Varia Ternak
01 July 2008
Kabupaten Bogor: Surplus Ternak Minus Ikan

Produksi peternakan membanggakan, sayang perikanan kurang sentuhan

Alam  sungguh  berbaik hati pada Kabupaten Bogor dengan menempatkan Gunung Gede dan Pangrango di hadapannya. Karena anugerah tersebut, kabupaten ini dialiri banyak sungai. Air meruah sepanjang tahun.
Sayang, kekayaan itu tak bisa dimanfaatkan untuk pengembangan perikanan di sana. Faktanya, untuk memenuhi kebutuhan ikan di tingkat lokal saja, kabupaten ini keteteran dan mau tak mau mesti mendatangkan ikan dari luar daerah. Rakhmat Rasyidi, kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor mengaku, untuk jenis ikan air tawar, khususnya mas dan gurame, sebagian masih harus didatangkan dari Cianjur, Bandung, Sukabumi, Tasikmalaya dan sebagian Jawa Tengah. ?Jumlahnya mencapai 19,6% dari total produk perikanan yang masuk Bogor.?
Dia beralasan, restoran-restoran yang berada di sepanjang jalur Puncak menuju Cianjur kian menjamur sehingga butuh banyak pasokan ikan. Tak sekadar itu, Kab. Bogor juga banyak mengimpor produk perikanan olahan dari daerah lain, seperti ikan asin, pindang dan kerupuk yang jumlahnya mencapai 51,8% dari total produk perikanan yang masuk ke Bogor. Sementara untuk komoditas ikan laut, seluruhnya harus didatangkan dari daerah lain karena memang kabupaten ini tak punya potensi laut. Daerah tersebut diantaranya Jakarta, Sukabumi dan Cirebon. ?Jumlahnya sekitar 28,6% dari total produk yang masuk,? sebut Rakhmat.
Bahkan lele yang menjadi komoditas andalan di kabupaten ini bersama dengan gurame dan ikan hias, tak berkembang sebesar potensinya. Setidaknya, hal tersebut membuat prihatin Suhandi, Marketing Manager PT Luxindo Internusa?pabrikan pakan apung terkemuka di wilayah Jawa Barat?saat berbincang dengan TROBOS medio Juni lalu. Pendapat itu, kata Suhandi, berdasarkan pada volume produksi lele Kab. Bogor yang hanya mampu memasok sekitar 30-40% total kebutuhan Jakarta yang merupakan pasar ikan terbesar dan  relatif dekat. ?Dari 100 ton kebutuhan lele di Jakarta, Kab. Bogor baru bisa memasok 30-40 ton saja. Padahal kemampuannya lebih dari itu,? kata Suhandi menyayangkan.
Suhandi yakin, Kab. Bogor mempunyai potensi yang lebih dari cukup untuk pengembangan perikanan budidaya. ?Daerah ini tak pernah bermasalah dengan ketersediaan air,? katanya. Keyakinan tersebut juga diamini oleh Rakhmat. Dia kemudian menyebutkan beberapa wilayah yang menjadi sentra perikanan budidaya antara lain Kecamatan Parung, Ciseeng dan Gunung Sindur untuk lele, Kecamatan Darmaga, Parung, Ciseeng dan Gunung Sindur untuk gurame dan Kecamatan Ciampea, Tenjolaya, Cibinong dan Ciseeng untuk ikan hias.

Sentra Benih Terkendala
Sementara itu bagi masyarakat perikanan, wilayah Parung dan sekitarnya sudah sejak lama dikenal sebagai salahsatu sentra perbenihan ikan, terutama untuk jenis ikan-ikan konsumsi air tawar. ?Sudah sejak dulu Bogor dikenal sebagai sentra perbenihan. Terutama untuk wilayah Parung dan sekitarnya,? ujar Suhandi.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, selama lima tahun terakhir, produksi benih ikan terus mengalami peningkatan. Bahkan sepanjang 2007, para pembenih di kabupaten ini telah berhasil memproduksi lebih dari 700 juta ekor benih ikan-ikan konsumsi air tawar. ?Sebagian besar yang diproduksi oleh para pembenih di Parung dan sekitarnya adalah jenis ikan lele,? imbuh Suhadi. Selain di Jawa Barat, benih-benih lele tersebut juga dipasarkan sampai ke wilayah Lampung.
Namun predikat Parung sebagai salah satu penghasil benih ikan lele terbesar, kini sudah mulai luntur. Pasalnya, sampai pertengahan 2008 ini, produksi benih lele di Bogor menurun drastis. Pada tahun-tahun sebelumnya kesulitan benih hanya terjadi selama 2 bulan, yaitu pada saat curah hujan sangat tinggi yang biasa terjadi antara Desember ? Januari atau Januari ? Februari. Memasuki tahun ini, kesulitan benih sudah terjadi lebih dari 5 bulan. Menurut Suhandi, kelangkaan benih lele di tahun ini membuat para pembudidaya ikan di sekitar Parung terpaksa mencari benih sampai ke Indramayu.
Lebih lanjut, pria lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB ini menjelaskan, kelangkaan benih lele ini lebih sebabkan oleh semakin tidak menentunya cuaca. ?Siang hari panas terik, malam harinya turun hujan. Begitu terus-menerus. Akibatnya benih lele banyak yang mati.?
Tak cuma masalah kuantitas, perbenihan lele di Kab. Bogor juga terkendala dengan kualitas induk yang terus menurun. Dampaknya, pertumbuhan ikan lele ketika berada pada fase pembesaran menjadi semakin tak optimal. Tak sedikit pembudidaya pembesar ikan yang mengeluh kualitas benih yang mereka terima. ?Padahal pemerintah sudah merilis induk lele Sangkuriang sebagai induk lele berkualitas, tetapi kenapa belum bisa sampai ke pembenih,? ujar Suhandi penuh gugatan.
 Menurut dia, harus ada keseriusan pemda setempat untuk membenahi masalah ini. ?Harusnya dinas perikanan bisa lebih intensif untuk mengadakan pembinaan serta penyediaan induk unggul,? kata Suhandi menuntut. Tentang hal ini, pihak dinas mengaku bahwa pemerintah telah berusaha mengupayakan yang terbaik dengan melaksanakan pembangunan balai benih ikan.

Surplus Produksi Ternak
Untungnya, kenyataan pahit di perikanan tak terjadi di peternakan. Lihat saja usaha perunggasan, meski beberapa tahun lalu sempat redup, kini sudah bisa bersinar kembali. ?Sekarang banyak kemitraan baru dan populasi juga terus bertambah, ? ujar Arwita Hapsari, Technical Service (TS) Biotek Indonesia area Bogor.
Arwita menyatakan, faktor paling kuat yang mempengaruhi hal ini adalah letak geografis Bogor yang terbilang cukup strategis. Katanya, ?Kedekatannya dengan Jakarta menjadi salah satu kunci.? Di masa depan, faktor ini pula yang diperkirakan bakal membuat bidang peternakan terus berkembang dan prospektif di kota hujan ini. Hal senada juga dikemukakan Rakhmat. Menurut dia, selain karena kedekatan dengan pasar besar, Jakarta, kondisi sumber daya alam dan dukungan beberapa perguruan tinggi yang ada di Bogor turut menjadi faktor penunjang.
Bahkan kombinasi cantik antara kekayaan alam dan pasar ini telah mengantarkan Bogor mencapai status surplus produksi. Hasilnya, tak hanya ke Jakarta, Kabupaten Bogor sukses menjadi pemasok produk ternak untuk beberapa daerah di Jawa Barat. Diantaranya, Kota Bogor, Depok, Kota dan Kabupaten Bekasi, Cianjur, Karawang, Purwakarta, Subang, Sukabumi, Kabupaten Bandung sampai Provinsi Banten. Lebih jauh lagi, sejumlah telur dari Bogor tak jarang memasuki pasar ? pasar di daerah Lampung, Palembang, Sumatera Selatan, Papua bahkan Batam.  
Sebelumnya, kabupaten Bogor tercatat telah berswasembada mencukupi bahan pangan asal hewan warganya. Hal ini tergambar dari data yang ditunjukkan Rakhmat kepada TROBOS beberapa waktu lalu. Tercatat pada 2007, total produksi ayam ras di tahun tersebut mencapai lebih dari 61 ribu ton. Terbilang berlebih kalau sekadar untuk memenuhi kebutuhan daging ayam ras yang angkanya tak lebih dari dari 16,5 ribu ton. Tak hanya daging ayam, daging sapi, susu, dan telur pun demikian.  Total produksi untuk daging sapi, susu dan telur masing ? masing sebesar 9,5 ribu ton; 9,3 ribu ton dan 34,6 ribu ton. Sedangkan jumlah kebutuhan pada saat yang sama berturut ? turut hanya 6,1 ribu ton; 1,7 ribu ton dan 14,5 ribu ton.
Meski telah mencapai surplus, menurut Agus Chandra, Supervisor Marketing PT Malindo Feedmill Tbk. kekayaan alam Kabupaten Bogor masih berpeluang besar untuk dikembangkan lagi. ?Daerah Bogor masih cukup luas untuk dikembangkan meskipun kesannya padat. Apalagi untuk pengembangan broiler,? kata Agus belum lama berselang.
Sayang, meski potensial dan masih terdapat banyak lahan pengembangan, unggas tak lagi menjadi fokus pengembangan dinas terkait setempat di masa depan. Rakhmat melalui surat elektroniknya menyebut, ?Komoditas yang bakal menjadi unggulan peternakan adalah sapi perah dan sapi potong.? Tanpa alasan rinci, Rakhmat memaparkan, sentra sapi perah kini telah ada di kecamatan Cibungbulang, Pamijahan yang merupakan Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Cisarua dan Megamendung. Untuk sapi potong sentranya di kecamatan Jonggol, Cariu dan Sukamakmur.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Juli 2008