Varia Ternak
01 August 2008
Kabupaten Bekasi: Pasar Plus Produsen di Timur Ibukota

Data dinas setempat menyebutkan populasi broiler 1,08 juta ekor, diperkirakan data riil jauh di atas angka tersebut

Tidak seperti Kotamadya Bekasi yang padat dengan menjamurnya perumahan, Kabupaten Bekasi masih memiliki banyak ruang untuk pengembangan Agribisnis peternakan maupun perikanan. Tercermin pula dalam visi kabupaten ini yang menjadikan Agribisnis sebagai basis, ?Manusia Unggul yang Agamis Berbasis Agribisnis dan Industri Berkelanjutan?. Memiliki 23 kecamatan dengan total luas 1.484,37 km2 wiliyah ini ditempati tak kurang dari 2,7 juta jiwa. Sebelah selatan dari kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor, sebelah utara dengan Laut Jawa, sebelah barat DKI Jakarta dan Kota Bekasi, serta sebelah timur dengan kabupaten Karawang.

Pasar Sekaligus Pintu Masuk
Dengan kepadatan penduduk 1.465 jiwa/km2 menjadikan wilayah ini pasar potensial komoditas peternakan. Data Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kab Bekasi Th 2006 menunjukkan angka konsumsi daging sebesar 9.852 ton atau 10 kg/kapita/th. Kebutuhan tersebut sebagian besar masih didatangkan dari daerah lain. ?Daging sapi 95% didatangkan dari NTB, NTT, Jateng, Jatim dan impor dari luar negeri?, jelas Asep Kusnadi, Kasie Keswan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kab Bekasi. Demikian halnya dengan telur ayam dan daging ayam ras meski termasuk sentra produksi broiler, namun menurut Asep kiriman dari luar Bekasi masih cukup tinggi.
Djodi Hario Seno, ketua Persatuan Peternak Unggas Bekasi (PPUB) mengakui memang terjadi hilir mudik ayam di Bekasi. Produk ayam dari Bekasi selain untuk konsumsi Bekasi sendiri, kebanyakan dikirim ke Jakarta, selebihnya dipasarkan ke Tangerang, Bogor, Banten dan beberapa daerah lain. Tetapi sebaliknya ayam dari Bogor atau Banten ada pula yang masuk Bekasi. Aktivitas tersebut terjadi alamiah dengan alasan bisnis. ?Tingkat kepercayaan pada pembeli dan pembayaran yang lancar lebih penting dibandingkan dengan jarak kirim,?  jelas Djodi.
Bekasi memang pasar yang potensial, ini diakui oleh Iman Rejawikarta, Sales and Technical Services PT Japfa Comfeed. ?Selain pasar yang besar Bekasi merupakan benteng timur Jakarta,? jelas Imam, ?produk dari Bandung, Tasikmalaya, Pantura semua masuk lewat Bekasi,? lanjutnya.
Disayangkan para peternak, tumbuhnya beberapa kawasan industri di Bekasi mau tak mau menyebabkan terjadinya banyak penggusuran kandang. Akibatnya banyak kandang beralih ke Karawang. Tak urung, kalau orang bicara perunggasan Bekasi sulit lepas dari Karawang. ?Karena kandang-kandang yang ada di Karawang sampai ke arah Cikampek kebanyakan milik orang Bekasi,? jelas Agus Purwanto, Senior Sales Executive PT Vetindo.
Sementara untuk peternakan ayam petelur di Bekasi, menurut Agus yang sudah puluhan tahun malang melintang di Bekasi, perkembangannya tidak sepesat kemajuan peternakan ayam pedaging. ?Bisa dibilang 10 tahun terakhir ini tidak ada pertumbuhan yang berarti baik dari segi teknologi budidaya maupun populasi,? komentar Agus. Djodi pun berpandangan serupa. ?Pelakunya pun tidak banyak perubahan,? Djodi mengimbuhkan.

Program Patinisasi
Untuk komoditas perikanan Bekasi memiliki beberapa sentra perikanan, seperti Tambun Utara sentra ikan gurame, Sukatani sentra ikan lele, Pebayuran sentra ikan nila, Tambun Utara dan Selatan sentra ikan hias. Tetapi produksi belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Bekasi. ?Kebutuhan lele 60% dipenuhi dari luar daerah, kebanyakan dari Indramayu,? tutur Tarya pelaksana teknis bid. Perikanan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan
Dijelaskan Tarya, pihaknya telah melakukan pembangunan Balai Benih Ikan di Cipayung Kec Cikarang Timur diikuti dengan program percontohan dan pembinaan. ?Masyarakat sudah mulai tertarik, terutama budidaya patin,? jelas Tarya. Saat ini dinas tengah mengadakan program patinisasi di wilayah Cikarang Timur meliputi luas lahan 2.500m, dengan produksi bisa mencapai 9-10 ton dalam waktu 6-8 bulan pemeliharaan.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Agustus 2008