal, air hujan di sekitar kandang potensial membawa bakteri dari kotoran yang sangat mungkin menurunkan ketahanan tubuh ayam.
Pada peternakan besar, air hujan yang leluasa mengalir antar kandang karena sistem drainase yang buruk pun tak bisa diremehkan perannya dalam memunculkan kasus Gumboro. ?Air ini sangat mungkin membawa bakteri dan virus dari satu kandang ke kandang yang lain,? urai Charles yang juga ?konsultan unggas? ini.

Tidak Terobati
Disebabkan oleh virus, ayam yang terserang IBD sederhananya tidak bisa diobati. Virus IBD merusak sel limfosit B (penghasil sel kekebalan) yang terdapat di bursa fabricius sehingga sistem pertahanan tubuh ayam menjadi lemah (mudah terserang penyakit lain). Meskipun demikian, tidaklah lantas peternak tinggal diam tanpa bisa berbuat apa-apa. ?Hal yang bisa dilakukan adalah memberikan terapi suportif agar ayam yang belum terserang virus bisa bertahan dari infeksi,? terang Puji Hartini dari Paeco Agung, perusahaan obat hewan.
Tidak jauh berbeda, Susi menyuguhkan solusi agar peternak melakukan upaya peningkatan daya tubuh ayam sehingga bisa melewati masa-masa kritisnya. ?Dengan cara ini, minimal kematian bisa ditekan,? tegasnya.
Secara teknis, dua poin utama yang selama ini diterapkan agar IBD tidak merebak di areal kandang adalah melaksanakan vaksinasi seraya tetap memperketat manajemen biosekuriti. Vaksinasi pada intinya merupakan teknik yang digunakan untuk membentuk kekebalan di dalam tubuh ayam sehingga ayam tahan terhadap serangan gumboro. Selain itu, vaksinasi dapat difungsikan untuk meminimalkan variasi tingkat kekebalan di kandang dan flocks.  Vaksinasi yang dilakukan pada ayam breeder dapat membentuk maternal antibody (MA) bagi DOC (Day Old Chick) yang dihasilkan. Sayangnya, kata Susi, meskipun vaksinasi Gumboro bukan hal baru bagi para peternak dan tenaga lapang di kandang, namun tidak jarang kesalahan teknis sederhana menyebabkan program vaksinasi tak berujung pada target yang diinginkan.

Sanitasi Yang Benar
Hal lain yang menjadi bagian utama ?benteng pertahanan? agar ayam tidak terjangkit IBD adalah biosekuriti berupa sanitasi kandang dan peralatan. ?Vaksinasi akan jebol juga kalau lingkungan ini tidak diperhatikan,? tandas Charles. Sebab, kata Charles, virus mampu bertahan di kandang selama 54 ? 122 hari pasca infeksi. Sisa pakan dan air minum yang tercemar virus pun tetap infeksius selama 52 hari.
Menurutnya, banyak orang tak benar-benar memperhatikan cara sanitasi yang tepat. Asal disinfektan disemprotkan, dianggapnya virus sudah mati. Padahal, virus ini baru akan mati jika dipanaskan pada suhu 70oC selama 30 menit. Dengan demikian, penyemprotan kandang dengan air panas harus dilakukan berulang-ulang. Bahkan, untuk kandang panggung, penyemprotan harus dilakukan dari bawah dengan pompa bertekanan tinggi yang dilengkapi pemanas air.
Desinfektan pun baru bisa membunuhnya jika terjadi kontak selama minimal 1 jam. Oleh karena itu, efektivitas desinfeksi dalam membunuh virus bandel ini amat dipengaruhi oleh porositas (kemampuan menyerap air) media dan tingkat penguapan. Kandang ayam yang pada umumnya terbuat dari bambu akan cepat menyerap cairan desinfektan sehingga permukaan yang disemprot cepat kering. Cuaca yang panas dan tiupan angin akan mempercepat penguapan desinfektan sesaat setelah disemprotkan. ?Agar hasilnya maksimal, maka penyemprotan desinfektan pun harus dilakukan berulang-ulang hingga lama kontak minimal tercapai,? Charles mewanti-wanti.
Selain disemprot, kandang harus di fumigasi (pengasapan) untuk membunuh sisa virus di area yang sulit terjangkau cairan desinfektan (jawa = ?nylempit?) seperti pada sambungan, sudut dan kerangka kandang yang bersilangan. Litter yang akan dipakai pun sebaiknya didesinfeksi dengan amonium kuartener sebanyak dua kali. Sebelum dimasukkan dan sesaat setelah dimasukkan ke kandang.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Januari 2008